Sensasi, Persepsi dan Stress.

Sifat individual dan sifat uniknya jelas. Oleh karena itu maka nampaklah betapa sukarnya, malahan tidak mungkinnya untuk membandingkan secara “hendak mengukur” reaksi-reaksi terhadap stimulus tadi. Dan oleh sebab itu maka dari pada kita berusaha mengukurnya adalah lebih wajar kita mencoba untuk memahaminya dengan jalan menyelami alam kalbu individu yang bersangkutan itu. . . . https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/07/03/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-31/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
psikiater,
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006 dan akan di- bukukan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry, Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Dalam membandingkan arti tanda dan simbol, maka nampaklah bahwa hanya sedikit orang saja akan berselisih paham tentang arti tanda bahaya yang oleh polisi lalu lintas dinyatakan pada papan yang memperlihatkan tengkorak kepala. Tetapi sebaliknya, setiap orang akan mempunyai tafsiran sendiri-sendiri tentang bagusnya sesuatu lukisan yang agak abstrak. Yang seorang akan suka padanya; seorang lain akan sama sekali tidak suka melihatnya; seorang lain lagi hanya bersedia meninjaunya dari satu sudut tertentu, sedangkan orang yang keempat hanya mau menganggapnya bagus jika ada satu dua syarat terpenuhi lebih dahulu. Demikian pula, maka empat pelukis yang menghadaapi satu pemandangan alam, pasti akan melukisnya secara amat individual dan berbeda-beda.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Perkataan stress sering kita dengar, akan tetapi apa dan bagaimana sebenarnya stress itu sering merupakan perdebatan para pakar. Mereka pada umumnya setuju bahwa stress dapat berupa fisik atau mental-emosional, atau social-finansial.

Yang dinamakan stress fisik adalah rangsangan pada tubuh yang akan menimbulkan rasa nyeri. Yang sering nyata dirasakan adalah rasa nyeri setelah operasi, kecelakaan atau penyakit berat. Stress fisik lainnya seperti pukulan, tendangan , hantaman, atau panas, dingin dsb pada umumnya bisa ditolerir oleh kebanyakan orang yang terlatih.

Stress mental – emosional atau social-finansial biasanya terjadi dalam suatu situasi yang tak menyenangkan yang tak dapat ditolerir oleh individu. Jelaslah bahwa stress itu melibatkan individu, situasi dan kemampuan mengatasinya. Jadi setiap individu akan berbeda dalam menilai situasi, dan berbeda dalam merasakan stress, dan akan berbeda dalam mengatasi stress.

(Yul Iskandar, 2006)

Peristiwa-peristiwa itu membuktikan kepada kita, bahwa sebetulnya juga persepsi itu dapat digolongkan menjadi dua kumpulan yang besar. Yang dimaksud ialah kumpulan persepsi yang berdasarkan aktivitas reflektorik automatik dimana manusia itu seolah-olah bertindak sebagai suatu automaton mekanik, dan kumpulan persepsi lainnya, dimana manusia sukar untuk diduga lebih dahulu secara prediktif, serta dimana reaksi-reaksi, interpretasi dan integrasi dari pada stimulus persepsional itu akan sangat individual sifatnya.
Jadi persepsi yang tergolong terakhir itu karena sifatnya integratif itu dapat dianggap sebagai suatu hasilkarya daya kreasi manusia.
Sifat individual dan sifat uniknya jelas. Oleh karena itu maka nampaklah betapa sukarnya, malahan tidak mungkinnya untuk membandingkan secara “hendak mengukur” reaksi-reaksi terhadap stimulus tadi. Dan oleh sebab itu maka dari pada kita berusaha mengukurnya adalah lebih wajar kita mencoba untuk memahaminya dengan jalan menyelami alam kalbu individu yang bersangkutan itu.
Agar supaya kita dapat berhasil dalam ihtiar ini, maka ada baiknya jika kita mengerti tentang luas variasi dari pengalaman pengalaman individual sebelumnya yang kemudian telah berhasil memacu daya kreasi individu, antara lain kita perlu ketahui mengenai pola konseptual dan pola konfigurasioanlnya dari pada alam fikiran dan alam perasaanya . Dengan perkataan lain kita harus mencoba untuk mengerti tentang existensi individual manusia itu agak supaya kita dapat memahami alam simboliknya dan alam penilaiannya.
Jadi, sekali lagi oleh karena suatu tanda mengharuskan suatu reaksi tertentu saja, sedangkan simbol memungkinkan suatu pilihan bebas, maka perlu kiranya untuk menyelami lebih lanjut tentang segala sesuatu yang lebih hakiki dari pada pengalaman-pengalaman yang mendahului atau membelakangi reaksi-reaksi terhadap tanda dan simbol itu.
Menurut ajaran psikologi asosiasi, maka dalam bidang eksperimental yang dipastikan ialah tingkah laku manusia yang sadar. Sebaliknya, menurut psikologi yang bertujuan meneliti alam kalbu (analityc psychologies), maka tingkah laku manusia itu juga banyak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan alam tak sadar.
Menurut hemat kami kedua-dua golongan psikologi ada benarnya. Manusia turut ditentukan oleh hal-hal yang terjadi sebagai stimulus di dunia sekitarnya; ini disebut sebagai rangsang lingkungan.
Ia juga dapat ditentukan oleh hal-hal yang terberi kepadanya secara keturunan atau hereditas, akan tetapi disamping itu perlu juga kita perhatikan adanya faktor ketiga yang turut mempengaruhi individu, yaitu bahwa manusia itu memiliki apa yang boleh disebut sebagai arah tujuannya (direction) dan apa yang boleh disebut sebagai arah maksudnya (intention). Oleh karena ada tujuan dan maksud itulah, maka dunia yang hendak diciptakan oleh individu itu bukanlah merupakan sesuatu yang sekedar “terberi saja (the world is not jus a giveness), tetapi merupakan sesuatu yang ada maksud tujuannya (directive intentionality), dan oleh karena itu akan menjadi hsil karya daya ciptanya.
Apakah yang menentukan bahwa suatu reaksi itu tergolong reaksi reflektorik, atau bersifat integratif yang melengkapi daya cipta individual dan tidak hanya sekedar merupakan sesuatu yang bersifat stereotypik-standardistik.
Menurut hemat kami hal ini bergantung pada apakah suatu stimulus itu dapat menimbulkan dalam diri manusia yang bersangkutan itu suatu hal yang dapat digolongkan dalam pengalaman-pengalaman (Erfahrung, ervaring) ataukah apakah stimulus itu mampu menimbulkan suatu penghayatan (Erlebnis, beleving). Dalam hal penghayatan itu maka suatu stimulus seolah-olah dapat menembus terus sampai mencapai inti atau hakekat manusia yang terkena stimulus itu.
Mendengarkan suatu kuliah tentang psikologi manusia adalah suatu pengalaman, tetapi mendengarkan pasien yang menceritakan kekejaman batin yang dialaminya karena ketidaksesuaian rumah tangganya, dalam banyak hal dapat menimbulkan suatu penghayatan tertentu tentang penderitaan umat manusia pada umumnya.
Demikian pula maka membaca suatu uraian tentang pergaulan anatara pemuda dan pemudi merupakan suatu pengalaman, tetapi apabila kita jatuh cinta pada seseorang maka biasanya hal itu jauh dari lebih daripada suatu pengalaman-sehari-hari, hal itu adalah suatu penghayatan.

Suatu pengalaman merupakan suatu tambahan adisional dari pada gudang pengetahuan kita, jadi sesuatu yang banyak bersifat intelektual. Sebaliknya suatu penghayatan biasanya merupakan suatu hal yang tidak hanya intelektual atau pun emosional saja secara tersendiri, atau pun sesuatu yang berkombinasi antara intelek dan emosi. Suatu pengahayatan merupakan suatu hal yang berdimensi baru, suatu hal yang lebih berintegrasi dari pada jumlah fakta-fakta yang menjadi unsur-unsur dari pada situasi itu.
Oleh sebab itu maka adalah sangat penting untuk mengetahui yang oleh individu dianggap penghayatan dan bagaimanaia menghayatinya, sebab lain dari pada pengalaman (yang sebetulnya merupakan kumulasi daripada fakta-fakta dan kesan-kesan) maka suatu penghayatan terutama sekalimendorong individu untuk melahirkannya keluar dalam salah satu bentuk tertentu umpamnya gubahan musik, lukisan atau syair.
Tetapi hal itu bukan bukanlah sekedar bertujuan sebagai komunikasi agar supaya dikatahui orang lain, melainkan sebenarnya merupakan komunikasi diri, jsadi suatu bentuk yang mungkin lebih tepatjikalau disebutkan sebagai monolog.
Dalam menerima pengalaman, kita hendak merubah pengalaman itu menjadi ikhtiar-ikhtiar atau tindakan-tindakan keluar, sehingga pengalaman itu dapat bermanfaat bagi orang-orang atau dunia luar. Boleh disebutkan bahwa suatu pengalaman itu selalu hendak mengamalkan diri dalam bentuk ekspresif yang dapat cocok dan bermanfaat untuk kemajuan teknologi keahlian atau keilmuan. Karena itu, maka tiap-tiap pengalaman ada prinsipnya memberikan ajakan untuk berdialog. Pengalaman yang diperoleh diluar negeri oleh sorang ahli hendaak diamalkan di ekspresikan dalam kondisi dan situasi di dalam negeri; adlah demikian penting dalam pengalaman, yaitu ikhtiar untuk menterapkannya di dunia luar.
Dalam peristiwa penghayatan maka semua peristiwa dan kejadian, walaupun mengalami transformasi dan modifikasi, tidak pernah hendak dilahirkannya keluar sebagai maksud utama ekspresif atau komunikatif. Semua penghayatan pada prinsipnya terjadi dalam diri manusia dan untuk selanjutnya tetap dalam diri manusia. Ini adalah segi monolog yang disebutkan diatas. Jika ada dialog, maka dialognya itu hanya dengan dirinya sendiri. Tak ada satu penghayatan pun yang oleh bersangkutan hendak diterapkan di dunia luar agar dapat bermanfaat untuk kemajuan teknologi keahlian atau keilmuan. Semua penghayatan hanya dimaksudkan dan ditujukan pada extensi individual manusia yang bersangkutan, dan terjadi di dalam existenxi individual itu.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: