Kultural dan simbol.

Demikian pula maka seorang dokter akan mengerti akan adanya pelbagai tanda bahaya, apabila ia menjumpai simptomatologi yang tegas seperti naiknya suhu badan secara memuncak, turunnya tekanan darah yang mendadak, dipercepatnya denyut nadi serta bertambah sesaknya pernafasan pasiennya. seterusnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/06/28/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-30/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
psikiater,
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006 dan akan di- bukukan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry, Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tidak hanya penampakkan bentuk , tetapi juga fenomena mental yang dirangsang oleh warna, turut menentukan interpretasi dan integrasi tanda itu.
Tanda palang yang berukuran sama tetapi yang diberikan gambaran-gambaran adisional, nampaknya jauh berlainan. Demikian pula maka suatu tanda palang dalam warna hijau dan dalam warna merah dengan suatu latar belakang sama (putih) masing-masing memiliki arti mental yang berlainan. Palang merah mengandung arti tempat berlindung dalam penderitaan. Palang hijau berarti usaha kesehatan setempat. Palang dalam matematika dan fisika berarti suatu penambahan positif. Palang dalam lingkungan kuburan berarti suatu keadaan mati atau istirahat akhir yang tiada terganggu. Sedang palang dalam arti religi (keagamaan) mengandung arti agama kristen.
Dengan contoh yang sederhana dan yang bersifat sangat umum ini jelaslah bahwa penampakan obyektif, senantiasa diartikan khusus oleh individu tersendiri menurut interpretasi dan integrasinya yang individual pula.
Tetapi lebih lanjut lagi penting pula kita perhatikan bahwa tidak semua individu sama mengenai soal penilaiannya. Seorang beragama kristen berlainan penilaiannya terhadap suatu tanda palang yang ada digerejanya , dari pada seorang yang bukan kristen. Oleh sebab itu, maka juga penilaian simbolik penting sekali.

Selama suatu tanda bersifat suatu signal atau signum, maka hal itu biasanya berarti adanya “cap”, yang merupakan suatu representant untuk suatu hal atau keadaan yang tertentu (spesifik), yang biasanya circum script dan singular. Tanda-tanda demikian itu dijumpai dimana-mana, dan yang paling sering tanda-tanda itu kita jumpai dalam situasi-situasi spesifik yang bisa diukur.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Arti dan makna fenomena, tanda, simptom ataupun nama pastilah berbeda-beda dari satu manusia, dengan manusia lainnya. Nama yang diberikan oleh orang tua kita, kadang-kadang tak terasa cocok dengan diri kita, maka kita mencoba mengubahnya, dan ini banyak terjadi pada kalangan pesohor. Sebaliknya orang-orang yang tahu diri mencoba mengambil nama yang telah dibuat oleh seseorang, dan diakuinya sebagi nama yang dia buat. Dalam bidang hukum nama bisa menjadi nama dagang yang dipatenkan, akan tetapi banyak dari para dokter yang tidak merasa perlu mempatenkan nama itu, karena koleganya pastilah tidak mau mengambil nama yang dibuat oleh kolega lain. Tapi tentu ada saja kolega yang tamak, yang mengambil keuntungan dari suatu nama atau simbol dengan berdalih bahwa nama itu belum dipatenkan. Akan tetapi semua orang dalam dunia kedokteran pada umumnya saling mengetahui satu sama lain, dan ada rasa malu, memamakai sesuatu kepunyaan orang lain.

Selain itu suatu kejadian yang sama misalnya sejarah, dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang. Sebagian besar dari kita menganggap bahwa kemerdekaan kita adalah hasil keringat dan peluru serta darah para pejuang melawan Belanda. Akan tetapi ada sebagian kecil memperlihatkan bahwa sebenarnya tak pernah ada peperangan besar melawan penjajah, yang ada perundingan-perundingan disertai dengan tekanan negara besar kepada Belanda.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering lupa dengan asal usul kita, malahan kebanyakan menyembunyikan asal usul, atau sebaliknya membesarkan penderitaan masa lalu. Antara Lupa , kebohongan serta mengulangi kesalahan sering terjadi pada diri kita. Apalagi bila menyangkut harga diri, atau harta, maka dicobalah mencarikan pembenaran bahwa pemberian uang atau suap bukanlah suatu korupsi, mengambil harta bukan haknya bukan mencuri. Arti suatu fenomena atau simbol berubah dengan berubahnya waktu, apalagi tanpa fakta dan bukti. Walaupun bukti telah terlihat jelas, nyatalah bahwa manusia itu pada umumnya tamak, dan suka mengambil bagian orang lain. Harimau akan puas dengan makan satu menjangan, dia akan tidur selama 16 jam, setelah perut nya kenyang. Buaya atau ular setelah menelan Babi akan tidur 2- 3 hari, akan tetapi manusia yang biasanya tamak tak akan terpuaskan hasratnya walaupun dia telah mengambil bagian hak ratusan orang lain, tanpa pernah berpikir apakah perbuatan ini benar atau salah. Fenomena ini akan dibahas dibawah ini.

(Yul Iskandar, 2006)

Dalam perjalan kita dari Jakarta ke Bandung, kita dapat menjumpai tanda bahaya, tanda tikungan dan tanda perhentian serta tanda-tanda keharusan lainnya. Sebagai seorang pengemudi mobil, dan sebagai seorang anggota masyarakat yang patuh pada peraturan negeri, maka kita dianggap akan tunduk kepada tanda bahaya itu, antara lain bahwa kecepatan mobil yang kita kendarai itu harus dikendalikan, misalnya dengan mengerem atau berganti persneleng kedua. Demikian pula maka seorang dokter akan mengerti akan adanya pelbagai tanda bahaya, apabila ia menjumpai simptomatologi yang tegas seperti naiknya suhu badan secara memuncak, turunnya tekanan darah yang mendadak, dipercepatnya denyut nadi serta bertambah sesaknya pernafasan pasiennya. Jadi, baik pengemudi mobil maupun dokter, kedua-duanya akan bertindak secara spesifik pula jika menjumpai tanda-tanda yang spesifik Mereka boleh dikatakan akan bertindak secara reflektorik automatik.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Segala sesuatu yang terjadi pada manusia, akan sampai di otak dan akan diolah disana. Jadilah otak manusia tempat dari inteligensi, personality, humanity, mental dan emosi malahan soul (sukma atau rohani).
Mitos lama mengemukakan bahwa manusia secara genetic sudah ditentukan besarnya otak, kapasitasnya, serta kemampuannya. Tak ada suatu carapun yang dapat merubah kapabilitas dan kapasitas otak. Hidup anda telah ditentukan oleh nasib. Ternyata bahwa mitos itu tidak semua benar, ternyata otakpun berkembang, kapabilitas dan kapasitas otak lebih banyak ditentukan oleh gizi nutrisi dan gizi mental. Nasib anda ditentukan oleh anda sendiri.
Mitos lama mengemukakan bahwa otak sama dengan computer, tetapi pada kenyataannya computer bukan bandingan otak, karena computer tidak pernah bisa menambah memorinya sendiri, tidak mampu berkembang dalam performance nya, tetapi otak pada saat ini dapat ditingkatkan kemampuannya baik dengan pemberian gizi nutrisi yang baik maupun dengan gizi mental.
(Yul Iskandar, 2006)

Istilah simbol agak lain artinya. Walaupun secara non diskriminastif istilah ini juga dipakai dalam arti kata tanda (seperti dalam ilmu kimia dan matematika), pada hakekatnya suatu simbol tidak hanya mewakili satu konsep atau satu paham spesifik saja. Dalam simbol terdapat beberapa konsep yang bersamaan maknanya yang terhimpun menjadi satu, tetapi namun demikian masing-masing arti itu sukar untuk diuraikan dengan kata-kata maupun untuk dilukiskan dengan satu tanda tersendiri.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Seperti telah dikemukakan diatas Kebudayaan adalah suatu simbol dari suatu cara manusia menurunkan ke keturunannya supaya jangan punah. Kebudayaan bukan hanya kesenian, tetapi kepercayaan (religius=believe), bahasa (langguage), kesenian (art), ilmu (science), adat –istiadat (habit) dll. Akan tetapi antara manusia satu dengan lainnya menimbulkan saling pertentangan, misalnya dalam simbol-simbol, dan ini bisa membuat persengketaan dan permusuhan. Siapa berani misalnya membakar gambar merah putih didepan umum. Begitu juga kata-kata, salah kata yang dipakai bisa mengakibatkan fatal dan karena kata-kata itu suatu simbol maka keadaan itulah yang paling banyak menimbulkan masalah. Siapa yang berani membawa salib di leher ke mesjid.
(Yul Iskandar, 2006)

Oleh sebab itu, maka dalam menghadapi suatu simbol pada hakekatnya kita dihadapkan kepada suatu kebebasan memilih arti dan maksud apa yang hendak kita pastikan dalam menafsirkan simbol itu. Simbol seolah-olah dapat bertindak sebagai wakil dari pada pelbagai asosiasi tetapi yang semuanya mengundang salah satu sifat dasar yang sama.

Dalam membandingkan arti tanda dan simbol, maka nampaklah bahwa hanya sedikit orang saja akan berselisih paham tentang arti tanda bahaya yang oleh polisi lalu lintas dinyatakan pada papan yang memperlihatkan tengkorak kepala. Tetapi sebaliknya, setiap orang akan mempunyai tafsiran sendiri-sendiri tentang bagusnya sesuatu lukisan yang agak abstrak. Yang seorang akan suka padanya; seorang lain akan sama sekali tidak suka melihatnya; seorang lain lagi hanya bersedia meninjaunya dari satu sudut tertentu, sedangkan orang yang keempat hanya mau menganggapnya bagus jika ada satu dua syarat terpenuhi lebih dahulu.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: