Kasus Mirna:

Kasus Mirna:
Semua kejadian ini bermula dari datangnya sopir kami yang baru, katakanlah namanya Badu, begitu Mirna memulai cerita. Badu masih saudara jauh dari suaminya. Kejadian ini terjadi dua tahun yang lalu bersamaan dengan ide untuk membuat pabrik plastic di Cilegon. Badu sebenarnya sopir yang baik dan rajin, tak rewel seperti sopir sebelumnya.
selanjutnya di :https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/06/27/kasus-mirna/

Mirna (35 tahun) seorang Wanita pengusaha dikonsulkan kepada kami oleh dokter penyakit dalam, karena disangka menderita psikosomatik dan depresi, dengan keluhan yang menonjol nyeri lambung, berdebar-debar, sulit tidur, sakit kepala. Dia juga mungkin menderita cemas yang tak jelas masalahnya, begitu kata dokter penyakit dalam. Pasien telah berobat ke dokter J (ahli penyakit dalam ) selama dua tahun, dan berbagai obat untuk mengatasi gangguan itu kurang berpengaruh.

Dia diantar oleh suaminya, Dody (47 tahun), untuk konsultasi kepada saya, seorang usahawan yang berhasil. Menurut suaminya penyakit ini baru mulai ketika mereka akan membuka pabrik di Cilegon dua tahun yang lalu. Mirna selalu mengeluh sakit kepala dan muntah-muntah, obat yang dimakannya kadang-kadang menolong, tetapi tak pernah tuntas. Mereka telah dikaruniai anak dua orang, tetapi bila penyakitnya kumat, maka semua orang dirumah itu akan kena damprat, termasuk anak, pembantu dan sopirnya, atau siapa saja yang ada didekatnya, mungkin Mirna stress dengan pembangunan pabrik plastic itu.

Mirna telah menikah selama 15 tahun. Ketika masih gadis dia jarang sakit, dan selama ini juga dia jarang mengeluh sakit, sampai ketika mereka akan mendirikan pabrik di Cilegon. Menurut suaminya sampai saat ini, ketika konsultasi dengan psikiater, Mirna tak lagi berminat pada projek pembangunan pabrik yang dipeloporinya.

Pada kunjungan pertama tak ada keterangan yang dapat diperoleh dari Mirna, selain dari keterangan suaminya. Dia banyak murung dan kurang banyak bicara, dan tak ada minat pada wawancara. Pada saat itu setelah wawancara kami berikan obat untuk 2 minggu dengan pesan untuk datang lagi bila obat telah habis.

Dalam dua minggu ini keadaanya bertambah baik, tidurnya nyenyak dan dalam, nyeri lambungnya menghilang, sakit kepala berkurang, dan dia masih diantar oleh suaminya, yang menyatakan kepuaasan dan adanya kemajuan yang berarti dari penyakit Mirna. Suaminya mengemukakan bahwa dia akan pergi ke luar negeri satu minggu lagi selama 10 hari. Kami memberikan obat lagi untuk dua minggu.

Pada kunjungan ketiga itu dia datang sendiri, kini dia sudah memakai make-up, dan sudah bisa tersenyum. Dia minta waktu agak lama karena dia mau banyak bicara dan konsultasi. Karena diluar masih ada dua psien lagi, maka saya anjurkan dia keluar dulu dan saya menyelesaikan pasien-pasien itu.

Setelah semua pasien pulang, dia masuk dan duduk dikursi, dan sebelum bicara dia mengambil sapu tangannya dan mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca, agaknya dia mau menangis tapi tak jadi.

Semua kejadian ini bermula dari datangnya sopir kami yang baru, katakanlah namanya Badu, begitu Mirna memulai cerita. Badu masih saudara jauh dari suaminya. Kejadian ini terjadi dua tahun yang lalu bersamaan dengan ide untuk membuat pabrik plastic di Cilegon. Badu sebenarnya sopir yang baik dan rajin, tak rewel seperti sopir sebelumnya.

Irvan, nama suaminya adalah pengusaha yang sukses, jadi tidak heran kalau dia sibuk ke luar kota dan luar negeri. Usahanya macam-macam, dari usaha restoran, sampai hotel dan usaha tekstil serta toko retail. Usaha yang dirancang Mirna adalah pabrik plastic yang menurut Mirna, ini adalah bahan yang akan laku dimasa depan.

Setelah 3 bulan Badu bekerja sebagai supir pribadi, dia pindah tinggal tidak jauh dari complex perumahan mewah dimana Mirna tinggal. Dia kadang kadang pulang malam lembur, sampai pukul satu malam, tapi dia tak pernah mengeluh, walaupun besoknya dia harus datang pukul tujuh. Pada waktu itu Irvan harus pergi ke Jepang menghubungi mitra nya dalam projek pabrik plastik. Perwakilan Mitra Jepang di Jakarta minta untuk mengadakan rapat, disuatu hotel berbintang, karena menurut Mitra Jepang banyak prosedur Administrasi yang harus diselesaikan sebagai perusahaan PMA. Rapat dimulai pukul delapan malam, dan baru berakhir pukul satu dini hari.

Kalau naik mobil , kata Mirna, saya selalu duduk didepan, karena saya tak tahan duduk dibelakang, sering pusing dan mual. Dengan duduk didepan dia bisa memundurkan kursi mobil dan melonjorkan diri, sehingga dia bisa istirahat atau tertidur. Ketika sampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tentunya semua anak-anak sudah tidur, begitu juga para pembantu. Pintu rumah saya bisa terbuka dengan otomatis dari mobil, begitu juga garasi mobil. Jadi saya dan suami saya dapat masuk tanpa membangunkan orang rumah, ditambah lagi dari garasi bisa langsung kekamar saya yang terletak dilantai dua, melalui tangga khusus.

Ternyata setelah sampai dirumah dan sampai digarasi, saya terbangun dari tidur saya, dan saya melihat rok saya agak terbuka sehingga betis dan paha saya yang putih mulus terlihat. Pada awalnya saya tak curiga apa-apa, tetapi ternyata Badu tidak mematikan mesin mobil, tidak mematikan AC, dan mobil tak bisa dibuka karena ditutup dengan central-lock. Ada 2-3 menit saya menunggu Badu membukakan pintu mobil, alih-alih membuka pintu mobil, dia memandangi saya dengan mata yang liar. Dia melihat betis dan paha saya, matanya terlihat menjadi liar. Saya teriak supaya pintu mobil dibuka, saya ketakutan, dan akhirnya saya teriak-teriak, akan tetapi percuma, mobil terkunci, garasi tertutup, rumah tetangga jauh, kamar anak-anak dan pembantu juga jauh dari garasi, sehingga teriakan saya tak akan terdengar.

Badu kemudian menutup mulut saya dengan tangannya, dan dengan kekerasan memaksa saya , dia mengancam saya, dia melucuti seluruh baju saya. Saya pingsan , atau tertidur dan saya sudah berada dikamar saya.

Saya ingat pada mulanya dia melucuti pakaian saya, dan meraba seluruh tubuh saya, pada mulanya saya diam saja, tak tahu apa yang harus saya kerjakan. Apakah tangan jail ini akan saya pukul atau saya elus. Ada 5-10 menit dia mengerajangi tubuh saya dari atas terus kebawah. Saya bicara baik-baik, dengan Badu untuk menghentikan kegiatannya.

Sewaktu ditempat tidur itu, saya ingin menangis, dan jam telah berdentang 4 kali artinya kejadian itu tadi telah berlangsung dua jam. Yang saya ingat adalah saya katakan supaya Badu menghentikan kegiatannya, saya katakan ini salah, ini dosa dsb. Dia malah berkata pukul saya, pukul muka saya, kalau perbuatan ini salah, pada awalnya saya menuruti apa yang dikatakannya mukanya saya pukul, tetapi tak terlalu keras, dia berkata pukul lagi, sambil dia mulai meraba –raba daerah larangan, saya mulai terangsang juga, gairah mulai naik kekepala.

Mata saya melihat jam dinding, ternyata telah pukul 4 lebih l5 menit, pada saat itu perasaan saya galau antara senang dan kesal, serta malu. Saya menangis, entah karena malu entah karena senang. Saya ingat ketika dia mulai mengerajangi serta melakukan berbagai kegiatan memalukan seperti membuka celana dalam saya, pukulan saya makin lama makin keras, tetapi itu sebenarnya karena saya melawan gairah yang makin memuncak. Makin keras saya memukul Badu makin tinggi gairah itu memuncak, dan ketika Badu mencium saya di bibir saya balas dengan ganas, malahan saya gigit bibir nya, dan untungnya gigitan itu tidak menyebabkan perdarahan. Saya malah memeluk kepalanya , kemudian saya pukul, sekali saya usap, saya makin gemetar dan makin panic.

Dalam hati saya, saya telah menikah 15 tahun belum sekalipun saya punya pikiran menyeleweng, karena sama sekali tak ada alasan untuk itu. Kehidupan financial dan sexual kami cukup baik, walaupun hubungan sexual tidak terlalu sering, karena kami sama –sama sibuk. Saya pingsan atau tak sadarkan diri, setelah seluruh badan saya gemetar dan mendidih, yang pada akhirnya harus saya akui saya belum pernah mendapatkan kejadian yang luar biasa itu, yang mungkin dinamakan multiple orgasme.

Begitulah kejadiannya, saya tak tahu mungkin Badu menggendong saya kekamar saya, dan dari jam 4 pagi itu sampai pukul 6 saya tak bisa tidur, karena bayangan-bayangan apa yang dikerjakan oleh Badu di mobil, yang tak patut saya ceritakan disini tergambar lagi. Malahan saya sambil duduk bersanggama dengan Badu, saja memukul-mukul dadanya yang bidang, dan dia mempermaikan buah dada saya. Saya seperti orang kesetanan, seperti orang marah, seperti penunggang kuda rodeo dengan tangan kiri saya memukul-mukul paha badu, tetapi badan saya dengan gemetara naik turun dengan irama yang dibuat Badu. Saya merasa berdosa, saya mulai keluar air mata, dan ketika anak saya pamit sekolah, saya tak keluar kamar sebagaimana biasanya. Saya dikamar seharian, dan kepala saya mulai sakit, dan saya muntah-muntah, karena tadi malam saya melakukan oral sex, yang dipaksa oleh Badu, yang dengan suami saya saja belum pernah dikerjakan. Perut saya terasa sakit, dan saya tak ada nafsu makan.

Selama satu minggu sampai suami saya pulang, saya tak pernah keluar rumah, berbagai pekerjaan saya kerjakan dari rumah, sambil menyuruh pegawai saya mengerjakan ini dan itu pergi keberbagai instansi.

Setelah suami saya pulang saya minta dia memberhentikan Badu. Alasannya dia tak tahu jalan dan belum begitu biasa membawa mobil mewah dan otomatis. Tapi karena Badu adalah saudaranya, suami saya mempertahankan Badu, dengan alasan dia supir baru, pantas kalau jalan-jalan di Jakarta di belum kenal betul, dan tentu membawa mobil baru perlu penyesuaian. Tentunya saya tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya saya ingin mengeluarkan Badu.

Pembuatan pabrik plastic di Cilegon, membuat suami saya sangat sibuk sekali, melihat pembangunan, dan perencanaan serta memilih mesin-mesin yang perlu untuk pabrik itu.
Pada suatu malam saya mengunjungi resepsi pernikahan pejabat tinggi, dan kami pulang agak larut, dan tentu sebagai sopir adalah Badu. Irvan sedang di Cilegon untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda dan tak sesuai dengan perencanaan. Kami baru sampai di rumah pukul 12 malam, dan seluruh rumah sudah tidur, setelah sampai di rumah, Badu membukakan pintu mobil, setelah saya keluar mobil, langsung dia menangkap saya dan dia gendong saya kekamar saya. Memang Badu fisiknya kuat. Saya marah sekali, tetapi tak berani berteriak, takut anak-anak bangun, tetapi saya pukuli dia punggungnya. Tapi mungkin dia rasakan bahwa saya mengusap-usap punggungnya, dia malah mengusap-usap badan saya.

Malam itu terjadi lagi kejadian seperti dua minggu yang lalu, tapi kini dilakukan dikamar saya. Saya mencoba supaya yang dikerjakan Badu ini adalah seolah-olah perkosaan, dan tak saya ingini, tapi tentu dia tahu bahwa saya menikmati juga apa yang dia kerjakan. Malahan kini lebih leluasa dari pada waktu di mobil.

Seperti biasa saya menyesal sekali atas perbuatan Badu, atau atas perbuatan saya, yang menikmati apa yang dikerjakan Badu, walaupun dari luar saya sepertinya marah pada dia. Hubungan badan dengan suami, seperti hubungan romantis konvensional, rutin tanpa variasi, akan tetapi cukup baik. Dengan Badu hubungan ini menjadi liar seperti kucing yang berahi, saya memukul dia, dia menangkap tangan saya, dielusnya sebentar dan kemudian dilepaskan lagi, saya pukul lagi, kami kemudian berpelukan, timbul rasa salah saya tempeleng dia, tapi kemudian saling merenggut saling mencium dengan ganas, semuanya dilakukan dengan liar, tapi menyenangkan. Dan ini bisa terjadi dalam dua atau tiga jam, sebelum kami terempas pada puncak yang berkepanjangan yang rasanya tak mau berhenti.

Ketika suami pulang saya minta lagi Badu dikeluarkan dan diganti, tapi alasan saya tak masuk akal, karena ternyata Badu mengenal dengan baik daerah di Jakarta maupun daerah –daerah pinggiran yang berkembang, selalu sopan, tidak rewel, mengerti mobil dan malahan dapat merawatnya dan dia juga mengerti mesin mobil sedikit.

Yang aneh adalah bila saya pergi ke Mal, atau ketempat-tempat arisan, yang tak resmi, siang atau malam, malahan kadang-kadang baju saya pakai agak menantang, serta rok yang pendek, atau tertutup tidak ada satu kejadian yang terjadi dan ini sudah berlangsung hampir 3 minggu.

Pada minggu ke 3 itu, suami pergi ke Jepang, mengurus pembelian mesin-mesin untuk pabrik. Saya mengadakan rapat lagi dengan mitra saya orang Jepang. Saya memakai parfum lain buatan Italia, bukan yang biasa saya pakai buatan Perancis. Saya pulang pukul dua pagi, dan saya pikir saya akan diperkosa lagi. Ternyata tak ada kejadian apa-apa. Saya malah tak bisa tidur, saya membayangkan kami bergulat dan saya pura-pura tidak suka, kami akan seperti kucing saling cakar dan saling remas, saling cium, dan hempasan-hempasan, tapi yang saya nantikan tidak terjadi, sampai pagi. Akhirnya setelah saya pikir-pikir maka saya sampai kesimpulan bahwa perkosaan terjadi karena Badu terangsangsang oleh Parfum yang saya pakai kalau saya pergi rapat atau pesta. Parfum itu buatan perancis bernama Madamme Rocheses. Parfum sangat exclusive hanya ada di kota Paris. Parfum ini sejuk menyegarkan, dan menurut kawan laki-laki saya parfum itu merangsang, dan banyak wanita yang bertanya dimana saya membeli parfum itu. Tentu saya tak memberi tahu dimana saya beli. Untuk membuktikan bahwa parfum itu penyebabnya, saya berencana malam itu saya akan ke Mal, yang agak jauh, memakai parfum itu, disamping itu saya akan memakai baju yang sangat tertutup dan celana panjang, yang tak akan memperlihatkan bentuk tubuh saya.

Saya menyuruh Badu, untuk mengantar pergi ke Mal yang jauhnya satu setengah jam perjalanan. Badu menanyakan mengapa pergi ke mal saja malam hari, jauhnya bukan main. Alasan saya di Mal itu ada Sale barang yang sangat saya inginkan. Saya tidak lupa memakai parfum itu, malahan parfum itu ‘maaf’ saya oleskan juga di sekitar kewanitaan saya. Saya berangkat pukul 7 malam, di mal itu seperti mal-mal lainya banyak orang lalu lalang, tapi mata lelaki tak lepas pada saya. Saya hanya jalan-jalan, masuk kafe dan beli barang di suatu toko supaya kelihatannya saya benar mencari suatu barang. Puikul setengah sebelas mal itu akan tutup, dan dengan menjinjing barang saya memanggil Badu dengan Car Call.

Seperti biasa saya duduk didepan, tapi saya tak tertidur mata saya memperhatikan Badu, ternyata dia agak gemetar, dan sebentar-sebentar melirik saya yang pura-pura tidur. Tapi seluruh tubuh saya tertutup rapat, jadi mata nakal itu tak bisa melihat bagian tubuh saya kecuali muka saya.

Ketika sampai dirumah , tengah malam, saya pura-pura tidur, dan Badu membukakan pintu mobil. Saya keluar dan dengan sigap dia merangkul saya untuk mengendong saya kekamar saya. Saya merasa berhasil, mengetahui rahasianya, maka saya kini tak memukul mukul lagi punggungnya, malahan saya menarik mukanya dan saya yang agresif mencumbunya. Kami bercumbuan ditangga rumah. Saya melepaskan baju saya dengan cepat dan melemparkan baju itu kelantai, dan celana Badu saya buka dan saya tarik sehingga dia hanya memakai celana dalam. Dan benar saja dia mencium parfum itu didaerah terlarang saya. Dia melakukan apa saja pada saya ditangga itu, dan ini bukan lagi perkosaan tapi sudah perselingkuhan. Tapi seperti biasa kami kerjakan tidak dengan romantis, tapi secara kekerasan, dan inilah barangkali yang membedakan persebadanan saya dengan suami yang konsevatif dan monoton, tapi dengan Badu, dilakukan dengan sangat vulgar, dan mendebarkan. Kaki saya ke- duanya saya angkat dan dia berdiri menopang saya dan kami bersanggama sambil Badu berdiri, dan kedua kaki saya kedinding tangga, sedangkan tangan saya menarik-narik rambutnya sambil sesekali kami berciuman dengan ganas.
Aktivitas ini berjalan hampir dua jam, dan akhirnya setelah kelelahan, saya naik keatas kekamar saya, Badu turun, dan pulang dengan motornya.

Setelah itu saya baru bisa tidur nyenyak, tapi paginya saya menyesal setengah mati, kepala saya sakit, saya mual dan muntah-muntah, tidak ada nafsu makan. Saya dibawa ke dokter penyakit dalam, diberi obat, tapi penyakit saya tak berkurang. Saya sering pingsan melihat suami yang telah saya hianati. Karena saya sakit, maka suami tidak pernah lagi menyentuh atau mencumbu saya. Saya kasihan tapi juga membencinya karena dia tak mengerti apa yang saya mau. Pemberhentian Badu sudah tak terpikirkan, tapi saya marah dan menyesal pada kelemahan diri saya sendiri. Saya sering murung dan gelisah, mana suami tambah sibuk karena pabrik hampir selesai. Saya malah jadi kesepian, saya ingin suami mendampingi saya, setiap hari, tapi ini tak mungkin.

Saya menjadi kacau, dan gilanya kalau saya gelisah dan kesepian saya pergi malam hari dan memakai parfum itu, dan pulangnya tengah malam, lalu kita melakukan hal-hal terlarang lagi, Badu menikmatinya, dan sayapun sebenarnya sangat –sangat menikmati keadaan itu. Berkali-kali saya ingin mengakiri masalah ini, tapi ternyata tak bisa. Saya menginginkan Badu diberhentikan, malahan Badu dinaikkan gajinya, dia tak pernah rewel dan cerewet. Selama 1 bulan ini suami saya ada dirumah terus. Saya malahan bingung karena impuls sex yang kasar datang terus dalam otak saya. Saya tak mungkin pergi malam, karena ada suami. Suatu hari saya ada akal, siang hari saya memakai parfum Rocheses, dan meminta Badu mengantar saya untuk menonton di bioskop P. Badu heran karena saya tak pernah nonton di Bioskop, apalagi bioskop P bukanlah bioskop terkenal, dan filmnya juga sudah agak lama. Saya memakai parfum itu selain ditempat biasa, juga didaerah pribadi kewanitaan saya.

Ketika masuk bioskop ternyata sepi sekali, ada 3 pasangan duduk ditengah. Kursi paling belakang kosong. Lima menit setelah fim diputar ternyata Badu masuk ke Bioskop itu, dan menanyakan apakah kursi disebelah kanan saya kosong, saya bilang ada orang tapi disebelah kiri kosong.
Film itu film tua dan membosankan, Badu berdiri dan kemudian duduk dilantai, dibawah kursi sambil mukanya ke selangkangan saya, dan ditutupi oleh rok saya. Saya terdiam, tapi tangan saya mengelus rambut dan muka Badu, sambil mendorong kepalanya supaya lebih dekat dengan selangkangan saya. Didepan saya lihat muda-mudi sedang bercumbu berciuman, dan Badu sedang mengerjakan didaerah terlarang saya. Saya tersenyum, kemudian seperti ingin terpekik, karena saya kembali mencapai sesuatu yang selama hampir satu bulan ini tidak pernah terjadi. Ketika film bubar, diparkiran mobil yang agak kosong, saya minta supaya jangan segera pulang, lalu kami melakukan lagi adegan-adegan panas, saling menghantam, saling memukul dan saling membelai, suatu persanggamaan yang liar, seperti kuda atau kucing liar, sampai akhirnya kami mencapai suatu keadaan yang sulit dikatakan baru kami pulang.

Akhir-akhir ini saya benar-benar sakit, makin depresi dan makin cemas takut ada yang tahu perbuatan kami. Sebaliknya dalam keadaan-keadaan demikian dorongan –dorongan aneh makin sering muncul. Saya malah menikmati disakiti dan menyakiti, diperkosa atau memperkosa Badu, seminggu bisa 2 atau 3 kali terjadi. Mental saya sudah sakit, obat tidur sudah tidak mempan, bagaimana bila suami dan anak saya mempergoki perbuatan kami.

Begitulah cerita Mirna pada konsultasi pada saya. Dia meminta saran saya, dan menanyakan apakah dia salah atau berdosa. Saya jawab saya bukan polisi yang mencari kebenaran, saya bukan jaksa yang menuntut keadilan, dan saya bukan hakim yang memutuskan benar atau salah. Yang pasti saya tanyakan kepadanya kenapa dia tak mengerjakan sex liar itu dengan suaminya, bila hal tersebut menyenangkan. Dia takut nanti suaminya menyangka dia sex-maniak, dan tak menghargai dia lagi. Saya katakan apa yang dia perbuat sekarag justru tak menghargai suaminya. Cobalah bicara terus terang, apa yang Mirna suka, dan apa yang menyenangkan, dan tentu saja tidak perlu berterus terang apa yang telah dikerjakan, tapi katakan saja, bahwa dia baca di Internet atau dimajalah hal itu menyenangkan. Bila suami tak suka pada suatu sex A, tapi suka B, dan Mirna suka B tapi tak suka A, bicaralah dari hati kehati, hati orang siapa tahu, siapa tahu kompromi dapat dicapai.

Setelah dua bulan dia berobat dengan teratur, keadaan Mirna sudah sangat baik. Segala urusan pabrikpun telah beres, dan Badu telah dipindahkan menjadi kepala pol (driver) dari angkutan pabrik di Cilegon.

Dua bulan kemudian dia meresmikan pabrik, dan saya diundang untuk datang . Saya lihat Dody dengan bangga membuka pabrik plastic, yang dilhami oleh istrinya Dalam pidatonya dia memuji kehebatan istrinya yang sampai sakit-sakit untuk memperjuangkan supaya pabrik itu berdiri. Dikatakan berbulan bulan istrinya sakit karena stress memikirkan projek ratusan milyard, tapi kini dia telah sembuh. Tanpa ide, tanpa kesetiaan istrinya dan tanpa jerih payah istrinya pabrik ini tak mungkin terwujud.

Pada resepsi pembukaan pabrrik, Mirna mendatangi saya, dia mengatakan bahwa dia sudah berhenti makan obat, dan yang terpenting dia kini dapat mewujudkan impiannya baik dalam segala hal, termasuk sex bersama suaminya. Ini berkat bantuan dan nasehat dokter. Satu hal lagi pabrik parfum Madame Rocheses di Paris telah ditutup, karena sebenarnya dia memproduksi Heroin, dan produksi parfum hanya kedok saja, supaya bisa membeli beberapa zat kimia sebagai bahan baku pembuatan heroin.

0000000000

Satu Tanggapan to “Kasus Mirna:”

  1. dryuliskandar Says:

    dear dr. yul…
    kok kisah nya mirip ama novel best seller di Amrik sana yang judulnya “Perfumme” ya?… mungkin novel ini bisa jadi sumber tambahan kajian pasien ini. terima kasih. Oh ya bahkan novel ini sudah di angkat ke layar lebar juga dengan judul sama. Terima kasih

    isa – jakarta
    Jawaban Dr Yul Iskandar
    Kisah pasien mugkin mirip tapi saya tak tahu, karena saya sudah 3 tahun tak pernah nontoh bioskop. Tulisan itu sudah pernah dimuat dalam buku Psikiatri Biologik Vol 8, yang diterbitkan tanggal 8 bulan 8 tahun 88, dengan judul Depresi dan anxietas. Hal 55-61
    Penulis adalah Dr Yul Iskandar dan Prof. Kusumanto
    Penerbit Yayasan Dharma Graha.
    Apakah Novel Best Seller itu diterbitkan sebelum tahun 88?

    Salam
    Dr Yul Iskandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: