Simbol dan Nilai.

Dua garis yang bersilang tegak lurus, biasanya disebut “tanda positif (plus)”, tetapi dalam keadaan yang berlainan juga dapat disebutkan sebagai suatu “tanda palang (cross)”. Apakah orang akan menafsirkannya (interpretasi) dan kemudian menerimanya sebagai suatu keseluruhan (integrasi) sebagai suatu “tanda positif (plus)” atau suatu “tanda palang (cross)”, sangatlah berhubungan dengan situasi penampakan dan situasi mentalnya, dst baca di. https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/06/15/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-29/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
psikiater,
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006 dan akan di- bukukan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry, Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Simbol dan Nilai
Sebagaimana diketahui, ilmu psikiatri dapat memberikan interpretasi yang bermacam-macam mengenai peranan simbolik bagi manusia. Bagi kami, existensi manusia hanya dapat berarti secara existensial, apabila manusia itu dapat menangkap arti dan isi existensi itu. Arti dan isi existensi individualnya tidak pernah ditangkapnya secara kongkrit, melainkan senantiasa hanya dapat dihayatinya secara simbolik dan secara menegakkan nilai-nilai. Itulah sebabnya maka existensi individual manusia arti dan makna simbol serta nilai merupakan atribut-atribut yang penting.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Dalam dunia psikiatri biologik, maka masalah mekanisme stimulus- respons merupakan dasar utama dari mahluk yang ada didunia. Antara manusia dan kera perbedaan genetika hanya 2%, akan tetapi terlihat perbedaan yang menyolok dari berbagai segi, terutama manusia mempunyai kebudayaan, sedangkan kera tidak mempunyai kebudayaan . Antara manusia satu dan manusia lain terdapat kesamaan 99% dari DNA dan genetikanya, akan tetapi dari 6 milyard manusia di bumi tak satupun yang mempunyai tingkah laku yang sama.
Hal ini terjadi karena mausia tidaklah mudah menebak tingkah laku orang lain, karena ternyata pada manusia takmungkin diberlakukan sistem kerja reseptor dan efektor, seperti reflex-reflex sederhana. Interaksi manusia dan dunianya tidak dapat berlangsung sederhana antara stimulus dan respons saja.
Akan tetapi adanya stimulus (S) akan menciptakan suatu fenomena Y yang artinya tergantung dari si Individu itu sendiri, dan barulah akan terjkadi Respons (R) atau Respons yang tertunda (DR= delayed Response). Adanya Y ini maka R akan sangat bervariasi dari tiap individu yang terhadap fenomena yang sama. Y bisa berbeda tergantung pada nalurinya, tergantung emosinya, tergantung hasratnya. Jadi adalah sulit diterima apa yang dajarkan oleh psikoanalisis Freud yang tidak lain, adalah menggali dari kenyataan tidak sadar, sebagai bagian terpenting dari pekerjaan manusia. Begitu pula hypnotisme, sebagai cara penyembuhan akan sulit sekali di lakukan pada manusia, khususnya manusia yang menderita.
Di Manusia pada faktor Y itu ada sistem lambang (system symbolic), sistem ini pula meningkatkan arti reaksi manusia terhadap stimulasi dari dunianya menjadi tanggapannya. Inilah dasar-dasar pokok, dalam terapi CBT (cognitive Behaviour Therapy), sebagai alternatif dari Terapi psikoanalisis atau hypnoterapy.
(Yul Iskandar, 2006)

Bagaimana individu itu biasanya mengambil arti daripada fenomena-fenomena yang terjadi disekelilingnya. Apakah fenomena-fenomena yang terdapat disekelilingnya itu dapat memberitahukan secara segera arti dan makna mereka masing-masing itu kepadanya? Ataukah barangkali manusia itu mau-tidak mau diharuskan untuk menegakkan dalam dirinya sendiri arti dan makna dari pada fenomena-fenomena itu.?
Dengan memajukan pertanyaan-pertanyaan ini hendak dijelaskan bahwa dalam diri manusia itu ada tejadi suatu proses transformasi tertentu yang hendak disebut transformasi simbolik dan transformasi penilaian. Dengan adanya teransformasi itu maka fenomena-fenomena yang sebelumnya bersifat asingdan mungkin terletak jauh, kemudian berubah menjadi dikenal dan dekat padanya, meskipun demikian dunia sekelilingnya itu dalam ukuran fisik dan dunia yang nampak secara interpretatif seringkali tidak cock secara sempurna-sempurnanya. Berkat transformasi simbolik dan transformasi penilaian itu maka manusia dalam keadaan normal dapat tetap menyesuaikan diri secara cukup baik dengan dunia sekelilingnya itu karena berkat proses-proses itu ia tetap dapat mengintegrasi kan dunia dengan segala fenomena-fenomenanya secara cukup realistik.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Manusia pada umumnya dinyatakan berbudaya, kebudayaan yang dimaksud disini, adalah religious atau agama, langguage atau bahasa, art atau seni, hystori atau sejarah, dan science atau ilmu. Perlu ditekankan bahwa orang atheispun mempunyai religious, yaitu ketidak percayaan pada relegi. Kelima dari budaya ini sangat berbeda dalam penghayatan dan aktualisasinya. Malahan kadang-kadang, bahasa ilmu psikologik, dan bahasa ilmu psikiatri bisa berbeda maknanya. Yang paling berbahaya adalah bahasa hukum, yang mengikat yang tak semua orang mengetahuinya. Inilah yang membuat antara satu kelompok dan kelompok lain terjadi pertentangan, dan dalam dunia yang tak begitu maju pertentangan ini diselesaikan dengan kekerasan.

(Yul Iskandar, 2006)

Marilah kita mengambil contoh yang sederhana, yang cukup terkenal dan yang sering digunakan sebagai ilustrasi.
Dua garis yang bersilang tegak lurus, biasanya disebut “tanda positif (plus)”, tetapi dalam keadaan yang berlainan juga dapat disebutkan sebagai suatu “tanda palang (cross)”. Apakah orang akan menafsirkannya (interpretasi) dan kemudian menerimanya sebagai suatu keseluruhan (integrasi) sebagai suatu “tanda positif (plus)” atau suatu “tanda palang (cross)”, sangatlah berhubungan dengan situasi penampakan dan situasi mentalnya.
Tidak hanya penampakkan bentuk , tetapi juga fenomena mental yang dirangsang oleh warna, turut menentukan interpretasi dan integrasi tanda itu.
Tanda palang yang berukuran sama tetapi yang diberikan gambaran-gambaran adisional, nampaknya jauh berlainan. Demikian pulang maka suatu tanda palang dalam warna hijau dan dalam warna merah dengan suatu latar belakang sama (putih) masing-masing memiliki arti mental yang berlainan. Palang merah mengandung arti tempat berlindung dalam penderitaan. Palang hijau berarti usaha kesehatan setempat. Palang dalam matematika dan fisika berarti suatu penambahan positif. Palang dalam lingkungan kuburan berarti suatu keadaan mati atau istirahat akhir yang tiada erganggu. Sedang palang dalam arti religi (keagamaan) mengandung arti agama kristen.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Di negara Islam (timur Tengah) maka tak ada palang merah, yang ada adalah bulan sabit merah. Soal yang sepele ini bisa menjadi pertikaian ratusan tahun semenjak perang Salib (tahun 1000-an), di daerah timur tengah antara pasukan Nasrani dan pasukan Islam.
Lambang-lambang ini sangat besar artinya, siapa yang berani misalnya membakar bendera Merah putih atau lambang burung Garuda di Indonesia. Di Timur tengah, khususnya di mekah dan Madinah, koran (yang sering mengutip kitab suci, tidak dibenarkan dipakai sebagai alas untuk tempat duduk, atau sebagai alat untuk sembahyang. Lain tempat lain pula lambang-lambang, yang dianggapnya sebagai sesuatu yang sakral. Makin rendah pendidikannya, makin mudah seseorang untuk menjadi manusia yang fanatik terhadap apapun, yang tentunya mempunyai lambang-lambang tertentu.

(Yul Iskandar, 2006)

Dengan contoh yang sederhana dan yang bersifat sangat umum ini jelaslah bahwa penampakan obyektif, senantiasa diartikan khusus oleh individu tersendiri menurut interpretasi dan integrasinya yang individual pula.
Tetapi lebih lanjut lagi penting pula kita perhatikan bahwa tidak semua individu sama mengenai soal penilaiannya. Seorang beragama kristen berlainan penilaiannya terhadap suatu tanda palang yang ada digerejanya , dari pada seorang yang bukan kristen. Oleh sebab itu, maka juga penilaian simbolik penting sekali.
Selama suatu tanda bersifat suatu signal atau signum, maka hal itu biasanya berarti adanya “cap”, yang merupakan suatu representant untuk suatu hal atau keadaan yang tertentu (spesifik), yang biasanya circum script dan singular. Tanda-tanda demikian itu dijumpai dimana-mana, dan yang paling sering tanda-tanda itu kita jumpai dalam situasi-situasi spesifik yang bisa diukur.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: