Terapi existensial.

 

Dalam hal ini tidak perlu ciptaan atau kreasinya itu merupakan sesuatu yang baru, dalam arti kata bahwa ada diperoleh suatu pendapat baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh seluruh umat manusia. Yang penting ialah bahwa individu itu nampak memperkembangkan niat dan dorongan yang segar ke arah menghasilkan sesuatu yang baru bagi dirinya sendiri. Dst lihat di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/05/16/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-27/

 

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

  1. Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini  telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006  dan akan di- bukukan  atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry,   Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini. 
  2.   

 
Daya kreasi atau daya cipta

 

Yang dimaksud dengan daya kreasi atau daya cipta ialah dorongan dan daya kemampuan individu untuk menghasilkan karya atau penyelesaian, yang ditujukan terhadap ikhtiar menghalau atau menghapus suatu soal atau masalah.

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Dalam terapai existensial, kunci pertama adalah manusia mendefinisikan dirinya  dengan pilihan dirinya. Walaupun  faktor luar sering menghalangi pilihan  kita , akan tetapi tetapi kita sebagai manusia adalah penulis utama diri kita. Kita memasuki dunia yang tak ada artinya ini, walaupun demikian kita menerima  kesendirian kita, dan menciptakan  existensi kita yang bernilai. Karena kita harus menyadari kehidupan ini, maka pada dasarnya kita adalah manusia yang bebas. Bersamaan dengan kemerdekaan kita , maka kita sampailah kita  pada  tanggung jawab dari pilihan kita.  Disinilah sebenarnya  titik singgung terapi existensial dengan terapi religius, dimana  keduanya adalah mengatakan bahawa manusia merdeka berbuat apa saja, tapi dia harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Ini berbeda dengan filsafat fatalisme, bahwa apa yang terjadi pada diri kita disebabkan oleh nasib yang telah ditentukan dari dulunya. Sebaliknya paham existensialis mengemukakan kebaikan dan keburukan begitu juga penyakit adalah lebih banyak disebabkan oleh pilihan-pilihan kita terhadap  berbagai faktor yang disodorkan pada kita.  

Sehingga pasien-pasien yang  pada umumnya mengatakan bahwa dia mengalami ‘restricted’ existence, dan dia tidak banyak melihat alternatif untuk merubah nasibnya, dalam situasi hidupnya. Dia merasa terperangkap oleh nasib, dan tak ada pertolongan yang ada.

Dalam keadaan ini terapis dengan terapi existensial, harus mengkonfrontasikan  apakah betul pilihan yang dipunyai hanya terbatas, dan membantu  mereka bahwa cukup banyak untuk melihat  alternatif lain, dan mengkreasikan  alternatif- alternatif yang mungkin. Dalam perjalanan terapi, yang tentunya tidak mudah, pasien diharapkan bisa melihat pola hidup mereka,  meneriama kenyataan dan tanggung jawab  untuk kalau perlu  dan dirasakan perlu mengubah gaya hidupnya untuk masa yang akan datang.

 

(Yul Iskandar 2006)

 

 Dalam hal ini tidak perlu ciptaan atau kreasinya itu merupakan sesuatu yang baru, dalam arti kata bahwa ada diperoleh suatu pendapat baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh seluruh umat manusia. Yang penting ialah bahwa individu itu nampak memperkembangkan niat dan dorongan yang segar ke arah menghasilkan sesuatu yang baru bagi dirinya sendiri. Bagi tiap-tiap manusia yang normal, niat atau dorongan ke arah demikian itu senantiasa ada dan nampak padanya dengan segera.

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Psychoanalitik terapi. melihat manusia secara significant  dipengaruhi motivasi yang tidak sadar (uncounsious motivation). Penyakit biasanya muncul karena adanya konflik antara impulse yang buruk  dan larangan, maka tingkah laku terjadi karena mekanisme pertahanan yang telah dibuat dari masa kecil,  akan tetapi dinamika ini telah terkubur  dalam ‘uncounsious’. Terapi dengan demikian  memerlukan analisis  konflik, khususnya  yang telah berakar dari masa kecil. Hal yang dilakukan adalah restrukturing ‘personality’, dengan demikian  pasien harus ada motivasi dan kemauan  untuk melakukan terapi  yang intensif, serta proses jangka panjang.

 

(Yul Iskandar 2006)

 

Oleh karena itu dalam hubungannya  dengan soal existensi individual perlu kita ingat bahwa tiap individu-individu selalu menuju  kepada suatu ciptaan atau kreasi yang selama hidupnya  ingin dicapainya. Itu adalah pinsip finalitas yang terdapat pada semua orang. Prinsip ini hendak se-olah olah memberitahukan kepada manusia bahwa  ia harus  menegakkan  tujuan-tujuan tertentu, dan bahwa ia harus  berusaha  dengan segala  daya ciptanya kearah tercapainya tujuan-tujuan itu.

 

Oleh sebab itu pula, dengan mendekatnya titik musnah hidup, disertai keinsyafan tentang tidak atau belum tercapainya isi hidup yang dicita-citakannya, seringkali manusia itu diliputi rasa gelisah (anxietas), dan rasa dosa (guilt). Alam dan suasana perasaannya akan semakin sunyi dan asing. Dalam keadaan yang semacam itu, maka secara relatif kata moral dan kata hati (conscience) lebih kuat terdengar. Jika hal-hal itu semakin kuat menguasai alam kalbu penderita, maka kegelisahaan yang sedikit itu dapat berubah menjadi ketakutan dan kegaduhan yang hebat. Manusia dengan demikian seringkali berhenti untuk berfungsi secara adekwat : adaptasi melampaui daya kemampuannya dan ia tak mampu lagi berfungsi secara kreatif spontan.

 

Manusia sekarang berubah menjadi makhluk menderita. Ia mulai berkenalan dengan unsur destruksi diri yang juga timbul dalam alam kalbunya. Ia menganggap existensinya suatu paradox dengan hakekat kehidupan oleh karena existensinya telah kehilangan arti, makna dan isinya. Ia dapat bereaksi dengan kecenderungan ke arah over aktivitas (aktivitas yang berlebihan) atau dengan kecenderungan yang sebaliknya,yaitu berkurangnya hingga  menghilangnya aktivitasnya sama sekali. Tetapi, perlu dicatat bahwa semua hyper atau hypo aktivitas itu tidak berarti bermakna atau berisi.

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Proses terapi dibidang psiiatri, mempunyai pelbagai orientasi,  diantaranya psychodinamik approach, yang menekankan perlunya  ‘insight’ dalam terapi, termasuk diantaranya Freudian dari Freud, Adlerian dari Adler dan Yungian dari Yung. Pendekatan lain adalah  pendekatan experimental atau lebih dikenal dengan  relationship –oriented  approach, termasuk disini terapi existensial , person –centered  terapi dan gestalt terapi.

(Yul Iskandar 2006)

 

Tinjauan semacam ini menitik beratkan daya kreasi spontan manusia yang hendak diamalkannya dalam hubungan antar manusia dalam pergaulan dan penyesuaian diri yang memuaskan dan menguntungkan.

 

Jadi, agak lain cara pendekatan itu kiranya, dari pada misalnya psikoanalisa Freud (1856-1940) yang cenderung untuk menitik beratkan perkembangan psikoseksual; atau tinjauan menurut Alder yang seringkali menegaskan tentang dorongan untuk pengamanan diri (drive for security) dan dorongan ke arah superioritas; atau pun Jung yang hendak menyoroti sasaran kehidupan dalam bentuk individuasi.

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Psikoanalisis  Freud  mengatakan bahwa manusia pada awalnya dilahirkan sama sebagai kain yang putih. Manusia normal akan mengalami  perkembangan personaliti dan psikososial yang sama. Adanya  gangguan dalam perkembangan personaliti dan psikososial yang membuat pasien menjadi sakit.  Hal ini disebabkan adanya ketidak matangan  perkembangan atau adanya  konflik  yang tak terselesaikan. Jadinya psikiater harus mempunyai minat untuk menilai perkembangan pasien dari masa kecilnya, dan mencari hubungan dengan penyakitnya yang sekarang.  

Tentunya berbeda dengan existensial terapi, yang mencoba  mengerti dunia subjektif dari pasiennya. Tujuan pengobatan adalah bukan untuk mengartikan pasien dilihat dari dunia nyata diluar, akan tetapi mencoba untuk memasuki dunia dalam pasien, mengerti  realitas dari dunia dalam pasien, dan bukannya membuat formulasi diagnostik pasien.

(Yul Iskandar 2006)

 

Pendekatan yang kami anjurkan ini terutama sekali menyoroti daya kreasi spontan manusia. Antara lain ini dapat diartikan, daya kreasi human itu dianggap selalu berdasarkan atas kehendak sendiri manusia itu, yang timbul dari dalam dirinya sendiri. Hal ini juga berarti, bahwa daya cipta itu juga berdasarkan atas kebebasan memilih dan kemerdekaan untuk bersikap lain dari pada suatu dasar pola yang streotypik.

 

Daya kreasi dalam bentuk yang kasar bersifat dorongan  untuk berbuat yang baru, dan yang sedapat-dapatnya  yang bersifat baik bagi dirinya  dan lingkungannya . dalam bentuk optimal , daya cipta  harus bersifat adanya  suatu hasilkarya yang produktif dan yang tercapai secara  berencana dan berorganisasi. Ini berarti bahwa daya cipta  manusia itu pada prinsipnya  ada hubungannya  yang erat pula  dengan taraf dan cara berpikir  atau lebihtepat proses fikir  manusia

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Dalam menilik manusia sebagai manusia yang sehat dan sakit, perlulah ditinjau dari segi fisik (tidur, makan, pencernaan, pembuangan , metabolime hormon dll, dari segi emosi kita lihat kematangan emosioanal, dan ketepatan untuk bertingkah laku emosional. Sedangkan dari existensial hasil karya yang produktif,  berencana dan berorganisasi. Ini berarti  pada prinsipnya  ada hubungannya  yang erat pula  dengan taraf dan cara berpikir  atau lebih tepat proses fikir  manusia

 

(Yul Iskandar 2006)

 

Perencanaan dan organisasi produktivitas daya cipta itu dapat dianggap merupakan pola human yang dimiliki oleh tiap-tiap manusia normal. Untuk mencapai dan mempertahankan pola human ini, maka tiap-tiap manusia haruslah berusaha :

 

(i)          Menjalankan ikhtiar penegasan atau ikhtiar identifikasi.

Yang dimaksud  ialah usaha  untuk mengetahui  dan mengenal  masing-masing unsur  dengan menegakkan  masing-masing  identitasnya, pula dengan  mengetahui  batas-batasnya masing-masing.

 

(ii)        Menjalankan ikhtiar untuk mengadakan hubungan (inter relasi )

Yang dimaksud ialah  usaha untuk meletakkan  keinsyafan pengaruh  timbal balik antara masing-masing . Dengan demikian  maka  pada azaznya  sudah tercapai suatu organisasi  struktural, sehingga  dengan sendirinya  perencanaan  berdasarkan organisasi  itu dapat dilangsungkan secara relatif lebih mudah.

 

(iii)      Menjalankan ikhtiar untuk mencapai keseimbangan harmonis yang stabil

Yang dimaksud ialah  usaha untuk menjamin suatuhasil yang sama  daripada  pelbagai kekuatan yang sifatnya  berlawanan  atau bergeseran. Dengan usaha ini  maka dapat dijamain bahwa akan tetapada suatu hubungan  yang harmonik antara tendensi-tendensi yang beraneka warna, sehingga  dapat dicegah timbulnya hal-hal yang extrem dan exentrik.

 

Jika semua ikhtiar dasar itu ada dan dapat dipertahankan, maka pada prinsipnya manusia cukup ada kesediaan dan kemampuan untuk mengusahakan daya kreasi yang produktif.

 

 

Landasan yang penting untuk mencapai suatu keadaan kesehatan jiwa  yang optimal  sekarang ada . Ia sekarang harus terus berusaha untuk menjalankan aktivitas-aktivitasnya yang terarah pada suatu  tujuan umum  yang pasti  yang juga  dapat  dihubungkannya  secara cukup seimbang  dengan keadaan masyarakatnya sehingga akhirnya ia dapat memperoleh kemahiran  yang tinggi untuk menggambungkan  segala pengalaman  dan produktivitasnya  dalam suatu pola  human yang harmonik dan stabil.

 

Jadi, pada prinsipnya pun maka suatu gangguan yang mengenai spontanitas, kebebasan memilih dan kemerdekaan bersikap deskriminatif dapat ditunjukkan sebagai aspek-aspek dari pada gangguan jiwa. Bagaimana  gangguan jiwa  itu harus ditafsirkan tentang gawat tidaknya dengan sendirinya memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang tersendiri, yang  boleh dianggap  relatif lebih  mudah karena  sekedar mengenai teknik-teknik manipulatorik saja.

 

Sebagai hal yang terakhir yang penting ditegaskan dalam rangka cara pendekatan ini, ialah hubungan cara pendekatan ini dengan pengertian mekanisme-mekanisme psikoanalisa, seperti represi, kopensasi, sublimasi, regresi dan pelepasan diri (acting out discharge). Tinjauan yang berlandaskan psikoanalistik itu dianggap ada manfaatnya karena dapat menunjukan secra mekanismik adanya “balance intrapsychic” dan cara-caranya bagaimana balance tersebut dapat terjamin atau terganggu. Yang harus diperhitungkan ialah bahwa disamping adanya mekanisme-mekanisme tadi ada unsur lain yaitu daya kreasi spontan manusia, yang tertuju pada ekspresi  diri dan penyempurnaan  diri baik melalui hubungan antar manusia maupun  dalam hubungan expresi seni dan karya.

 

Dengan formulasi lain dapat disebutkan  bahwa dayakreasi spontan manusia itu merupakan  suatu potensial atau kekuatan potensial  manusia yangdiperhatikan dalam keseluruhan  hidupmanusia itu khususnya  apabila ia menghadapi saat-saat  timbulnya problem existensial. Manusia dapat menggunakan potensial ini secara wajar, walaupun tak sadar  ia berbuat demikian . Ataupun ia dapat merasa dirinya  terbendung , terhambat  atau terhalang. Hal-hal terakhir dapat menjadikan sumber manifestasi neurotik dan psikotik.

 

Dalam keadaan neurotik dan psikotik akan nampak dorongan-dorongan daya kreasi yang bermanifestasi menyeleweng. Kesatuan fungsional dan kesatuan keseimbangan dari pada individu goncang dan perlu dibimbing kembali ke jurusan-jurusan yang lebih sehat. Oleh karena itu, maka juga dalam individu-individu yang terganggu secara amat mendalam, pada prinsipnya stimulasi, anjuran dan bimbingan yang sabar dan bijaksana seringkali masih akan dapat juga membangunkan dan mengembangkan daya kreasi spontan individu itu, sehingga dalam individu-individu yang seolah-olah non kreatif sama sekali masih juga dapat dibina suatu kreativitas  tertentu.

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

Satu Tanggapan to “Terapi existensial.”

  1. dr.H.Marsudi.,SpKJ.,M.Kes Says:

    menarik sekali, dan saya menyukainya
    kalau ada tulisan2 baru tolong dibagi2
    buat nambah wawasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: