Filsafat dan Radikal Bebas.

Existere” berarti “menjelma” atau “meningkat dari pada”. Arti lebih lanjut ialah bahwa individu dengan mengalami suatu problema existensi tertentu, kemudian seolah-olah meningkat keluar dari pada “suatu pola beraksi routinus” yang digunakan dalam hidupnya sehari-hari. selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/04/21/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-26/

.

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini  akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.   Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini. 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

 

 

Existensi individual

 

Salah satu perbedaan yang penting antara filsafat existensi dan pendekatan eklektik holistik dalam ilmu psikiatri ialah fakta, bahwa filsafat existensial itu bermaksud untuk meninjau dan berurusan dengan masalah existensi seluruh umat manusia pada umumnya.

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Filsafat manusia  adalah suatu disiplin ilmu yang paling dekat dengan ilmu psikologi dan psikiatri. Mempelajari filsafat untuk para psikiater bukan dengan tujuan untuk menjadi filosof, tetapi menjadi  psikiater yang mengerti dan memahami  manusia. Tulisan filsafat yang filosofis, menjadikan beban bagi para psikiater yang tak begitu tertarik pada filosofi.  Filsafat sama seperti politik, dia harus diketahui oleh semua orang, tapi tak perlu semua mempraktekan atau menjadi filosof atau politikus. Tulisan filsafat yang terlalu filosofis bukan barang mudah  untuk dicerna, sama dengan politik yang terlalu ilmu politik bukan barang mudah untuk dicerna. Filsafat manusia merupakan cabang dari ilmu filsafat, cabang lain dari ilmu filsafat itu adalah etika, kosmologi, epistemologi, filsafat sosial, filsafat politik, dan estetika. Tetapi filsafat manusia merupakan kajian yang relatif penting bagi yang bergerak dan berhubungan dengan manusia, karena semua filsafat itu akan bermuara  pada asasi manusia (baik yang sakit maupun yang sehat) dan yang paling penting adalah mengenai esensi manusia . (Diambil dari Filsafat Manusia, Memahami manusia melalui filsafat, Zainal Abidin 2000)

Yul Iskandar, 2006  

 

 

 Yang serupa itu tidak pernah maksudnya dari pada approach eklektik holistik yang kami sarankan. Disini yang disoroti dan dipersoalkan ialah masalah existensi individual dari seorang penderita psikiatri tersendiri.

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Disamping ilmu filsafat, para psikiater perlu pula mempelajari secara mendalam bidang  biomedik, suatu hal yang bersebrangan 180 derajat dengan ilmu filsafat. Salah satu tulisan modern kami kutipkan dari abstrak penelitian  di tahun 2000-an, yaitu Isoprostanes sebagai indikator adanya stress oxidative pada penderita Schizophrenia.

 

Radical bebas menginduksi adanya stress oxidative  dan kerusakan dari berbagai molekul biologis, dan ini mungkin terlibat pada patologi dari schizophrenia. Terjadinya  disfungsi sel membran yang disebabkan peroxidasi dari lipid  yang merupakan kelainan sekunder dari kerusakan oleh radikal bebas  yang mengakibatkan adanya patologi, dan ini memberi kontribusi yang sangat spesifik  dari gejala schizoprenia maupun komplikasi  pengobatannya.

 

Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengukur oxidative stress  pada satu group schizophrenia dengan memakai berbagai bio-markers dari free radical induced peroxidation (isoprostanes, thiobarbituric acid reactive substance (TBARS). Juga diperiksa  hasil proses enzymatik peroxidasi dari Arachidonic Acid (AA), seperti throboxane B2 (TXB2) dan metabolitnya yaitu 11-dehydro-tromboxane B2.  beberapa Isoprostene (Ips) merupakan keluarga isomer prostaglandin baru dan dihasilkan oleh free radical dari arachidonic acid.

 

Zat zat itu sangat berguna karena spesifik, sensitif dan zat kimia yang relative stabil, dari  pemeriksaan non-invasive  dari free radical dalam keadaan in vivo. Selanjutnya diperiksa pada subjek kontrol normal  dan penderita schizophrenia tingkat excresi  pada urine  dari isoprostane-8 –epi prostaglandin  F2a (8-iso PGF2a), suatu marka  dari lipid peroxidasi yang di induksi oleh Radical bebas dengan menggunankan radioimmunoassay kit. Juga dipelajari  tingkatan marka lain dari proses enzymatic arachidonic  acid peroxidation- 11 dehydrothromboxane B2, di urine pasien schizophrenic, dan voluntir normal.

 

Semua pasien mendapat obat anti psikotik generasi kedua seperti risperidone, clozapine dan olanzapine. Semua pasien berdasarkan kriteria DSM_IV didiagnosis sebagai schizophrenia paranoid.  Rata-rata pasien telah menderita schizophrenia selama 2 tahun.

 

Hasil penelitian ini adalah TBARS meningkat sangat meyakinkan di plasma pada penderita schizophrenia dibandingkan dengan kontrol. P= 0,000162dan isoprostanes juga meningkat dengan sangat-sangat peyakinkan  P=0,000000 00000035. Sedangkan TXB2 dan metabolitnya  tidak berbeda antara pasien dan kontrol.

 

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa Radical Bebas  telah menginduksi peroxidasi  dari asam lemak tidak jenuh (yang ada pada sel membran)  pada penderita schizophrenia.

 

Kesimpulan pemeriksaan yang non-invasive pada penderita schizophrenia lebih menguntungkan  untuk mengukur kadar 8-isoPGF2a dibandingkan dengan TBARS yang merupakan indikator (marka) yang berguna dan spesifik adanya stress oxidative  secara in vivo pada penderita schizophrenia

 

(Dari penelitian Anna Dierich-Muszalska, Department of Psychiatry, medical University of Lodz, Poland).

 

Begitu sulitnya sebenarnya psikiatri/ psikologi  modern, yang harus menyerap tulisan-tulisan modern  dari filsafat manusia  dan dipihak lain harus mengerti masalah sangat fundamental dari biomedik. Eclectik disini artinya kita secara detil menganalisa berbagai pendapat secara mendalam, akan tetapi kita tidak boleh hilang dalam perpektif Holistik, melihat manusia sebagai manusia walaupun menderita schizophrenia.

(Yul iskandar, 2006.)

 

 

Jika kita berpangkal dari kata existensi, maka nampaklah bahwa arti kata itu yang sebenarnyapun  sudah memberikan  petunjuk yang kuat  kearah mana ikhtiar kita hendak ditujukan .

Existere” berarti “menjelma” atau “meningkat dari pada”. Arti lebih lanjut ialah bahwa individu dengan mengalami suatu problema existensi tertentu, kemudian seolah-olah meningkat keluar dari pada “suatu pola beraksi routinus” yang digunakan dalam hidupnya sehari-hari. Karena hal itu maka terciptalah suatu peristiwa existensial yang mengandung problematik tertentu. Oleh sebab itu, maka suatu problema existensial senantiasa bersifat “non routine melainkan unik individual”.

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Seperti telah dikemukakan bahwa ketika  disertasi ini dibuat, masalah stress, obat-obat psikotropik, hubungan dopamin dan schizophrenia belum  merupakan masalah yang populer seperti sekarang. Tiada jalan lain pendekatan yang harus dilakukan adalah melalui filsafat manusia, khususnya masalah existensi manusia. Ditinjau dari sudut ini sebenarnya masalah stress juga adalah masalah existensi manusia yang unik, yang tak sama dengan pada setiap orang. Banyak sekali pendapat bahwa kegagalan atau ketidak bahagiaan menyebabkan seseorang menjadi sakit jiwa, sesuatu yang terlalu menyederhanakan masalah. Bahwa memang kemalangan dan ketidak bahagian  merupakan salah satu faktor  terjadi nya gangguan jiwa, akan tetapi itu bukanlah yang terpenting dan satu-satunya dari terjadinyanya gangguan jiwa. 

 

(Yul iskandar, 2006.)

 

Hal itu membuktikan bahwa pada prinsipnya kebanyakan dari pada peristiwa-peristiwa yang dialami manusia itu sebetulnya memang merupakan sekedar “kejadian-kejadian routine” belaka, tanpa arti atau makna yang mendalam atau khas individual. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tiap-tiap manusia pada suatu ketika akan pasti mengalami satu atau lebih peristiwa existensial, yang dengan demikian membuat hakekat hidup tiap-tiap manusia itu selalu bersifat unik.

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Dalam istilah populer pada masa kini, maka setiap manusia suatu saat akan mendapat stress yang khas pada dirinya dan dirasakan sangat berat. Mungkin stress itu  telah berlalu, akan tetapi  segala sesuatu yang berhubungan dengan itu membuat pasien menderita ketidak nyamanan. Pada 6 bulan setelah terjadinya Tsunami di Aceh, maka beberapa orang aceh yang mendengar suara ombak laut yang sedikit besar, sudah membuatnya tidak enak, dan tak menyenangkan. Para prajurit AS yang gagah berani sering pulang dengan berbagai ketakutan yang tak berdasar, berdasarkan ingatan-ingatan  ketika terjadi perang (Vietnam, perang Teluk, dan Perang Irak). Keadaan ini pada saat ini dinamakan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder.)  Istilah stress disini  bukan lah suatu yang subjektif, tetapi harus  merupakan stress dimana siapapun yang mengalaminya akan mengatakan bahwa trauma itu memang sesuatu yang berat. 

 

(Yul iskandar, 2006.)

 

 

Berdasarkan adanya peristiwa-peristiwa existensial itu maka perhatian psikiater sekarang tertuju terutama sekali pada hal-hal yang berikut :

 

(i)          Bagaimanakah sifat dan isi pengalaman pribadi yang bersifat khas individual itu, sehingga mereka telah berhasil “membentuk dan mengisi” suatu konfigurasi konsepsional pada diri individual itu ?

 

(ii)        Bagaimanakah struktur dan organisasi dan pengalaman-pengalaman pribadi itu, sehingga mereka telah berhasil “membentuk” suatu struktur organisatorik yang letaknya diluar pengalaman routine sehari-hari yang banyaknya tak terhingga ?

 

Oleh karena itu maka sehubungan  dengan itu  timbulah  beberapa soal yang amat kongkrit  dan praktis, tetapi yang sekali gus  amat penting dan sentral dalam cara pendekatan kita terhadap masalah  existensi  individual itu.

Yang dapat ditanyakan sekarang antara lain:

 

“Bagaimanakah konfigurasi konsepsional dan struktur organisatorik dari pada pengalaman-pengalaman pribadi tadi dapat diketahui dan diselidiki ?”

“Apakah cara pendekatan yang hendak digunakan itu harus mengikuti cara-cara atau syarat-syarat “obyektif” dengan menggunakan pelbagai ukuran-ukuran?”

“Ataukah lebih tepat dan lebih mendalam kiranya, apabila konfigurasi konsepsional dan struktur organisatorik itu, yang juga bersifat pribadi itu, didekati dari sudut subyek itu sendiri ?”

“Apakah dengan menjalankan yang demikian itu kita akan berlaku subyektif, dan karena itu tidak tepat ?”

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Seperti  telah dibicarakan dalam tulisan yang lalu,  ada sekumpulan  filsafat yang beragam, yang dikembangkan oleh  Neitzche (1844-1900). Kierkegaard (1813-1855) , Bergson (1859-1941),  Sartre (1908-     ). Martin Heidegger (1889-1976) dll,  walaupun tidak seragam  penguraiannya terhadap manusia, mereka  digolongkan dalam filsafatat  existensialisme. Mereka berpangkal tolak  dari pemikiran yang sama, yaitu dalam usaha memahami manusia, eksistensi lebih penting daripada esensi.  Manusia adalah eksistensi  yang terus menerus  terjalin dalam dialog, artinya manusia selalu terjalin dalam dialog, dialog antara manusia dengan manusia, atau dialog manusia dengan Tuhan-nya.  Banyak yang menganggap Nietzche adalah atheis atau anti-theis, tetapi sebenarnya bila dibaca secara mendalam dia cukup religious dan barangkali dengan Zarahustranya dia mengemukan  bahwa ada sebuah kekuasaan diatas segala kekuasaan yang tentunya adalah Tuhan yang Maha Kuasa.  Kierkegaard adalah yang paling religius, dia mengagambarkan perjalanan manusia dari yang bersifat estetis, menjadi etis dan akhirnya religious. Bergson, tidak membicarakan masalah religious dan malahan Sartre dalam tulisan-tulisannya lebih mengarah pada atheis. Dalam kurun waktu 1850-1940 (awal perang dunia II), maka para pemikir lebih banyak pada pemikiran Atheisme, seperti Freud, Karl Marx dan berbagai ahli lainnya, akan tetapi ketika manusia kemudian terlempar pada perang dunia II dimana bom atom diledakkan, dunia hampir kiamat,  banyak para filosofis kembali kepada religiousnya.

Kenyataan manusiawi ialah bahwa mnusia  selalu menyadari  keberadaannya dalam satu dunia “Mensch sein ist in derWelt Sein,  kata Heidegger,  tentang existensi manusia. Karena manusia harus berbagai  dunia dengan manusia sesamanya , maka dunia manusia harus dihayati sebagai dunia bersama (Mit-Welt).

Yul iskandar, 2006.

 

Menurut hemat kami apabila kita benar-benar bermaksud menyelami existensi penderita kita, maka satu-satunya jalan yang obyektif ialah menjalankan penyelidikan dari pengalaman-pengalaman alam kalbu individu itu dari sudut subyek itu sendiri. Dengan perkataan lain kita hendaknya mendekati persoalan dan individu itu secara subyektif.

 

Oleh sebab itu pula, maka salah satu landasan penting dan demikian pula sasaran penting, dalam tiap-tiap penelitian psikiatri ialah pengetahuan dan pengalaman secara psikopatologi existensial. Dalam hubungan ini patut kita mengingat, bahwa tiap-tiap existensi manusia itu senantiasa berada dalam “status meluncur” yang terus menerus dan hanya berakhir pada titik berakhirnya existensi itu, yaitu musnah dan matinya kehidupan.

 

(Kususmanto Setyonegoro, disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s