Dyonysius vs Appolo.

 


Masalahnya apakah memang Dyonysius, dewa perang telah kalah, apakah dia hanya menyingkir saja, menunggu waktu Appolo lengah. Dyonysius selalu ada pada diri manusia, pada suku bangsa, pada setiap peradaban. Manusia sering lupa akan kejamnya peperangan dan chaos, sering lupa dan terkagum pada orator dari Dyonysius, yang akan selalu muncul di-setiap zamannya.
Disetiap zaman di Indonesia, penganur Dyonysius selalu muncul, dan mengalahkan para Appolonian. Dyonysius selalu menggoda dan menunjukkan bahwa kehidupan ini memerlukan suatu tangan besi. Nietzche pada akhir hayatnya menemukan dewa baru yaitu Zoroaster dan menciptakan perlunya oebermench.
Dari segi kesehatan jiwa, ternyata tanpa orang pernah membaca Nietche mereka berkali-kali mengikuti Dyonysius, atau Zoroaster, terutama pengikutnya adalah orang –orang yang setengah-setengah, yang baru muncul sebagai kelas menengah, yang takut menjadi miskin, yang pura-pura berpihak pada orang miskin. Tapi merekalah yang paling rentan untuk suffering, karena mereka pada umumnya greedy (tamak), serta foolish (bodoh) dan emosional.
Kaum Appolonian, biasanya memerlukan waktu, karena mereka adalah intektual, yang pada umumnya susah untuk dimengerti oleh masyarakat.

Selanjutnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/04/19/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-25/

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara dit erbitkan  dalam bentuk seperti ini.

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

Sesudah kita membicarakan soal asas-asas kesehatan dan asas-asas kesehatan jiwa, maka sudah selayaknya kita sekarang melangkah pada masalah existensi manusia, baik sebagai seorang makhluk tersendiri maupun dalam hubungannya dengan makhluk-makhluk lainnya.

 

Dengan menyebutkan kata “existensi” timbul pelbagai asosiasi tertentu yang berada dibidang filsafat. Oleh sebab itu mungkin ada manfaatnya apabila kita juga  meninjau  sebentar hal-ihwal  mengenai existensi itu secara sepintas lalu  dalam hubungan dengan filsafat. Walaupun demikian  harus dikemukakakan  bahwa tinjauan mengenai lairan-aliran  filsafat  itu dengan sendirinya  hendak ditilik dari sudut ilmu psikiatri.

 

Harus dikemukakan pula bahwa tinjauan mengenai apa yang hendak disebut “existensi’ dan “existensial” itu ialah terutama tertuju kepada manusia yang sedang menghadapi persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan yang bertalian erat dengan “hidupnya” atau “existensinya” secara kritik dan menentukan.

 

Tidak sedikit ahli-ahli filsafah yang menggunakan istilah “existensi” dalam arti kata yang luas juga variasinya. Titchener (1867-1927) mungkin salah satu seorang yang pertama-tama menggunakan istilah “existensi” itu dalam hubungan dengan psikologi. Mungkin yang dimaksud olehnya ialah hal-hal yang sesuai dengan pendapat Kant, yaitu bahwa yang disebut realitas (kebenaran) dan “existensi’ itu, bergantung pada struktur (susunan) dari perlengkapan sensorik manusia.

 

Manusia memandang  dan melihat pada dunia lalu memperoleh pengalaman  dari dunia itu . Ia menerima kesan-kesan tertentu yang ditangkapnya melalui aparat sensoriknya. Aparat itu mengerjakan semacam tugas  pencatatan. Kemudian kesan-kesan itu disalurkan  kepada alat syaraf sentralnya  yaitu otaknya.Dalam otak inilah terjadi suatu aktivitas  penafsiran daripada kesan-kesan yang diperoleh tadi.

 

 

Demikianlah maka berdasarkan rangka pikir yang demikian itu, tugas utama dari ilmu jiwa atau psikologi dengan sendirinya tertumpah dan tertuju pada ikhtiar mempelajari fungsi-fungsi sensorik. Dengan demikian maka Wundt secara konsekwen memperkembangkan psikologi strukturalnya. Mungkin oleh sebab itu pula, maka penggunaan istilah “psikologi existensial (existential psychology)” oleh Titchener dimaksudkan untuk menegaskan aspek-aspek sensorik dari pada apa yang menjadi pengalaman manusia.

 

Agak lain halnya dengan apa yang disebut dengan nama “existensialismus” (existensialism). Istilah ini lebih erat dihubung-hubungkan dengan salah satu aliran filsafat tertentu yaitu filsafat existensialismus. Menurut literatur, maka penggunaan istilah itu mulai populer dalam masa sesudah perang dunia pertama, sebagaimana yang digunakan dan ditafsirkan oleh Heidegger dan Jaspers di Jerman.

 

Ditilik dari sudut sejarah, istilah ini perkembangannya dapat diusut sampai Neitzche (1844-1900). Kierkegaard (1813-1855) dan para ahli mystik yang lebih terdahulu lagi seperti Jacob Boehme (1575-1624). Ada salah satu aliran cabang di Prancis yang berhasil tampil kemuka, yang dapat disaksikan mulai dari Bergson (1859-1941) hingga  Sartre (1908-     ).

Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966

 

Neitzche (1844-1900). Pemikirannya mengilhami Hitler, bahwa kalau manusia mau maju haruslah ada sekelompok orang sebagai Uebermensch, yang berhak hidup. Yang lain hanya sebagai parasit. Pemikiran Neitzche menjadi extrim bila berubah dari pemikiran filsafat menjadi pemikiran politik. Mungkin Nietzche sendiri akan heran dengan apa yang dikerjakan oleh Hitler berdasarkan pada pemikirannya. Tapi  bukan hanya Hitler, Nietzche sendiri mengembangkan supaya dirinya mengembangkan kebebasan, dan hanya mungkin bila dia  mengembangkan segenap potensinya. Tapi pemikirannya yang extrem bersamaan pula dengan  kekurangan dirinya dari sudut fisik dan mental. Dalam Akhir hayatnya dia menderita paranoid yang hebat. Dia meninggal dalam keadaan fisik dan mental yang buruk, dirawat oleh ibunya dan Saudara perempuannya Elisabeth. Ironis adalah manusia yang mendambakan suatu bangsa yang terdiri dari manusia pilihan (oebermensch), diakhir hayatnya dia harus bersandar pada ibu dan saudara perempuannya.

Dalam Usia 28 tahun (1872) Nietche menulis suatu buku The Birth Of Tragedy out of The Spirit of Music. Buku yang ditulisnya menggambarkan dewa Yunani kuno Dyonysius, dewa ini menurut mitologi Yunani  dewa yang kerjanya foya-foya, anggur dan pesta, penuh inspirasi dan emosi menuruti kemauan naluri tapi dia juga dewa petualangan, peperangan dan penderitaan, disaat bersamaan dia adalah dewa drama, tarian dan musik. Jenis dewa ini adalah maskulin.

Disamping itu ada dewa yang feminin yang dikenal sebagai Apolo, dewa atau dewi kedamaian, , harmoni, estetik dan intelektual, logis, dewa lukisan , patung  dan puisi.

Dalam tulisannya akhirnya para dewa perang, dikalahkan oleh dewa perdamaian, foya-foya anggur dan pesta dikalahkan oleh pembelajaran dan intelektualisme, naluri  dikalahakan  oleh harmoni. Pahlawan perang tidak lagi dielu-elukan, dan kehancuran kesenian Dyonysius, muncullah Appolonia, dimana rasionalis mengalahkan mitos .

Masalahnya apakah memang Dyonysius, dewa perang telah kalah, apakah dia hanya menyingkir saja, menunggu waktu Appolo lengah. Dyonysius selalu ada pada diri manusia, pada suku bangsa, pada setiap peradaban. Manusia sering lupa akan kejamnya peperangan dan chaos, sering lupa dan terkagum pada orator dari Dyonysius, yang akan selalu muncul di-setiap zamannya.

Disetiap zaman di Indonesia, penganur Dyonysius selalu muncul, dan mengalahkan para Appolonian. Dyonysius selalu menggoda dan menunjukkan bahwa kehidupan ini memerlukan suatu tangan besi. Nietzche pada akhir hayatnya  menemukan dewa baru  yaitu Zoroaster dan menciptakan perlunya oebermench.

Dari segi kesehatan jiwa, ternyata tanpa orang pernah membaca Nietche mereka berkali-kali mengikuti Dyonysius, atau Zoroaster, terutama pengikutnya adalah orang –orang yang setengah-setengah, yang baru muncul sebagai kelas menengah, yang takut menjadi miskin, yang pura-pura berpihak pada orang miskin.  Tapi merekalah yang paling rentan untuk suffering, karena mereka pada umumnya greedy (tamak), serta foolish (bodoh) dan emosional.

Kaum Appolonian, biasanya memerlukan waktu, karena mereka adalah intektual, yang pada umumnya susah untuk dimengerti oleh masyarakat. 

 

Kierkegaard (1813-1855)  mengalami hidup yang tragis, pahit dan penuh penderitaan, oleh sebab itu dia mulai mempelajari persoalan-persoalan seperti kesenangan, kebebasan, kecemasan, penderitaan, kebahagian,  kesepian dan harapan. Menurut Kierkegaard setiap individu pada asasnya harus mempunyai keterlibatan atau komitment tertentu pada setiap peristiwa yang dilihat atau dialaminya. Dia tak bisa menjadi pengamat yang objektif, karena dia berperan sebagai subjektif.

Kierkegaard mengatakan setiap individu menciptakan diri dan dunianya melalui pilihan bebas, yang dipilih dan diputuskan sendiri oleh manusia. Terlepas dari keadaan politik yang ada pada umumnya individu eksistensi manusia  manusia bersumber dari dirinya sendiri. Bagi Kierkegaard manusia mempunyai kebebasan, tapi dia juga mempunyai tanggung jawab terhadap kebebasannya. Tapi walaupun setiap orang berteriak ingin kebebasaan menurut Kierkegaard kebebasan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, justru kebebasan itu sering mendatangkan rasa cemas dan rasa gelisah. Karena manusia takut mengambil pilihan yang nantinya akan menyusahkan dirinya.

 

Bergson (1859-1941) berpendapat bahwa penalaran, khususnya penalaran yang berlebihan lebih cenderung untuk mengurai sesuatu secara mendalam (eclectic), sehingga berakibat terjadinya fragmentation, dan hilangnya  kenyataan secara utuh (Holistik). Dia memberi contoh bahwa Bunga dilihat sebagai suatu yang indah, akan tetapi bila diuraikan satu persatu, mulai dari tangkai bunga, kelopak bunga dll maka keindahan bunga itu akan hilang. Keindahan dapat ditangkap oleh intuisi, dan tentunya intuisi tidak mengurai dan memilah-milah melainkan menangkap secara keseluruhan (Holistik)  

 

Sartre (1908-     ).Dalam pandangan Sartre dia melihat perlunya untuk mencegah pendekatan pada gejala manusia terlalu subjektif, seperti yang diajarkan oleh paham psikoanalisis Freud. Seperti diketahui Freud meninjau personality manusia karena perkembangan masa kecil, dimana  fase-fase tiap manusia harus bisa diatasi dengan baik., Sebaliknya Sartre juga menentang pendekatan pada gejala manusia yang sifatya terlalu objektif, seperti Dialektika materialisme Marxis. Dia mengemukakan bahwa  daya-daya sosial sebagai faktor pembentukan dan sifat manusia. Pendekatan haruslan diantara dua-duanya, dia menyebut harus ada rekonsiliasi antara subjek dan objek. Sebenarnya dia telah lama memikirkan hal itu  dari bukunya antara Ada dan Tiada, suatu usaha menggambungkan kesadaran Subjek  dengan dunianya (objek), dimana dia menyebutnya Psikoanalisis  Eksistensial.

Yul Iskandar, 2006

 

Mereka ini semua diakui telah memberikan sumbangan-sumbangan masing-masing yang tertentu. Sampai dewasa ini pun existensialismus sebagai suatu aliran filsafat merupakan salah satu pokok diskusi yang digemari dan banyak dibicarakan dipelbagai kalangan. Mungkin hal ini antara lain disebabkan oleh karena paham existensialismus ini dapat didekati dari pada pelbagai segi. Antara lain dapat disebutkan segi-segi teologi dialektik (Barth, Niebuhr) existensialismus yang bersandar pada filsafat Kant (Jaspers) dan existensialismus yang bermaksud menitik beratkan segi sosial (existensialismus sosial) seperti dianut oleh Gabriel Marcel, Jacques Maritain dan Martin Buber.

 

Bagi kami, penggunaan istilah existensi dan existensial merupakan hal yang tak langsung berhubungan dengan aliran existensialismus sebagai filsafat. Yang dirasakan opportun dan penting bagi ilmu psikiatri ialah tinjauan mengenai existensi manusia dalam hubungan dengan kesehatan jiwanya yang sebagaimana kita maklum merupakan suatu hal yang amat individual. Jadi boleh dikatakan juga, bahwa psikiater dalam pekerjaannya sehari-hari diharuskan menghadapi berbagai problema existensial dari individu-indivu yang beraneka warna corak kebiasaannya, sehingga tidak ada jalan lain yang lebih baik baginya dari pada meneliti existensi individual itu secara tersendiri-tersendiri.

 

Bagi psikiater masalah existensi individual itu merupakan suatu problema klinik yang harus dihadapinya setiap hari secara berkali-kali, dan secara terus menerus berlainan. Semua penderita yang datang pada psikiater mempunyai problema existensi individual yang tersendiri, yang terikat secara individual pada hidupnya, serta yang memiliki makna dan tujuan hidup yang individual pula.

Apa yang disebutkan diatas itu berarti bahwa  problema-problema itu pada prinsipnya  dapat didekati secara beraneka warna pula  dengan menggunakan pelbagai  teknik-teknik  pendekatan approach sesuai dengan  keyakinan ahli psikiatri sendiri..

Adapun cara pendekatan approach Yang hendak kami bicarakan sekarang  dan selanjutnya ialah suatu cara  yang khas  hendak disebutkan sebagai approach eklektik-holistik dan yang dianggap  cukup  bermanfaat dalam pelaksanaan dan penyelenggaraannya.

  Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s