Psikosomatik dan Gangguan karena Psikososial.

Dalam tinjauan lebih lanjut telah kita mencoba untuk mengikhtiarkan pengertian yang lebih mendalam tentang pengaruh-pengaruh yang mungkin terjadi dalam sesuatu keluarga, serta akibat-akibatnya pada individu-individu masing-masing dalam keluarga itu, terutama pada individu yang termuda, yaitu anak. selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/04/15/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-24/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
psikiater,
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Sebagai seorang dokter seumumnya telah kita membiasakan diri untuk memperhatikan asas-asas kesehatan dalam diri manusia, terutama apabila ia datang kepada kita sebagai pasien.
Sebagai seorang psikiater, secara khusus kita wajib memperhatikan asas-asas kesehatan itu, tidak hanya dalam kerangka pikir yang sempit seperti yang disarankan oleh kedokteran fisik, tetapi dalam konteks pikiran yang lebih luas, antara lain seperti disarankan dalam formulasi Organisasi Kesehatan Sedunia.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1996.)

Konsep kesehatan dari WHO seperti dikemukakan diatas sangat idealistik, dan sangat sulit dicapai, karena secara kodratnya manusia itu pada umumnya adalah menderita (suffering). Bila human suffering dimasukkan dalam lingkup kerja psikiater, maka pada saat ini nyatalah masalah itu membawa beban yang bukan main bagi pskiater. Pada umumnya human suffering adalah domain dari para rohaniawan, dan bukan domain dokter. Yang menjadi masalah sering terjadi human suffering itu berubah menjadi keluhan baik fisik maupun emosional, yang dikenal dengan psikosomatik. Sampai berapa porsi psikiater dan sampai berapa porsi rohaniawan dalam menangani kasus ini masih merupakan masalah .
Yul Iskandar 2006.

Dalam perkembangan selanjutnya, maka telah dapat disaksikan suatu perluasan dan pengkhususan yang mendalam lagi, yang tercurah dalam formulasi asas-asas kesehatan jiwa dengan segala ikhtiar-ikhtiarnya dibidang yang konkrit.
(Kusumanto Setyonegoro Disertasi 1966)

Psikiatri pada saat itu 1948-1966, lebih pada penekanan hubungan interpersonal, dan hubungan sosial maupun cara-cara membesarkan anak yang diperkirakan sebagai penyebab gangguan jiwa. Psikiatri pada waktu itu belum mempunyai cara-cara yang sistematis untuk cara pemeriksaannya. Cara-cara pemeriksaan kuantitatif dan terukur baru mulai setelah tahun 1970-an, Misalnya Brief Psychiatric Rating Scale (BPRS) , oleh Overall dan Gorham 1976, Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) oleh Hamilton 1976, Montgomery – Asberg Depression Rating Scale (MADRS) oleh Montgomery dan Asberg tahun 1979, Young Mania Rating Scale (YMRS) oleh Young 1978, Positive and negative Symptom scale (PANSS positive dan PANSS Negative oleh Kay 1988). Untuk keperluan penelitian semua Rating Scale itu telah diterjemahkan oleh Yul Iskandar dan Kusumanto Setyonegoro, antara tahun 1976 -1990).
Yul Iskandar 2006.

Dalam tinjauan lebih lanjut telah kita mencoba untuk mengikhtiarkan pengertian yang lebih mendalam tentang pengaruh-pengaruh yang mungkin terjadi dalam sesuatu keluarga, serta akibat-akibatnya pada individu-individu masing-masing dalam keluarga itu, terutama pada individu yang termuda, yaitu anak.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

Jadi pengertian perkembangan anak merupakan isu sentral pada psikiatri 1948-1966. Trauma masa kecil, adanya komplex-komplex seperti oedipus complex dan electra complex, gangguan perkembangan masa kecil, trauma masa kecil, diperkirakan merupakan masalah yang menjadikan pasien mempunyai gangguan psikiatrik.
Psikiatri setelah tahun 1970-an, berubah secara perlahan lahan tapi pasti dari yang berorientasi pada masalah hubungan interpersonal dan psikososial kearah yang lebih pasti, yaitu arah dari psikiatri Biologik dan psikofarmakologik. Oleh sebab itu Yul Iskandar dan Kusumanto Setyonegoro membuat buku Obat-obat yang dipakai dibidang kesehatan Jiwa tahun 1976, dan Perubahan setelah obat-obat generasi kedua muncul, keluar buku Obat-obat yang dipakai dibidang kesehatan jiwa Edisi II, tahun 1984, oleh Kusumanto Setyonegoro, Dr Yul Iskandar, Dr. Kedja Musadik, dan Dr. Rudy Salan.
Yul Iskandar, 2006

Adapun cara pikir yang seperti diuraikan diatas itu kami menganggapnya penting oleh karena hal itu dapat dijadikan suatu dasar dalam menyusun suatu “hypothesis kerja” dalam pelaksanaan usaha-usaha kesehatan jiwa yang positif. Sebab, kita ketahui dengan cukup pasti bahwa perubahan-perubahan yang intensif terjadi di semua lingkungan masyarakat di dunia ini, juga di Indonesia.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966.

Kusumanto melihat perkembangan Indonesia, sedikit banyak dpengaruhi oleh tempat dia tinggal di Jawa. Sebagai keturunan priyayi Jawa, maka pada tahun 1920-1940 –an, maka hanya para priyayi jawa saja yang boleh atau mendapatkan pendidkan yang baik oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika Belanda kalah oleh Jepang, dan Jepang kalah oleh sekutu, dan Indonesia mencapai kemerdekaannya, maka petani-petani Jawa dan para putra-putranya mulai muncul dalam berbagai pendidikan, sehingga perubahan sosial telah terjadi yang cukup significant.
Hal ini berbeda dengan diluar Jawa, yang justru orang-orang feodal luar jawa, telah bermetamorfosa, menjadi intelektual baru.
Yul Iskandar, 2006

Hal ini menjadi indikasi, bahwa perubahan-perubahan sosiokultural dan sosioekonomi itu tidak dapat lain, dari pada juga membawa serta perubahan-perubahan bagi tiap-tiap manusia yang ada di dalam masyarakat itu. Dengan perkataan lain : akan dapat diharapkan dan disaksikan pelbagai perubahan yang sama mendalamnya dalam diri masing-masing manusia yang menjadi unsur dari masyarakat itu, dan sekaligus juga menjadi unsur-unsur human suffering dan malahan menjadi penyebab gangguan jiwa.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966.

Yang menjadi masalah sampai berapa jauh para psikiater, harus mengetahui masalah masalah ini, yang mungkin masuk dalam domain sosiologi. Sulitnya bidang psikiatri, karena dia menjadi melting point dari berbagai ilmu, dan bila tak hati-hati akan menjadi sasaran ilmu generalis atau Holistic Eclectic, dia akan menjadi ‘he knows everything about nothing.
Sedangkan Kusumanto menekankan bahwa perlunya ilmu yang Eclectic tapi juga Holistic.
Yul Iskandar 2006.

Ditinjau dari sudut pengertian kami mengenai konsep kesehatan jiwa, kami bertanya apakah masing-masing unsur masyarakat (unsur psikososial) dan unsur keluarga itu sudah cukup dipersiapkan dan dibekali untuk menghadapi perubahan-perubahan sosiokultural dan sosioekonomi itu dengan cukup pada generasi mendatang?
Apakah mereka cukup insyaf bahwa apa yang mereka alami dan perbuat sekarang mempunyai pengaruh yang menentukan bagi generasi-generasi yang akan datang yang wakilnya mungkin sudah ada ditengah-tengah mereka, yaitu anaknya yang terkecil ? Kita juga dapat bertanya, misalnya, apakah kemampuan untuk mengusahakan adaptasi (psikososial) dari pada seorang individu atau anggota keluarga itu cukup kuat dan cukup sehat, jika kita bermaksud mengintroduksi salah satu program perubahan tertentu yang intensif ?
Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966.

Sebagai contoh kasus, Kusumanto adalah kasus yang mengalami perubahan-perubahan dengan cepat. Ditahun 1924-1942 (18tahun), beliau mengalami pendidikan barat, dengan keadaan sosio-kultural sebagai priyayi Jawa, tentunya dengan sosio ekonomi yang baik, sebab orang tuanya adalah priyayi Jawa yang terpelajar, berbahasa Belanda dan Jawa, bahasa melayu tentunya jarang dipakai. Tahun 1942-1945, mereka harus berubah secara drastis, Bahasa yang dipakai kini adalah Bahasa Indonesia (tentunya bahasa Jawa masih dipakai di dalam keluarga) sedangkan Bahasa Belanda mulai berkurang penggunaanya.
1945-1965, Terjadi perubahan yang besar, berbagai istilah kedokteran yang dari bahasa Asing di Indonesiakan. Salah satunya adalah psikiatri yang berasal dari Bahasa Inggris, sebagai ilmu Psychological Medicine, diterjemahkan menjadi ilmu kedokteran jiwa, yang sering disalah artikan menjadi ilmu yang berhubungan dengan Rohani dan Soul, yang pada dasarnya hubungannya adalah dengan brain (Otak). Selain itu kata Delusi diterjemahkan menjadi waham, sedangkan Waham sendiri yang berasal dari bahasa arab (Kamus Umum St Moh.Zain) adalah sepadan dengan kata persangkaan atau curiga, bimbang dan ragu-ragu. Sedangkan delusi dalam ilmu psikiatri berarti adanya suatu kepercayaan yang salah yang sulit dirubah.
Yul Iskandar, 2006

Ataukah mungkin pengaruh dari pada introduksi program yang demikian intensifnya itu, mungkin akan dapat diramalkan pasti akan melampaui daya kemampuan adaptasi dari pada individu yang tertentu itu. Maka oleh sebab itu, perlu kita bertanya pada diri sendiri berapa banyaknya harus kita ketahui terlebih dahulu tentang asas-asas kesehatan dan asas-asas kesehatan jiwa, sebelum kita merasa cukup bertanggungjawab untuk mengerjakan introduksi hal-hal yang baru dan yang bersifat perubahan pada salah seorang individu ?
Menurut hemat kami pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu, serta yang sejenis dengan itu, penting kita renungkan apabila kita hendak bertindak secara sungguh-sungguh dan bijaksana. Oleh sebab itu, maka menurut hemat kami ada baiknya, jika ada semacam ‘pedoman kerja” atau “hypothesis kerja” dalam pelaksanaan usaha-usaha kesehatan jiwa. Hanya dengan adanya pedoman atau hypothesis kerja yang dimaksud itu, kita akan dapat berharap untuk dapat menegakkan hal-hal tertentu mengenai interpretasi, dan antisipasi. Ada pun yang terakhir inilah kami sebutkan sebagai suatu usaha kesehatan jiwa yang bercorak positif.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966.

Mental Health program, yang bermula di Amerika, mulai mengembangkan sayapnya dinegara-negara berkembang. Cara berpikir Mental Health adalah bila kita mampu meningkatkan kesehatan jiwa, maka gangguan psikiatri dengan sendirinya akan berkurang. 40 tahun setelah disertasi Kusumanto, ternyata Mental Health program ( di USA dan negara lain) tidaklah berkorelasi dengan penurunan insidens dan prevalensi gangguan jiwa baik berat maupun ringan. Analogi dari ini adalah pekerjaan Health program, yang dicanangkan tidaklah berkorelasi (negatif) dengan insidens Malaria (didaerah endemiknya) dan Deman Berdarah Dengue (DBD). Pemberantasan nyamuk dengan berbagai cara, nyatanya tidak menurunkan insidens terjadiya DBD. Akan tetapi di India dimana dia mampu memberikan air leideng (bersih) gratis (ditahun 1980-an) siap minum, menurunkan insidens kolera yang dulu sering didengar berjangkit di India.
Inilah masalah-masalah yang perlu diperhatikan, karena banyak program Mental Health yang berjalan baik, akan tetapi tidak menurunkan angka insidens dan prevalensi gangguan psikotik apalagi gangguan psikosomatik.
(Yul Iskandar, 2006)

Reaksi yang pertama dapat dianggap sebagai suatu sikap yang berpusat pada suatu pola individualistik. Mereka yang cenderung pada pola itu lebih cenderung untuk haus menyambut perubahan dan pembaharuan, juga yang kadang-kadang bersifat kecenderungan avonturistik. Reaksi yang lain agaknya lebih berpola sentral pada suatu jenis pemuasan yang bersifat pola kolektivistik. Pola ini dapat dianggap sudah mulai terakar pada relasi-relasi interpersonal yang mungkin mulai terbentuk karena sejarah yang bergenerasi terdahulu.

Terang kiranya, bahwa dengan menempatkan kedua-dua posisi reaksi itu secara pole (polair) tidak berarti, bahwa antara kedua pola reaksi itu yang sepintas lalu mungkin dapat dipahami sebagai “dua kutub yang berlawanan dan berjauhan”, tidak terdapat bentuk-bentuk variasi atau kombinasi. Dengan perkataan lain, dapat ditegaskan bahwa pemahaman poler ini tetap membuka kemungkinan-kemungkinan yang realistik untuk adanya bentuk-bentuk sistem keluarga campuran yang sifatnya beraneka warna, tanpa keharusan untuk menganggap bahwa segala sesuatu itu harus terjadi secara mutlak dan saling eksklusif.
Oleh sebab itu, maka menurut pendapat kami, dengan menerima asas polaritas dan kontraritas seperti yang diuraikan diatas, bukanlah berarti bahwa kita hendak menngikatkan diri pada asas antitetik yang sifatnya absolut. Yang dimaksudkan ialah agar penerimaan asas-asas itu dapat memperoleh suatu asas oreantatif yang seluas-luasnya dalam arti kata yang sebaik-baiknya.
Asas oreantatif ini dapat dijadikan pedoman dasar yang dirasakan cukup bermanfaat bagi pelbagai usaha kesehatan jiwa yang positif, dalam mana soal kepuasan manusia baik secara individual maupun secara kolektif patut diperhatikan secara sungguh-sungguh. Dan lebih lanjut lagi, seperti juga diuraikan dalam pasal mengenai asas-asas ilmu psikiatri masalah kesehatan jiwa itu tidak lain dan tidak bukan, haruslah kita meninjaunya dari sudut pergaulan atau hubungan antar manusia (relasi interpersonal), suatu hal yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat spesifik human. Yang dimaksud sebagai spesifik human ialah adanya manusia-manusia lainnya yang sedemikian sifatnya sehingga memuaskan dan menguntungkan baik dirinya sendiri maupun lingkungannya.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: