Beberapa tinjauan komparatif

 

 

Salah satu hal yang dapat dijadikan landasan tujuan ialah kemungkinan-kemungkinan proses indentifikasi bagi seorang anak dalam masing-masing keluarga itu. Jikalau dalam keluarga nuklear, si anak seolah-olah diwajibkan untuk mengarahkan identifikasinya pada Ayah dan Ibunya sendiri, dalam sistem keluarga besar keadaanya berlainan. Biasanya, dalam keluarga besar itu anak memperoleh kesempatan yang jauh lebih luas untuk berhubungan dengan orang-orang dewasa lain disamping orangtuanya sendiri. Selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/04/08/beberapa-tinjauan-komparatif/

 

 

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (22)

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini.

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

Perbandingan-perbandingan antara keluarga yang bersistem keluarga besar dan yang bersistem keluarga nuklear kadang-kadang menarik perhatian para observator. Salah satu hal yang dapat dijadikan landasan tujuan ialah kemungkinan-kemungkinan proses indentifikasi bagi seorang anak dalam masing-masing keluarga itu. Jikalau dalam keluarga nuklear, si anak seolah-olah diwajibkan untuk mengarahkan identifikasinya pada Ayah dan Ibunya sendiri, dalam sistem keluarga besar keadaanya berlainan. Biasanya, dalam keluarga besar itu anak memperoleh kesempatan yang jauh lebih luas untuk berhubungan dengan orang-orang dewasa lain disamping orangtuanya sendiri.

 

(Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Kusumanto berasal dari priyayi Jawa, tentunya berbeda dengan  keluarga-keluarga petani Jawa, atau kalau dibandingkan dengan orang luar Jawa, maka ternyata kebudayaan sangat berbeda.  Kebudayaan, adat istiadat merupakan salah satu komponen terbentuknya identitas si anak. Dibawah ini  ada sedikit ilustrasi bagaimana  orang dari daerah Minang yang bersifat Matrilineal (menurut garis ibu)  dibesarkan dan kebudayaannya.

 

Pada awalnya ada dua datuk, yaitu Dt Marajo Basa di Padangpanjang dan Dt. Bandaro Kayo  di  Pariangan Padangpanjang. Pada waktu itu belum ada kerajaan Minagkabau.

Kedua datuk itu  menyusun undang-undang aseli yang bernama  Undang-undang  si Mumbang Jatuh, undang-undang  si Gamak-gamak dan si Lamo-lamo. Ketiga undang-undang  ini disusun tangkainya satu demi satu, di pakukan ketiang panjang, dan dibasuh kelautan.

 

Berdasarkan undang-undang itu kemudian Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang  (mereka  satu ibu lain bapak), membuat undang-undang yang sama yang telah ada. Dasar peraturan Datuk pertama  adalah berpucuk bulat titik dari atas dengan caranya bertangga turun. Dasar peraturan Datuk kedua  Berakar(urat) tunjang, membersut  dari bumi dengan tata caranya  berjenjang naik. Kelihatannya kedua peraturan itu berbeda, akan tetapi  sebenarnya sama, hanya beda sudut pandang saja.

 

Bila terjadi pertikaian dan pertentangan akan dibawa ke Balai nan saruang di Pariangan Padang panjang, disana kerapan mempunyai kekuasan mutlak (punya hak veto), Genting putus biang tembuk, dan ketua dari kerapatan  adalah Datuk Maharajo nan banego-nego. Sejak awal di Minangkabau  pemerintahan adalah demokrasi, dan demokrasi tertinggi yang memutuskan adalah dalam kerapatan adat, yang mempunyai hak veto dan undang-undang atau aturannya harus diturut.

 

Anak dari Batu Subang Gadang, kemudian menjadi Datuk perpatih nan Sebatang (karena dia mendapat peti (perpatih) dari sebatang pohon.  Kemudian dia membangun rumahnya dari sebatang pohon kayu yang dinamakan kayu Bodi. Anak keturunannya kemudian menyebutnya suku Bodi Chaniago.

 

Sementara itu anak kemenakan Datuk Ketemanggunan (satu ibu lain bapak dengan Datuk Perpatih nan Sebatang)  menyebut dirinya suku Koto Piliang (berasal dari kata pilihan.), karena kata –kata datuk itu selalu keluar yang baik-baik yang telah terpilih dari pikiran yang sehat. Datuk Ketemanggungan  dengan pengiringnya  menuju Sungai  Solok, yang pada waktu bernama Batang Teranjur, dan kemudian berganti nama menjadi rantau Tiku-Pariaman.

 

Adapun  daerah ulayat kaum koto Piliang  mulai di hulu G. Merapi sampai di Pantai Lautan Hindia. Salah satunya nanti akan ke Pariaman, daerah yang waktu itu disebut rantau (daerah dibalik bukit barisan). Di Pariaman kebanyakan dari para Penghulu, Damang dan Laras, biasanya berasal dari suku Koto Piliang. (Sutan Iskandar juga berasal dari Suku Koto Piliang) semuanya anak kemenakan Datuk Ketemanggunan. Salah satu anaknya yang lahir di Pariaman  dinamakan Anggun nan Tunggal Magek Jabang. Salah satu keturunannya adalah  Tuangku Tagang Tunjuk.

 

Di Minangkabau tanah ulayat, diwariskan kepada kemenakan, bukan kepada anak, akan tetapi di Pariaman, dimana kebanyakan berasal dari suku Koto Piliang, maka ayah menurunkan kepada anaknya, misalnya gelar (Sutan, Sidhi dan Bagindo) begitu juga harta-harta yang didapat oleh bapaknya, akan diberikan kepada anaknya,  sebab undang-undang orang Koto Piliang (anak kemenakan Datuk Ketemanggunan) adalah  titik dari atas, berjenjang turun, bersifat feodal, ada raja-raja kecil (Sutan-sutan) dan agak berbeda dengan orang Minang dari Tanah Datar atau Agam. (Disarikan dari His Story of Sutan Iskandar).

 

Yul Iskandar 2006.

 

Yang dimaksud  antara lain: anggauta-anggauta  keluarga besar yang biasanya juga berumah dan tinggal  dibawah atap rumah yang sama, seperti paman, bibi,atau kakek dan neneknya. Juga yang menumpang dikeluarga besar itu walaupun hubungan keluarga nya secara darah sudah agak jauh; dan demikian pula  mereka yang juga  tinggal dirumah  itu dan bertugas sebagai pembantu rumah tangga. Dan tidak mustahil pula  bahwa  mereka  yang tersebut terakhir itu juga mempunyai keluarga sendiri yang juga terdiri dari  anak-anak mereka sendiri. Dengan demikian , maka si anak daripada  ‘tuan dan nyonya rumah’ yang berkeluarga besar , juga dapat bergaul secara intensif  dengan anak-anak seusia  dan sebaya dengan mereka , dirumah mereka sendiri.

(Kusumanto  Setyonegoro, disertasi 1966.)

 

Ada perbedaan pula antara penduduk Jawa, dan Minang pada  tahun 1920-1940-an. Pada waktu itu anak-anak laki-laki orang minang harus tidur di surau. Jadi tak anak laki-laki yang tinggal dengan orang tuanya, tetapi belajar mengaji, belajar ilmu silat dan tidur di surau  dekat  orang  tuanya. Surau menjadi bagian penting dalam pendidikan anak, pada waktu itu, yang agaknya kini setelah pecahnya perang PRRI,  anak yang tidur di surau telah sangat jarang. Tentu saja terjadi perbedaan pandangan antara orang Jawa dan orang minang disaat itu. Bagi orang Jawa tentunya  mengikuti tatakrama keluarga adalah penting, sebaliknya bagi anak-anak dari Minang mengikuti aturan dari surau (sosial)  adalah yang terpenting.

Yul Iskandara 2006.

 

Demikianlah maka jelas kiranya, bahwa situasi dalam keluarga besar memberikan keleluasaan dan kesempatan yang lebih besar bagi si anak untuk mengadakan relasi interpersonal dengan material manusia dewasa dan anak yang lebih bervariasi. Secara psikodinamika, mungkin dapat disebutkan bahwa kemungkinan untuk identifikasi yang bersilang-silang (boleh disebut “cross identifications”) jauh lebih besar.

 

Hal lain yang perlu dikemukakan ialah soal intensitas dari identifikasi itu. Hal ini sudah jelas terjadi secara amat intensif dalam keluarga nuklear, antara lain karena corak-corak relasi fisik dan emosional seolah-seolah sudah merupakan suatu yang terberi bagi keluarga demikian. Hal sebaliknya dari pada itu dijumpai dalam keluarga besar. Disitu dapat juga bahwa relasi-relasi interpersonal akan terbukti bersifat jauh lebih kurang intensifnya, walaupun harus diakui bahwa tetap ada kemungkinan-kemungkinan variasi yang cukup luas.

Oleh karena itu dengan cukup reserve orangtua dalam suatu keluarga besar, tidak berarti bahwa relasi-relasi itu semuanya harus bersifat renggang, dangkal ataupun tak mesra. Sebab masih ada suatu hal lain pula yang perlu kita pertimbangkan, yaitu suatu hubungan hangat dan mesra yang senantiasa dapat terjelma antara orangtua dan anak, lepas dari pada sistem keluarganya yang dapat bersifat besar ataupun nuklear.

 

Sebaliknya dapat dikatakan yaitu bahwa suatu hubungan mesra pada prinsipnya tidak akan terhalang karena sistem keluarga (besar atau nuklear), tetapi mungkin lebih bergantung pada bagaimana  orangtua yang bersangkutan dapat memberi arah dan struktur dari pada hubungan dengan anaknya. Hanya, rupa-rupanya situasi daalam suatu keluarga besar tidak mengandung faktor-faktor yang merupakan tunjangan yang kuat bagi terlaksananya hubungan interpersonal yang semesra-mesranya dan seerat-eratnya seperti yang dirasakan tunjangannya dalam suatu keluarga nuklear.

Disamping itu masih perlu disebut kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang dapat bertindak sebagai codeterminant dalam mempengaruhi sifat dan corak  hubungan-hubungan  interpersonal dalam keluarga besar.  Antara lain : pentingnya kedudukan adat istiadat kebiasaan, pelbagai keharusan atau kewajiban menurut keyakinan keagamaan dan kebiasaan-kebiasaan keluarga besar itu sendiri yang dalam mempengaruhi sifat juga merupakan ketentuan-ketentuan yang penting untuk dituruti tanpa kebebasan untuk merubahnya.

 

Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: