Keluarga besar dan keluarga kecil.

Keluarga besar dan masyarakat-masyarakat yang kebanyakan terdiri dari pada keluarga-keluarga yang bersistem demikian, pada umumnya nampak bersikap lebih rigide (kaku) dan bersikap lebih bertahan(resistent) terhadap keharusan adaptasi dan inkorporasi pelbagai fenomena-fenomena yang dibawa oleh proses perubahan. . . . .Antara lain sifat kakunya perlawanan itu kelihatan apabila masyarakat itu harus menghadapi perpindahan penduduk secara besar-besaran, seperti yang lazimnya diwajibkan karena proses industrilisasi atau transmigrasi. Seterusnya di : https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/04/01/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-20/

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

 Guru besar (emeritus)  psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini,  

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

 

(a)      Prinsip-prinsip keluarga besar (extended family) dan keluarga inti (nuclear family)

 

Keluarga besar dan masyarakat-masyarakat yang kebanyakan terdiri dari pada keluarga-keluarga yang bersistem demikian, pada umumnya nampak bersikap lebih rigide (kaku) dan bersikap lebih bertahan(resistent) terhadap keharusan adaptasi dan inkorporasi pelbagai fenomena-fenomena yang dibawa oleh proses perubahan.

Antara lain sifat kakunya perlawanan itu kelihatan apabila masyarakat itu harus menghadapi perpindahan penduduk secara besar-besaran, seperti yang lazimnya diwajibkan karena proses industrilisasi atau transmigrasi.

Meskipun demikian, akhirnya perlawanan itu tidak dapat bertahan terus, dan keluarga besar tadi tidak ada jalan lain dari pada terpecah menjadi keluarga-keluarga nuklear. Proses dan peristiwa itu dapat disaksikan sebagai akibat konsekwen dan automatik dari merantaunya pemuda dan pemudi ke pusat-pusat industrilisasi.

(Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Zaman modern sekarang ada kecenderungan yang sangat kuat dari kaum perempuan, dari lapisan manapun mereka, untuk bekerja di luar rumah.  Semakin tinggi pendidikannya semakin kuat keinginan untuk bekerja di luar rumah.  Kesetaraan gender dan bahkan kebebasan perempuan yang semakin merebak di berbagai negara tampaknya merupakan reaksi atas dominasi pria.  Dilema muncul manakala perempuan tersebut memasuki dunia rumah tangga dan mempunyai anak. Ibu yang mempunyai kemampuan besar mengasuh anak untuk menjadi pemimpin besar, menyerahkan anaknya pada pembantu yang mengajak anaknya menonton sinetron tiap hari, sehingga kecil kemungkinan si anak nantinya  bisa berprestasi.

 

(Dr. Yul Iskandar 2006)

 

Pusat-pusat ini kemudian dengan logik pula menjelma menjadi tempat-tempat berkuasanya generasi muda yang dengan sendirinya pun meninggalkan generasi tua yang disingkirkan sama sekali atau hanya menduduki tempat dan posisi yang tidak penting artinya.

Oleh sebab itu, maka tepat sekali kiranya jika kepada generasi muda sekarang ini diserukan, agar mereka itu segera dan dengan segala kekuatan dan kepandaian mempersiapkan diri dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk memangku jabatan dan menerima tanggung jawab sepenuhnya sesuai dengan peredaran dan tuntutan jaman.

Maka oleh sebab itu pula dapat dipahami bahwa secara rasional, suatu program sistematik pemancaran penduduk dan keluarga sudah sewajarnya menjadi salah satu acara dan sasaran penting dalam rencana mendidik anak menuju ke kedewasaan dan kebebasan mental.

Dengan demikian program dan rencana itu merupakan usaha penting dalam tiap-tiap usaha kesehatan jiwa yang teratur. Merenggangnya hubungan-hubungan dalam suatu keluarga besar menjadi fase pendahuluan dari pada pecahnya keluarga itu menjadi keluarga-keluarga nuklear.

Fase itu memungkinkan para pemuda dan pemudi yang berbakat untuk meninggalkan keluarga induknya untuk bergerak maju di daerah-daerah yang baru dan yang belum dikenal. Kemudian mereka tumbuh dan berkembang disana sesudah transplantasi fisik dan mental itu dapat berlangsung dengan sesempurna-sempurnanya.

Dalam pada itu, tetap perlu diperhatikan adanya harmoni dalam keluarga yang ditinjau dari sudut kesehatan jiwa menjadi salah satu landasan yang utama bagi kesehatan itu. Hal ini sangat ilustratif dapat kita teliti pada proses-proses perkembangan pada seorang bayi. Bagaimana seorang bayi itu akan berkembang menjadi seorang kanak-kanak, seorang anak muda, seorang adolenscent dan kemudian seorang yang dewasa sepenuhnya, menurut tinjauan kami, sangatlah bergantung pada kemahiran orangtuanya masing-masing untuk melakukan manipulasi-manipulasi dengan segala teknik dan pengetahuannya untuk memberikan rasa kepuasan atau pemuasan dalam dosis-dosis dan pada saat-saat yang optimal.

Jika berpangkal dari landasan yang sekecil-kecilnya, yaitu yang terdiri dari pada seorang Ayah, seorang Ibu dan seorang bayi, maka dapatlah diperhatikan peristiwa-peristiwa yang digambarkan dibawah ini. Dari masa si bayi masih menyusu pada ibunya dan taraf-taraf perkembangan selanjutnya kita dapat saksikan bahwa bayi itu secara progressif menunaikan pelbagai kewajiban-kewajiban tertentu.

Kewajiban kebersihan dan hygiene diri, kewajiban untuk memperkembangkan dan memperlihatkan rasa kesosialan baik terhadap lingkungan dekat maupun lingkungan yang lebih luas, dan akhirnya kewajiban untuk turut serta dalam tata tertib bekerja sesuai dengan ketentuan-ketentuan umum masyarakatnya. Semuanya wajib diusahakan dengan memperhatikan relasi-relasi yang optimal sehingga terdapat suatu keadaan pemuasan keinginan sendiri (pihak-pihak lain) disatu pihak dan kewajiban dari luar, dipihak lain.

Oleh sebab itu, maka tepatlah pendapat umum bahwa seorang Ibu sebagai seorang figur yang sentral dalam seluruh didikan dan perkembangan anak patutlah pandai menciptakan hubungan interpersonal yang hangat dan mesra yang dengan terus menerus dapat memancarkan sifat-sifat kehangatan itu secara menggembirakan. Hubungan ini seolah-olah secara reflektorik menimbulkan sambutan yang sama hangatnya dalam diri si anak, sehingga landasan kehangatan interpersonal ini menjadi manifest dalam seluruh atmosfir keluarga itu.

Secara lambat laun maka figur Ayah pun masuk ke dalam ruang hidup si anak. Proses timbal balik dalam saling menaruh perhatian dan saling hormat menghormati itu menjadi semakin kompleks, tetapi karenanya juga dapat berkembang secara lebih subur lagi. Semuannya ini akan memperkokoh adanya hubungan yang boleh disebut “instinktual” antara Ibu, Ayah, anak.

Dalam matrix keluarga yang subur ini dapatlah mudah dimengerti bahwa perubahan-perubahan yang disarankan atau yang diwajibkan oleh orangtua-otangtua masing-masing akan disambut dengan baik dan positif pula oleh si anak. Ia akan tidak hanya menerima kewajiban-kewajiban baru itu tetapi ia juga akan berusaha keras agar kewajiban-kewajiban baru itu dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya karena ia sendiri akan juga merasa dirinya amat puas karenanya.

 

(Kusumanto Setyonegoro  1966)

 

Dalam keluarga nuklear ini maka peranan pendidikan anak menjadi sangat penting. Anak akan menjadi dewasa, dan apa yang terjadi pada anak diwaktu dewasa, tergantung pendidikan anak diwaktu kecil, dan pendidikan anak waktu kecil tidak lain dari bermain, dan belajar.

Pendidikan anak membutuhkan pendekatan dengan metode yang khusus.  Agar dapat berhasil dalam menangani  anak harus didasarkan atas pengamatan langsung terhadap setiap anak.  Dalam pendekatan ini anak harus dikenal sebagai individu dengan segala keunikannya. 

Masalah yang dihadapi setiap anak harus diselesaikan secara khas pribadi.   Dalam menangani masalah tersebut harus pula melibatkan orangtua untuk mengetahui lebih mendalam persoalan yang terjadi di rumah.  Selain itu tepat tidaknya suatu tindakan yang diambil guru ditentukan oleh lengkap tidaknya records atau kumpulan catatan tentang anak yang bersangkutan. Tepatnya tindakan yang dilakukan guru juga bergantung pada  baik tidaknya pemahaman guru terhadap   anak yang terkena tindakan.

Menurut Friedrich Frobell tugas pokok dari pendidikan terhadap anak ialah merangsang kecenderungan mereka untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan pengamatan anak atas lingkungan di sekitarnya.  Pengamatan ini harus dilakukan melalui berbagai jenis permainan.  Permainan dengan aturan atau permainan tanpa aturan. Permainan kanak-kanak sudah lama menjadi pusat perhatian para pendidik di seluruh dunia.  Jean Jacque Rousseau yang berhasrat membebaskan hidup manusia dari segala ikatan adat yang kaku adalah pelopor pendidikan merdeka.  Salah satu tuntutan Rousseau adalah kemerdekaan jiwa kanak-kanak, membebaskan anak dari kekangan dan mengemukakan kodrat hidup dan kodrat jiwa anak-anak.  Itulah yang terkandung dalam bentuk dan isi berbagai macam permainan anak-anak. Apabila diamati segala gerak gerik anak-anak, menilik segala sikapnya, kesedihan, kesenangan, perilakunya maka dapatlah dilihat bahwa semua itu nampak dalam berbagai macam permainan anak.  Dapat dikatakan bahwa bermain mengisi sepenuhnya hidup anak mulai dari bangun tidur  sampai tidur lagi.  Beristirahat hanya kadang-kadang kalau anak merasa sungguh-sungguh lelah.  Semua pemutusan waktu bermain dianggap oleh anak-anak sebagai gangguan yang mengecewakan.  Bila anak merasa lelah, ia akan berganti bermain yang serba ringan dan dilakukan dengan spontan.

Istilah bermain perlu dirumuskan sebelum suatu kegiatan dapat dikategorikan kedalam bermain atau belajar. Ada lima karakteristik bermain yang esensial (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linear, menyenangkan dan pelaku terlibat aktif.  Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi.  Misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan ke anak maka proses pembelajaran bukan lagi melalui bermain.

Ketidak sensitifan orangtua terhadap kesulitan anak juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya waktu orangtua yang bekerja di luar rumah.  Oleh karena itu perlu dilakukan perubahan persepsi tentang bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain yang mengacu kepada lima karakteristik bermain.

Piaget percaya bahwa anak-anak belajar melalui bermain.  Bermacam-macam pusat kegiatan di kelas dibuat dengan tujuan untuk memfasilitasi bermain.   Sudut pustaka, area rumah tangga, area balok, area seni dan permainan menyediakan materi yang sesuai untuk mendorong anak melakukan eksperimen dalam memenuhi rasa ingin tahu mereka.  Tidak ada istilah ”cara yang  benar” dalam menggunakan materi tersebut. 

Konsep discovery learning berfokus pada bagaimana manusia menyusun berbagai macam pengalaman mereka.  Bagaimana mereka membuat pengalaman-pengalaman tersebut menjadi masuk akal, dan bagaimana mereka menghubungkan pengalaman masa kini dengan pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori.

   Berbagai macam definisi tentang bermain menyebabkan kebingungan sehubungan dengan istilah bermain dalam seting pendidikan.  Untuk lebih memahami tentang makna dan nilai bermain, perlu ditelusuri dampak bermain terhadap perkembangan anak dan peranan bermain serta metode bermain dalam proses belajar dan berkembang.  Diperlukan penelusuran dalam perspektif historis, teoritis dan kultural untuk mengetahui kaitan jenis dan strategi bermain yang dapat memfasilitasi belajar dan berkembang.

Sejak zaman Mesir Kuno sampai dengan abad pertengahan  anak-anak di Eropa diberi kesempatan untuk mempunyai kebutuhan dan kegiatan khusus termasuk bermain. Selama masa Renaissance anak-anak kurang diberi kesempatan untuk bermain dibandingkan dengan kesempatan untuk orang dewasa. Pada zaman itu, orang-orang dari berbagai tingkatan usia bekerja dan sekaligus bermain.  Barulah pada abad 17 muncul kesadaran tentang perbedaan kebutuhan antara anak-anak dengan orang dewasa.  Kesadaran bahwa kebutuhan bermain berhubungan  dengan perkembangan anak Demikian juga jenis-jenis permainan, akan  mempengaruh perkembangan anak.

Secara teori  fokus pada bagaimana bermain memfasilitasi kesempatan anak untuk mengembangkan pemahaman terhadap dunia di sekitarnya melalui interaksi dengan orang, benda, dan lingkungan.  Salah satu atribut yang signifikan dari bermain adalah bahwa bermain dalam hubungannya dengan belajar dan berkembang mengintegrasikan semua aspek Multipel Inteligensi.
          Pemberian stimulus pada saat yang tepat memerlukan pengetahuan tentang bagaimana dan kapan anak berkembang.  Karena tidak semua anak berkembang pada waktu yang bersamaan.  Artinya pada anak dengan usia yang sama belum tentu  tumbuh kembangnya dalam waktu yang sama.  Waktu untuk pencapaian perkembangan tersebut tidak mencerminkan kecerdasan.  Pada umumnya anak akan berkembang secara fisik, mental (dan emosional), sosial, bila anak belajar berdasarkan konteks. Berbagai aktifitas perlu diberikan kepada anak untuk melatih otot-ototnya (large and small muscles).  Melatih ketrampilan pertumbuhan otot dan menjaga tubuh tetap sehat sangatlah penting untuk masa depan anak.  Latihan yang diperlukan mulai dari melompat, berlari, melempar, menangkap dan latihan gerakan kasar lainnya sampai latihan gerakan halus, seperti menggunting, menggambar, meremas, dll. Secara mental (dan emosional)  dengan permainan yang memfasilitasi pertumbuhan otot-ototnya, perlu pula  anak belajar ketrampilan pemecahan masalah, ketrampilan berpikir kritis, dan ketrampilan berbahasa.

Dalam lingkup perkembangan sosial, anak-anak mengenal diri dan lingkungan terdekatnya.  Mereka mengenal keluarga dan orang dewasa di sekitarnya.  Mereka melihat anak lain dan ingin berinteraksi. Ada tahapan-tahapan yang dilalui anak dalam bermain.  Bermain sendiri (solitair), bermain dekat anak lain tetapi mereka bermain masing-masing tidak berinteraksi, bermain dengan anak lain tapi belum mau berbagi, bermain dan berbagi, dan bermain dengan tujuan yang telah ditentukan bersama anak-anak lain atau sendiri.  Bila anak sukses melalui tahapan dalam bermain ini dan menguasai ketrampilan sosial, diharapkan mereka mampu belajar secara kooperatif dengan anak lain dan akan mampu menyelesaikan konflik dengan cara damai.

Orangtua dan guru seringkali merasa resah dan menjadi lelah melihat anak bermain dari satu permainan ke permainan berikutnya.  Mereka seolah-olah merasakan kelelahan melihat anak bermain yang tiada habisnya. Bermain dan bereksplorasi seakan tidak ada batasnya.  Anak yang sedang bereksplorasi mereka tampak serius.  Ada perbedaan budaya dalam setiap aktifitas
permainan.   Jumlah permainan anak-anak sangat banyak.  Bahkan dapat dikatakan tak terhitung, karena selain permainan-permainan lama juga permainan baru bertambah.  Secara kodrati anak-anak senang meniru segala hal yang menarik perhatiannya.  Anak-anak juga mempunyai sifat konservative atau segan melepaskan adat istiadat yang sudah menjadi kebiasannya.  Dengan kondisi tersebut, seringkali kita lihat permainan lama terus hidup disamping permainan baru.  Atau dapat juga merupakan pembaharuan permainan, yakni cara dan lakunya lama, tetapi dengan isi baru.  Dengan begitu di dalam hidupnya anak-anak selalu nampak kemajuan berkelanjutan,  yaitu permainan dalam zaman yang lampau bersambung dengan permainan dalam zaman berikutnya.

Berdasarkan  jenisnya,  permainan dibagi menjadi beberapa kelompok.  Pertama, dapatlah dikatakan adanya permainan bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Masalah ini sangat penting, sehingga  anak sejak kecil sudah mendapat perhatian dan pengetahuan tentang dirinya, khususnya tentang gender  dirinya.  Bila ini dilupakan anak bisa lupa atau tak mengerti akan gendernya yang nantinya akan mengacaukan dirinya.  Kedua, ada permainan yang dapat dimainkan oleh anak laki-laki bersama dengan  anak perempuan.  Sifat dan bentuk permainan itu berbeda-beda sesuai dengan sifat hidup anak perempuan dan anak laki-laki atau sifat hidup anak-anak pada umumnya.  Jenis permainan yang bersifat keolahragaan menggunakan kekuatan tubuh serta ketangkasan sikap  jiwa pada umumnya.  Dengan permainan yang mengikut sertakan sikap jiwa terlihat adanya hubungan antara permainan anak dengan budi pekerti.   Sikap ini  penting untuk mendidik anak selain masalah religius, masalah adab dan budi pekerti, masalah moral, yaitu apa yang dinamakan salah dan apa yang dinamakan benar, sesuai dengan kebudayaan  lingkungannya.  Dengan pengertian tersebut, Friedrich Frobel, pencipta Kindergarten, menggunakan permainan dan nyanyian anak-anak untuk mendidik anak dengan cara yang sesuai dengan kodrat dan iradatnya, dan beliau mempunyai semboyan: ”From Nature to Culture” . 

(Dr Yul Iskandar, 2006)

 

Oleh sebab itu, maka sekali lagi pentingnya matrix keluarga yang baik dan subur itu tidak ternilai. Perubahan-perubahan yang diharuskan akan memperoleh sambutan yang hangat dengan kepercayaan, penuh ketenangan dan ketabahan hati, karena si anak (dan anak-anak lainnya) yakin akan baik maksudnya. Dan lebih lanjut lagi : tiap-tiap introduksi perubahan baru terdahulu yang telah berhasil dengan sukses akan melapangkan dan memudahkan suatu introduksi dari pada perubahan atau kewajiban baru berikutnya.

 Ditinjau dari sudut dinamika psikologi, maka anak yang demikian itu telah berhasil baik dalam ikhtiar identifikasi yang positif dengan lingkungannya, yang telah dimulainya dengan figur Ibu dan figur Ayahnya. Maka oleh sebab itu pula, anak itu dapat lebih mudah menerima dan menginkorporasi nilai-nilai yang dijunjung oleh orangtuanya itu sebagai luhur dan teruji. Dan oleh karena itu pula maka ia lebih mudah menerima tugas-tugas baru, sekalipun tugas-tugas itu pada taraf permulaan mungkin merupakan suruhan atau keharusan pihak orangtuanya.

Pada taraf dewasa maka individu ini lebih mudah bersedia untuk menjalankan tugas-tugas baru yang merupakan tantangan interessant baginya, tanpa suruhan ataupun desakan luar. Itulah salah satu sebab utama mengapa seorang individu yang sehat itu dalam perkembangan mentalnya dapat meningkat setaraf demi setaraf ke arah kedewasaan yang lebih sempurna. Ia tidak henti-hentinya menyambut dengan senang hati tiap-tiap tugas baru yang dinilainya secara positif.

Ia tidak akan merasa dirinya terhambat karena situasi ataupun keadaan yang lama, yang bersifat usang ataupun mythos lapuk tiada berisi. Ia akan dapat menghadapi konflik dengan menempatkan diri dalam posisi yang fleksibel dan progresif karena ia dapat melihat dalam perspektif yang berjangka jauh, malahan jika perlu dengan merubah rangka berpikir yang lama sehingga ia senantiasa mampu membawa diri ke dalam suatu sikap akseptasi yang positif.

 

( Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: