Proses Perubahan

Oleh karena itu, maka proses perubahan manusia yang dengan sendirinya akan dibawa oleh proses perubahan situasi materi dan situasi spiritual tertentu, haruslah sedapat-dapatnya memperhatikan pula adaptasi harmonik. Yang dimaksud dengan adaptasi harmonik ialah adaptasi yang memperhatikan syarat-syarat sopan santun dan ketentuan adat istiadat kebiasaan, serta segala sesuatu yang dianggap bernilai dalam suatu masyarakat. Selanjutnya di : https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/03/29/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-19/

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

 Guru besar (emeritus)  psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

 

Dengan demikian, maka sampailah pada soal pertama dalam hubungan kesehatan jiwa ini, yaitu masalah proses perubahan manusia.

 

(a)         Proses perubahan manusia

         Secara umum diakui sudah, bahwa manusia itu terus berada dalam proses perubahan. Ditinjau dari sudut kesehatan jiwa ini berarti bahwa proses perubahan itu harus berjalan sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan keadaan kesehatan jiwa secara terlampau destruktif.

 (Kusumanto Setuonegoro 1966)

 

Perubahan manusia dapat  berupa kelahiran bayi menjadi anak, anak menjadi remaja, remaja, menjadi dewasa, dewasa menjadi tua, dan akhirnya meninggalkan dunia ini.

Banyak orang dewasa yang berpandangan bahwa dia mampu menjadi orang besar sekarang dengan sendirinya, tanpa pendidikan dan bantuan orang lain. Pendapat demikian sebagian ada benarnya, tetapi apakah betul tidak ada tangan-tangan trampil yang memoles kemampuan seorang anak menjadi manusia dewasa yang sukses? Bahwa pendidikan  anak-anak tak perlu oleh ahli,  pendidikan anak cukup dilakukan oleh orang dewasa yang tidak memerlukan pengetahuan tentang Pendidikan Anak.?  Anak dengan otomatis akan tumbuh dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.  Pandangan seperti itu boleh saja dilakukan, namun alangkah lebih bermaknanya hidup kanak-kanak tersebut  apabila ketika masa kanak-kanak mereka diasuh oleh ”pawang” yang tepat.  Dan betapa akan optimalnya pertumbuhan dan perkembangan anak bila pemantauan dan intervensi dilakukan di saat yang tepat. Kalau kita perhatikan dulu  tugas-tugas  pendidikan non akademis anak dilakukan oleh para orangtua masing-masing.  Dengan tulus dan telaten para orangtua yang notabene pendidikan formalnya kurang tapi mereka mampu membuat aturan-aturan atau norma-norma yang menjadi landasan kehidupan putra-putri mereka.  Para orangtua tempo dulu memberikan layanan bagi pertumbuhan fisik anak dengan menyiapkan makanan yang mengandung gizi seimbang.  Mereka rela bangun lebih pagi dan tidur lebih malam untuk melayani keluarga.  

 

(Dr. Yul Iskandar 2006)

 

Oleh karena itu, maka proses perubahan manusia yang dengan sendirinya akan dibawa oleh proses perubahan situasi materi dan situasi spiritual tertentu, haruslah sedapat-dapatnya memperhatikan pula adaptasi harmonik. Yang dimaksud dengan adaptasi harmonik ialah adaptasi yang memperhatikan syarat-syarat sopan santun dan ketentuan adat istiadat kebiasaan, serta segala sesuatu yang dianggap bernilai dalam suatu masyarakat.

(Kusumanto setyonegoro, Disertasi  1966)

 

Perubahan dari bayi menjadi dewasa adalah salah satu aspek saja, akan tetapi manusia berkembang berubah baik kebudayaan dan nilai-nilai yang  dianut oleh si anak. Pada umumnya orang tua ingin mempertahankan hal-hal yang lampau, yang lama, sedangkan si anak ingin perubahan sesuai dengan teknologi yang berkembang pada saat itu.

 Melalui dongeng-dongeng yang dituturkan menjelang anak tidur adalah salah satu cara orangtua untuk memasukkan nilai-nilai moral lama, perjuangan, motivasi pada anak.  Proses pembelajaran di rumah tersebut dilakukan terus menerus, akan tetapi tidak bisa menahan proses perubahan yang akan terjadi.

 

(Dr Yul Iskandar 2006)

 

 Adaptasi harmonik itu tidak dapat dipaksakan. Mungkin hanya sekedar dapat dianjurkan. Itu pun jika anjuran-anjuran itu diperlukan.

Salah satu faktor ialah lingkungan sosio budaya individu itu, yang dapat berpengaruh secara amat mendalam memberikan corak yang menentukan pada tingkah laku tadi. Keluhan manusia modern di kota besar atau metropolis sangat berlainan sekali dari pada mereka yang sezamannya, tetapi hidup di daerah pertanian atau pedusunan.

Demikian pula, maka tingkah laku manusia dalam abad sekarang ini amat berlainan pula dengan manusia dalam abad pertengahan, dan selanjutnya. Manusia Asia nampak berbeda tingkah laku umumnya dari pada manusia Eropa. Akan tetapi, yang sebaliknya pun terjadi.

(Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966)

 

Orang tua yang jarang berkomunikasi dengan anak, karena keterbatasan waktu di rumah. Di sekolah kurangnya perhatian guru pada anak yang pendiam cenderung penurut menyebabkan anak jarang  minta bantuan.  Anak-anak yang agak terabaikan ini akan mencari sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapinya.  Situasi seperti ini merupakan salah satu faktor terhambatnya perkembangan anak secara optimal. Karena bila anak-anak tersebut mendapat bantuan dari orang dewasa di sekitarnya pada saat yang tepat maka kemampuan yang biasa-biasa saja akan menjadi luar biasa. 

Kecenderungan orangtua akhir-akhir ini yang bersemangat memasukkan  anak mereka ke lembaga Pendidikan Aanal adalah untuk melepaskan beban yang mereka rasa berat dalam mendidik anak. Sehingga tujuan sebagian besar orangtua memasukkan anak ke Lembaga itu  adalah agar segala sesuatu  diharapkan dapat dilakukan di lembaga.  Orangtua mengharapkan Lembaga pendidikan anak  dapat mengubah anak seperti yang mereka inginkan. Orangtua mengharapkan anak dapat dijaga sementara mereka bekerja.  Orangtua mengharapkan anak dapat tergali potensinya dengan bantuan guru di lembaga Pendidikan Anak.

(Dr. Yul Iskandar 2006)

 

Jika manusia dari pedalaman Asia dipindahkan ke lingkungan budaya di Amerika Serikat, misalnya, nampak pula perubahan-perubahan tertentu dalam tingkah laku, walau pun hal itu terjadi setingkat demi setingkat.

Oleh sebab itu, maka lingkungan sosiobudaya (sociocultural setting) senantiasa dianggap memberi petunjuk yang penting dalam menentukan apakah suatu jenis atau bentuk tingkah laku manusia itu dianggap normal atau menyimpang. Malahan di daerah yang seluas seperti nusantara Indonesia ini, tingkah laku-tingkah laku di pelbagai daerah dapat nampak secara amat berbeda-beda, teristimewa sekali apabila diperhatikan bahwa proses transisi sosial kultur di berbagai-bagai daerah terlaksana menurut kecepatan yang sendiri-sendiri.

(Kusumanto Setyonegoro disertasi 1966)

 

Seperti dikemukakan oleh para sejarahwan bahwa  diperkirakan manusia mencapai tingkat inteligensi yang tertinggi  dari spesies lain baru 10.000  tahun yang lalu.   Dengan adanya inteligensi manusia dapat berpikir untuk dapat bertahan hidup dan mulai keluar dari  di gua-gua.  Setelah keluar dari gua, manusia mulai menjalin hubungan sosial mungkin karena waktu itu manusia mulai mengenal   kata-kata sehingga hubungan sosial menjadi lebih lancar.

Lima ribu tahun yang lalu, setelah bahasa lisan dikuasai sebagai alat komunikasi sosial mulailah manusia mengenal bahasa tulis dengan menuliskan apa yang diketahuinya.  Selain bahasa manusia juga mengenal matematika dan ilmu matematik.

Dalam tulisan kuno dari Babylonia,  Mesir,  dan Yunani  mereka telah bicara tentang mental (mind), kesadaran (counciousness), intelek, sukma (soul) motivasi, kekuasaan, akan tetapi mereka tak bisa membedakan antara  Inteligensi dengan kekuatan mental, kesadaran, intelek malahan tidak bisa membedakan inteligensi dengan sukma (soul) atau motivasi,  sensasi, asosiasi atau persepsi, perbedaan kultural makain lama akan makin besar dengan berbedanya tempat mereka hidup.

(Dr. Yul Iskandar 2006)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: