Pendidikan anak.

Demikian pula, maka secara berlimpah-limpah perhatian dari pelbagai pihak mulai diarahkan kepada pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Pengetahuan-pengetahuan yang mengenai hal ikkhwal anak dianggap kurang lengkap, jika tidak mencantumkan secara luas dan mendalam status mentalis dan status emotionalis dari anak itu. . . . . , anak sudah mengenal siapa yang dekat dengan dia, ibunya, ayahnya, kakaknya, bibinya, kakeknya, neneknya atau pengasuhnya dan siapa saja yang telah memberikan Selanjutnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/03/28/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-18/

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

 Guru besar (emeritus)  psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  ini diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

Demikian pula, maka secara berlimpah-limpah perhatian dari pelbagai pihak mulai diarahkan kepada pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Pengetahuan-pengetahuan yang mengenai hal ikkhwal anak dianggap kurang lengkap, jika tidak mencantumkan secara luas dan mendalam status mentalis dan status emotionalis dari anak itu.

(Kusumanto, disertasi 1966)

Paradigma baru dalam dunia pendidikan anak adalah  mewujudkan Pendidikan Anak yang holistic- eclectic dan integrative,   artinya  tidak bisa hanya mengurusi pendidikan saja, atau pengasuhan saja atau kesehatan saja, melainkan  harus mencakup sinergi antara perawatan, pengasuhan, kesehatan & gizi  dengan pendidikan.

Kita harus mempersiapkan anak suka akan belajar sebelum mereka bersekolah (formal). Pembelajaran yang sesuai dengan irama kemampuan anak tersebut perlu sinergi antara keluarga, pemerintah dan lembaga pendidikan.  Lembaga pendidikan yang menyiapkan kurikulum  dan guru  bukanlah segala-galanya yang menyebabkan cerdas atau tidak seorang anak.  Kurikulum ibarat bahan dasar masakan yang dipersiapkan oleh juri “Kitchen Stadium”  ( acara yang pernah ada di salah satu TV Nasional ) dan orangtua atau guru adalah “chef” yang ingin mencapai kedudukan “super chef”.  Dia harus mengeluarkan dan merealisasikan seluruh kemampuan kreatifnya agar bahan dasar yang sama dapat disajikan berbeda, bahkan istimewa.

          Merawat dan mengasuh anak yang baik tidak selalu identik dengan pemikiran bahwa anak harus diasuh oleh para pakar pendidikan.  Merawat, mengasuh dan mendidik anak tidak semata-mata untuk mendapat ranking di sekolah.   Para orangtua harus mau merawat, mengasuh, dan mendidik anak untuk mempersiapkan agar anak mau belajar. Seberapapun sibuknya para orangtua, luangkanlah waktu meskipun hanya beberapa saat untuk mengamati anak dalam berbagai kegiatan.  Waktu yang disediakan orangtua bukan hanya ketika waktu orangtua libur setiap akhir pekan.  Bila orangtua hanya menyediakan waktu setiap akhir pekan saja maka anak akan selalu menunggu akhir pekan.  Sementara hari-hari lain anak berulah karena merasa bosan menunggu datangnya akhir pekan.   Agar memperoleh masukan tentang kesenangan, ketidaksukaan, atau pendapat yang dilontarkan, orangtua perlu meluangkan waktu untuk pengamatan terhadap anaknya.  Pekerjaan pengamatan merupakan salah satu pekerjaan seorang profesional.. 

(Dr. Yul iskandar, 2006)

 

Benar harus diakui, bahwa disamping semangat dan enthousiasme yang meluap-luap itu masih banyak terdapat bidang-bidang ketidaktahuan kita mengenai pelbagai masalah mental. Akan tetapi bidang-bidang ketidaktahuan (areas of ignorance) itu sekarang tidak lagi merupakan hambatan-hambatan yang melumpuhkan kegiatan-kegiatan dibidang kesehatan jiwa, seperti mungkin sering dirasakan sebelumnya.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

 

Dampak positif pendidikan anak  telah dirasakan oleh para orangtua maupun masyarakat, demikian pula di Amerika Serikat.  Pemerintah Federal serius menangani dan mengelola masalah ini.  Keseriusan ini  terlihat dengan  keterlibatan Pemerintah Federal  Amerika Serikat   membentuk Head Start sejak tahun 1960. Target  utama Head Start adalah masyarakat miskin dan keluarga minoritas. Program ini terutama ditujukan bagi anak-anak dari keluarga golongan ekonomi lemah. Anak-anak yang mengikuti program ini terdiri dari 42 % masyarakat berkulit hitam, 20 % Hispanik, 4 % Native Amerika, dan 34 % berkulit putih (Hayes et all 1990).

(Dr Yul Iskandar, 2006)

 

Sikap yang positif mengenai kesehatan jiwa  itu harus dipupuk dan diperkembangkan terus. Lagipula hendaknya jangan kita lupa pula bahwa  walaupun seolah-olah  ilmu kedokteran itu, jika diteliti benar, pengetahuan sistematiknya ilmiahnya masih belum banyak , namun demikian para dokter baik pada zaman dahulu maupun zaman sekarang sudah  dapat berbuat sangat banyak serta amat berjasa dalam usahanya meringankan penderitaan pasien.

 

Hal itu disebabkan ilmu kedokteran itu bukanlah merupakan sekedar sejumlah kepandaian, sekumpulan manipulasi teknik tertentu  ataupun sejumlah  dalil ilmiah yang banyaknya terbatas, melainkan oleh fakta bahwa ilmu kedokteran  itu terutama  dalam prakteknya merupakan salah satu kesenian yang khas pula.

 

Dan justru  yang terakhir itulah yaitu soal penderitaan  merupakan sentral dalam seluruh usaha kesehatan jiwa . Dengan demikian maka nyata sekali  betapa eratnya hubungan antara asas kesehatan dan asas kesehatan jiwa . Pertumbuhan fisik disatu fihak dan perkembangan jiwa di pihak lain harus diizinkan  untuk terjadi secara sesempurna-sempurnanya. Dengan demikian  maka ditinjau dari sudut kesehatan jiwa haruslah  diberikan kesempatan  kesempatan tertentu guna pemuasan dari tendensi-tendensi tertentu pula  dalam diri seorang manusia yang hendak tumbuh  dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan hanya dapat mencapai realisasi  yang sempurna apabila  manusia yang bersangkutan itu dapat diberikan kesempatan untuk mencapai  suatu realisasi dari segala sesuatu  yang olehnya dirasakan  sebagai daya potensi dalam dirinya  terutama sekali daya daya dalam hubungan harmonik dengan individu –individu lain semasyarakatnya.

(Kusumanto setyonegoro, Disertasi 1966)    

 

Kembali kita pada pendidikan anak, menurut Ki Hadjar Dewantara pemberian pembelajaran kepada anak-anak  pada pokoknya adalah untuk membiasakan ketertiban lahiriah melalui menggambar, menyanyi, berbaris, bermain-main, membuat pekerjaan tangan secara bebas dan teratur, dll.  Dengan pembelajaran demikian dimaksudkan agar ketertiban lahir tadi dapat mempengaruhi ketertiban bathin kanak-kanak.  Di usia 2-5 tahun dalam pemberian pembelajaran kepada anak selalu dicari hubungan dan kesesuaian dengan alam kanak-kanak negeri sendiri.  Seperti misalnya, membuat segala pekerjaan tangan dengan memakai daun-daunan, rumput, lidi, dsb.   Tujuan pembelajaran tersebut agar kanak-kanak jangan hidup terpisah dengan masyarakatnya, di desa-desa atau di kampung-kampungnya.  Selain itu kanak-kanak  juga dibiasakan menggunakan alat-alat modern sebagai penyempurnaan pembelajaran.  Menggunakan pembelajaran yang berasal dari negeri sendiri bukan berarti mengabaikan kebudayaan asing.  Kita dapat mengambil kebudayaan dari seluruh dunia, yang belum dipunyai yang perlu untuk mengembangkan dan memperkaya kebudayaan kita.  Tetapi bekal dan pangkalan kita ialah kebudayaan sendiri.  Janganlah kita terus menerus hanya pandai meniru, demikian pendapat Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan anak adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, demikian bunyi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 14.

 Pendidikan Anak di Amerika Serikat ditangani secara serius dengan membentuk Head Start dibawah pengelolaan para ahli yang diketuai Dr.Howard Gardner bekerjasama dengan universitas kelas satu dunia, Harvard University (dimulai tahun 1960 dan ditemukannya  teori Multiple.Inteligensi, tahun 1983)  .

Latihan untuk mengembangkan Multiple Inteligensi anak sejak lahir sampai usia delapan tahun perlu ditangani secara serius.  Perlu pengetahuan tentang tahap-tahap perkembangan anak.  perkembangan  sangat pesat terjadi selama tahun pertama kehidupannya. Perkembangan berat badannya dari  3 kg meningkat pesat menjadi 10 kg dalam waktu satu tahun (peningkatan perkembangan 300 %),   Tinggi badan juga meningkat dari 50 cm menjadi 75 cm (berkembang 50%), tetapi yang jauh  lebih penting bahwa anak berkembang secara psyche (mental) dan secara sosial.  Pada anak baru lahir, dia hanya bisa menangis dan tidur, serta mengisap makanan yang diberikannya. Dalam satu tahun mental atau psyche nya telah berkembang, dia sudah bisa  tertawa, menangis, beteriak, tersenyum, takut dll .  Pada waktu anak lahir anak hanya tahu ibunya, karena frekwensi denyut jantung dan irama jantung sama waktu sebelum dan sesudah melahirkan. Tapi setelah satu tahun, anak sudah mengenal siapa yang dekat dengan dia, ibunya, ayahnya, kakaknya, bibinya, kakeknya, neneknya atau pengasuhnya dan siapa saja yang telah memberikan  rasa aman, rasa kenyang, rasa hangat, rasa sayang, itulah orang yang dekat dengan dia secara sosial, diluar itu dia akan takut dan marah untuk didekati.

Berbeda dengan binatang yang baru lahir bisa langsung lari, seorang bayi hanya bisa beradaptasi secara perlahan dan memerlukan waktu yang lama untuk tumbuh dan berkembang sambil mempelajari yang dinamakan kemampuan /abilities, atau inteligensi. Anak mempelajari domain  Inteligensi diantaranya  Musik, Kinestetik,  Logik, Matematik , Linguistik , Spasial, Interpersonal dan Intrapersonal, yang disebut Multipel Inteligensi (MI)

          Multipel Inteligensi  ini perlu digali dan ditumbuh kembangkan dengan cara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan secara optimal potensi yang dimilikinya atas upayanya sendiri (Nurlaela Tientje, 2002). MI adalah kecerdasan manusia yang tidak tetap sejak lahir, melainkan kecerdasan yang dapat berkembang sepanjang hidupnya. Dalam MI tidak ada  pola tunggal dari kecerdasan manusia. Banyak cara yang dapat menunjukkan dan mengembangkan kecerdasan tersebut untuk menentukan apa yang telah diketahui anak berupa pengetahuan dan kemampuan serta yang dapat dilakukan berupa ketrampilan. 

Apa yang anak dapatkan dan pelajari ketika berusia dibawah tiga tahun bukanlah dari tutor atau guru, dia dapatkan secara spontan, dan secara instingtual, serta akibat dari interaksi dengan dunia disekitarnya.

 Seorang anak yang tinggal di  Amerika  dengan lingkungan yang menggunakan bahasa Inggris, dia  akan berbahasa (linguistik) sesuai dengan lingkungannya yaitu bahasa Inggris,  Seorang anak yang tinggal di Indonesia dengan lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah akan berbahasa  Indonesia dan berbahasa daerah. Dalam memperoleh bahasa seorang anak tidak diajarkan secara formal, tetapi dia mempelajarinya secara instant dengan melalui interaksi sehari-hari.  Secara teoritis kemampuan linguistik seorang anak  umur 1-3 tahun dapat menyerap  2-15 bahasa yang dipelajarinya secara spontan.  Kemampuan tersebut tergantung intensifnya  interaksi itu pada   anak.  Anak orang Belanda  rata-rata mengenal 5 bahasa, anak orang Swiss minimal mengenal  4 bahasa, tetapi Anak orang Australia, Inggris dan Amerika biasanya hanya mampu 1 bahasa yaitu Bahasa Inggris,  karena lingkungannya semuanya berbahasa Inggris begitu juga anak dari China, hanya bisa berbahasa  satu yaitu  bahasa China, karena lingkungannya hanya berbahasa China.

Dengan kemampuan belajar spontan seperti yang diuraikan di atas maka sangat disayangkan bila para  orangtua, guru dan masyarakat menganggap program pendidikan anak hanya menyiapkan anak masuk Sekolah Dasar (SD), bukan suatu pendidikan anak usia dini yang sebenarnya.  Program dan proses belajar yang dilakukan sebatas  untuk pemenuhan jangka pendek. 

Berbagai penelitian di Australia tentang pengaruh pendidikan anak  usia Dini menunjukkan bahwa hubungan anak dengan lingkungan di luar keluarga sangat  penting dalam kehidupan anak dimasa depan.

          (Dr. Yul Iskandar, 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: