Human Suffering


Dunia ini penuh dengan penderitaan. Melahirkan adalah pnderitaan, menjadi tua akan mengalami penderitaan, penyakit dan kematian akan membawa penderitaan. Bertemu dengan seseorang yang kita benci akan menimbulkan penderitaan, berpisah dengan orang yang dikasihi adalah penderitaan, untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah penderitaan. Dalam kenyataannya manusia hidup tidak akan pernah bebas dari ‘desire and passion’, yang keduanya membawa manusia kearah distress dan penderitaan.
Selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/03/26/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-16/

 

Keadaan-keadaan yang terdapat antara dua pola itu sering dinamakan “keadaan kurang sehat (conditions of ill health)”. Hal ini menjadi indikasi yang serius bagi psikiater dan bagi para dokter umumnya, untuk memperhatikan dengan lebih sadar, seksama dan sistematik segi-segi dari pada formulasi kesehatan itu. Lebih lanjut kita harus sampai pada kesimpulan bahwa pendapat-pendapat normatif hanya sah .

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

 Guru besar (emeritus)  psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan   

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

ASAS-ASAS KESEHATAN DAN KESEHATAN JIWA

 

Sebagai ahli kesehatan yang bekerja di Indonesia, patut kita berpegang pada kata-kata pedoman yang diberikan oleh Pernyataan Dasar Organisasi Kesehatan Dunia (Constitution of the World Health Organization) yang menegaskan :

HEALTH IS A STATE OF COMPLETE PHYSICAL, MENTAL AND SOCIAL WELL-BEING AND NOT MERELY THE ABSENCE OF DISEASE OR INFIRMITY, THE ENJOYMENT OF THE HIGHEST ATTAINABLE STANDARD OF HEALTH IS ONE THE FUNDAMENTAL RIGHT OF EVERY HUMAN BEING WITHOUT DISTINCTION OF RACE, POLITICAL BELIEF, ECONOMIC OR SOCIAL CONDITION”

 

Dalam pernyataan pentingi ini, asas kesehatan manusia di dekati dari tiga segi : fisik, mental dan sosial. Dikemukakan pula bahwa kesehatan adalah sesuatu yang positif, bukan sekedar eksklusifnya dari pada keadaan kontrer lainnya, yaitu keadaan sakit. Hal ini dapat diartikan pula, bahwa antara keadaan kesehatan yang optimal dan suatu keadaan sakit yang keras, terdapat semua bentuk-bentuk variasi keadaan kesehatan yang sangat banyak jumlahnya.

(Kusumanto  Disertasi 1966)

 

Bila WHO melihat sehat dan kesehatan adalah hal yang positif bukan hanya tak ada penyakit, maka sebenarnya manusia itu  sebenarnya tidak ada  yang sehat. Simaklah yang dikatakan oleh Sidharta Gautama (Budha):

Dunia ini penuh dengan penderitaan. Melahirkan adalah pnderitaan, menjadi tua akan mengalami penderitaan,  penyakit dan kematian akan membawa penderitaan. Bertemu dengan seseorang yang kita benci akan menimbulkan penderitaan, berpisah dengan orang yang dikasihi adalah penderitaan, untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah penderitaan. Dalam kenyataannya manusia hidup  tidak akan pernah bebas  dari ‘desire and passion’, yang keduanya membawa manusia kearah distress dan penderitaan.

Penyebab dari human suffering  adalah adanya kehausan dari fisik akan ‘desire and passion’ dan juga oleh ilusi dari ‘desire and passion’.  Apabila hal ini ditelusuri lebih lanjut , nyatalah asalnya  dari akar yang dalam adanya insting fisik dari manusia. Jadi desire  mempunyai keinginan yang besar untuk hidup, dan merupakan basis  dari keinginannya, mencari terus apa yang diinginkannya, sampai perjuangannya itu membawa keajalnya. Inilah kebenaran  dari penyebab human suffering. (diterjemahkan dari Bukkyyo Dendo Kyokai,tahun2001, hal 74).

 

Berdasarkan hal ini timbulah masalah dalam kedokteran, bahwa sehat adalah sesuatu yang utopis, bila diikuti apa yang dikatakan oleh WHO. Dan tidaklah salah bahwa  setiap kejadian buruk seperti adanya Tsunami, krisis kepimpinan, krisis keuangan dan banyak hal, maka gangguan penyakit akan bertambah. Tentu hal ini benar bila  definisi yang dipakai adalah pegangan dari WHO, akan tetapi bila ilmu kedokteran kembali ke akarnya yaitu adanya penyakit dan orang sakit, faktor dari luar kontribusinya sangat kecil. menjadikan orang  depresi apalagi schizophrenia.

Lebih lanjut Sidharta Gautama mengatakan: If desire, which lies at the root of all human passion, can be removed, then passion will die out and all human suffering  will be ended. This called the truth of the cessation of suffering. (dari Bukkyyo Dendo Kyokai,tahun 2001) hal 75).

Dari  tulisan itu jelaslah bahwa pendekatan dari Budha adalah sederhana, akan tetapi bila kita menganggapnya sebagai penyakit suffering= depresi, maka ilmu kedokteran juga  tidak sulit benar dengan memberikan obat anti depressant maka banyak penderita depresi akan hilang depresinya.

(Dr. Yul Iskandar  2006)

 

Keadaan-keadaan yang terdapat antara dua pola itu sering dinamakan “keadaan kurang sehat (conditions of ill helath)”.

Berdasarkan  konsep kesehatan  yang dikemukakan  diatas, jelas  bahwa dalam konsep itu juga  terjalin  unsur kebahagian  manusia (human happiness) dan kepuasan hidup (life satisfaction) dengan demikian  maka  nyata  bahwa yang hendak dicakup itu tidak hanya  soal kesehatan manusia dalam arti kata yang sempit tetapi  hal-hal yang lebih luas, tegasnya  soal kebahagiaan  dan soal kepuasan  hidup sekarang  secara sah dan wajar juga merupakan  unsur-unsur  tambahan implisit  yang penting.

Hal ini menjadi indikasi yang serius bagi psikiater dan bagi para dokter umumnya, untuk memperhatikan dengan lebih sadar, seksama dan sistematik segi-segi dari pada formulasi kesehatan itu. Lebih lanjut kita harus sampai pada kesimpulan bahwa pendapat-pendapat normatif hanya sah dan wajar kita pergunakan apabila melukiskan atau memeriksa penyakit. Itu pun jika paham penyakit itu dilepaskan dari pada manusia yang sakit (atau yang menderita). Jika hal itu dapat dikerjakan maka penyakit itu dapat dianggap sebagai barang atau benda yang dapat diukur menurut ketetapan norma-norma, atau standard-standard yang tertentu.

(Kusumanto, Disertasi  1966)

 

Kalau kita kembali pada praktek kedokteran maka Prof. Heinz. E. Lehman mengatakan bahwa praktik medis yang baik haruslah berdasarkan pada diagnosis yang valid, dan diagnosis yang valid  haruslah berdasarkan pola dari tanda, gejala dan symptom, yang nanti membentuk  frame work nosologis dari suatu klasifikasi penyakit. Psikiatri tentunya harus mengikuti pola ini, karena dia salah satu cabang kedokteran. Akan tetapi sayangnya dalam bidang psikiatri sampai saat ini (2006), kebanyakan gejala psikiatrik, tidak pernah secara konsisten berhubungan dengan tanda biologis, tetapi lebih berhubungan dengan judment personal  yang dilihat secara external, dalam banyak hal  berdasarkan introspeksi pasien atau keluhan dari pasien. Sejak abad ke 19, dimana psikiatri mulai dipelajari secara sistematis, pada umumnya gejala psikiatrik adalah suatu yang subjektif, tidak pernah ada gejala psikiatrik yang objektif. Tidak pernah ada sampai saat ini (2006) instrumen fisik, yang bisa memvalidasi gejala psikiatrik yang dikemukakan secara subjektif oleh pasien. Tidak ada termometer,  tidak  ECG tidak EEG, Tidak MRI dan Tidak CT sken yang bisa menentukan diagnosis pasien psikiatri, semua diagnosis psikiatri tidak lah bebas dari pendapat subjektif psikiaternya.

Jadi sebenarnya yang paling sulit adalah menentukan suatu kasus psikiatrik, apakah ini suatu penyakit, apakah ini hanya kepribadian yang tak baik, atau kah persoalan terlalu banyak.

Penyakit psikiatrik adalah menggantungkan diri pada kecermatan psikiaternya dalam hal anamnesis, pengetahuan klinis, pengalaman observasi, dan kemampuan interview pada pasien. Kadang-kadang bisa dibantu dengan personality inventories, test dengan rating scales, dll.  Inilah kesulitan psikiatri sampai saat ini, dan kemajuan untuk mendapat data yang objektif berjalan sangat lambat, tapi kemajuan psikofarmaka sangat lanjut, dimana anti depresant generasi pertama, kedua dan ketiga telah ditemukan, serta anti psikotik generasi pertama, kedua dan ketika telah muncul, tetapi diagnosis yang akurat masih jauh tertinggal. Diskrepensi inilah yang membuka peluang bagi  penelian yang lebih mendalam dalam bidang clinical psychopharmacology.

(Sebagian diterjemahkan dari Heinz-E Lehman dalam buku Code-DD oleh Thomas Ban  (1989)

(Dr Yul Iskandar, 2006)  

 

Maka timbullah pertanyaan : “Dapatkah kita lepaskan penyakit itu dari pada si penderita ?” Jelas kiranya bhwa jawabnya ialah “tidak”. Dengan sendirinya jelas pula bahwa dengan keyakinan dasar ini ada akibat-akibat dan konsekwensi-konsekwensi yang logik. Yang pertama ialah bahwa kita harus menuju dan bermuara pada pelbagai pertimbangan-pertimbangan yang bersegi filsafat, khususnya filsafat kedokteran.

 

Yang kedua ialah konsekwensi bahwa timbulnya secara pasti gerakan kesehatan yang secra aktif dan positif hendak menuju dan mendalami pertimbangan-pertimbangan filsafat itu. Konkritnya, gerakan yang terakhir ini menjelma menjadi suatu gerakan kesehatan jiwa (mental health movement) yang bentuk dan alirannya beraneka warna sesuai dengan  ligkungan atau keyakinan yang hidup dalam masyarakat-masyarakat yang beraneka warna pula.

 

Pelbagai gerakan kesehatan jiwa  itu didasarkan atas pelbagai  kebutuhan  menurut tempat (lokasi) dan lingkungan. Ada gerakan kesehatan  jiwa yang khusus membaktikan diri untuk memberikan rekreasi pada penderita psikotik  dirumah-rumah sakit mental. Ada yang khusus tertuju  pada bimbingan anak –anak nakal, brandal dan pecandu obat,  bimbingan pada wanita prostitute, anak-anak terkebelakang,  dll. Disamping itu ada pula  kelompok-kelompok  yang bertemu  secara periodik untuk mendalami soal-soal umum yang menimbulkan konflik-konflik  dalam penyesuaian diri dan mungkin sekali bersumber pada pelbagai ketidak cocok-an dalam filsafat-filsafat pribadi. Golongan terakhir  ini boleh dianggap sebagai kelompok-kelompok terapeutik  yang bekerja  dengan sistem filsafat yang tersususn rapi dan sitematik, ataupun berdasarkan aksi terapeutiknya sekedar atas prinsip kreatif  dan expresif.

 

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s