Etik., Moral., Kebenaran., Keadilan dan Hukum.

Oleh karena itu manusia sejak lahirnya dibimbing kedalam alam norma-norma itu , sehinggga ia dapat  memperoleh pengetahuan, pengertian dan keinsyafan  tentang norma-norma . Ia menjelma menjadi mahluk  yang bernorma (normative being).selanjutya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/02/01/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-15/

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Tulisan ini untuk sementara diterbitkandalam bentuk seperti ini, dan / 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 Ia juga diharuskan memahami arti dan maknanya , seolah-olah  ia harus pula  melihat dirinya sendiri, diantara atau  malahan  ditengah-tengah  orang-orang lainnya. Karena itu  maka etik sosial dan moral  sosial yang dijunjung  sebagai sesuatu yang luhur dalam masyarakat itu perlu diketahui dan  disadarinya. (Kusumanto 1966)

Seringkali  etik, moral, kebenaran, keadilan  dicampur adukkan. Hukum etika, atau etik hanya berlaku untuk satu golongan, dan tidak harus diikuti oleh golongan lain. Misalnya Etik kedokteran (termasuk psikiatri) hanya berlaku diantara sejawat dokter termasuk psikiatri. Misalnya secara etik kita tidak dibenarkan untuk menceritakan atau memberitahukan penyakit pasien. Misal pasien pernah psikotik, dan kemudian akan menikah, sedangkan kita tahu keadaan pasien, kita tak dibenarkan untuk menceritakan keadaan pasien, kecuali pasien sendiri yang meminta kita menerangkan keadaan dia dahulu. Etik kedokteran yang tak boleh menceritakan keadaan pasien, kecuali pasiennya bersedia diceritakan keadaaanya, tentunya berbeda dengan dukun dan shinshe, yang mengiklankan pasien-pasien yang telah sembuh karena pengobatannya. Etik bukan masalah benar atau salah tetapi aturan yang telah ditetapkan dan telah disetujui bersama. Pelanggaran etik tidak dapat dihukum, kecuali hukuman yang dikeluarkan oleh perhimpunan atau lingkungannya.

Moral adalah sesuatu yang benar atau salah. Kebenaran adalah sesuatu yang telah diajarkan oleh orang tua pada anaknya. Jadi moral pada suatu daerah mungkin berbeda dengan moral pada daerah lain. Perbedaan aturan pada suatu daerah ke daerah lain akan mengakibatkan kekacauan identitas. Secara tradisi Indonesia masih merupakan suatu kebudayaan feodalisme. Harus menurut orang tua, walaupun salah masih banyak dipegang oleh sekelompok orang. Masalah ini bisa membuat hidup menderita, karena sebagian orang bertindak tamak, amarah dan brutal, serta kebodohan. Melawan orang-orang ini secara moral saja akan sulit, akan tetapi melawan dengan kekerasan bukan jalan yang terbaik.

Secara konkrit, apa yang disebut norma dapat berbentuk kebiasaan, adat istiadat dan hal-hal yang lazim lainnya, yang biasanya dijadikan pegangan penting dalam penentuan sikap.

Oleh karena itu manusia sejak lahirnya dibimbing kedalam alam norma-norma itu , sehinggga ia dapat  memperoleh pengetahuan, pengertian dan keinsyafan  etik,  tentang norma dan tentang moral . Ia menjelma menjadi mahluk  yang beretik, bermoral dan bernorma (normative being).  (Kusumanto 1966)

Kadang-kadang ketiga hal itu bisa saling betentangan dalam praktek kedokteran. Contohnya secara moral dokter harus memberikan obat yang terbaik yang ada untuk kepentingan pasiennya. Tapi etik kedokteran harus meminta izin pada pasiennya bila melakukan tindakan walaupun memberikan obat, jadi tidak bisa sembarangan kita berikan obat kepada pasiennya tanpa persetujuannya. Ditambah lagi secara hukum, obat yang diberikan di suatu negera harus sudah terdaftar dinegara itu, pemberian obat disuatu negara dimana obat itu belum terdaftar adalah pelanggaran hukum.

Di Belanda ada tempat-tempat tertentu, dimana orang bebas mengisap ganja, akan tetapi di Indonesia orang ketahuan mempunyai ganja akan ditangkap sebagai kriminal. (Yul Iskandar 2006)

 

Dapat dikatakan, bahwa normativitas dan kesusilaan secara elementer bersumber pada pelbagai keharusan-keharusan dan larangan-larangan yang diletakkan oleh masyarakat pada anggota-anggotanya. (Kusumanto 1966)

Yang jelas sekali hubungan seksual dengan orang yang mempunyai pertalian  darah dilarang sama sekali baik secara moral maupun secra hukum. Hukum perkawinan di masing-masing negara tentu berbeda, sesuai dengan moralitas setempat.  Dalam hukum orang minang  perkawinan antara orang dengan suku yang sama (jadi masih saudara ibu) dilarang, sedangkan di banyak daerah, justru sebaliknya perkawinan antara saudara bapak adalah yang terlarang. Dalam berbagai tempat biasanya pihak laki-laki yang meminang  wanita untuk dinikahi, tapi di Minang justru wanita yang meminang (istilahnya menjemput) kaum lelaki. Berbagai kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma itu akan mungkin sedikit membingungkan karena pada umumnya  norma-norma adat itu dibicarakan secara turun temurun, dan tidak tertulis. Masalahnya bisa menjadi konflik yang bekepanjangan, misalnya masalah warisan. Di alam mingkabau warisan diturunkan pada pihak wanita, untuk berbagai pusaka tinggi, akan tetapi untuk pusaka rendah biasanya berdasarkan hukum waris Islam yang mana wanita mendapat bagian lebih kecil. Kesulitan adalah menentukan apakah harta ini pusaka ini pusaka tinggi atau pusaka rendah. Bebagai hal demikian akan membawa pada pertengkaran, kebrutalan dan gangguan penyakit, misalnya gangguan psikosomatik . (Yul Iskandar 2006)

 

Walaupun demikian dapat dibayangkan bahwa dalam perjalanan hidupnya, masing-masing individu dari masyarakat itu dihadapkan pada situasi-situasi yang amat khusus yang mengandung tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup yang istimewa, dan mereka tidak dapat elakkan untuk menyelesaikannya. Dari pada pelbagai penyelesaian masalah-masalah itulah maka akan timbul pelajaran-pelajaran yang bermanfaat sehingga individu yang bersangkutan itu dapat mengkristalisasi ajaran-ajaran pokok yang dinilai cukup dan berlaku umum.

Bagi alam budaya kita, maka individu itu antara lain belajar untuk bertepa selira, yaitu  untuk membayangkan dirinya  dalam kedudukan  orang lain terhadap siapa diwaktu sekarang sedang dia  mengambil  tindakan-tindakan  tertentu, sehingga  dengan lambat laun ia mulai  lebih pandai untuk menentukan  sikap yang seadil-adilnya  berdasarkan alasan-alasan  yang seluas-luasnya, semuanya secara sedemikian  rupa tanpa sikap  atau tindakan nya itu menyalahi ajaran-ajaran pokok umum tadi. (Kusumanto 1966)

 

Seperti dikemukakan diatas dalam banyak hal adalah sangat sulit untuk belajar masalah masalah itu, karena cepatnya budaya berubah sesuai dengan kemajuan zaman, dan dalam era globalisasi, dimana  tentunya bentutan-bentuan akan saling berdatangan. Alangkah sulitnya juga bagi para psikiater untuk mengerti segala hal yang termasuk dalam bidang lingkup budaya dan ilmu antropologi. Masalah-masalah inilah yang paling banyak didapat pada saat ini, dan pasien tidak tahu dia akan pergi kemana.  Seorang wanita muslim ingin menikah dengan pria kristiani,  dan dia tak tahu harus bagaimana bicara dengan orang tuanya. Dia menjadi sakit, insomnia dan cephalgia, banyak dokter dengan tanpa pikir memberi hipnotik dan analgesik. Tapi pasien tak akan sembuh karena masalah yang dihadapinya jauh lebih besar, dan dia tidak tahu apakah hal itu perlu diceritakan pada dokternya, karena pasien menganggap dokter (termasuk psikiater) bukanlah orang berkompeten untuk memberikan bimbingan tentang masalah itu. (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh karena itu  maka tiap-tiap pendirian moral senantiasa  menjadi suatu aspek yang universal daripada  seluruh pengalaman kita sehari-hari. Malahan tidak jarang  kita mengalami bahwa ada keputusan-keputusan  tertentu  yang pernah kita ambil baik untuk diri kita sendiri maupun  untuk orang lain, yang sebetulnya harus dikoreksi atau malahan dibatalkan andaikata kita diberi  ulangan  kesempatan untuk itu.

Lebih lanjut kita mengetahui pula bahwa ada cara –cara orang dalam memutuskan  atau menghukum orang atau tindakan orang seringkali juga  menyalahi  cara tentang hal itu yang sebetulnya  kita sendiri idam-idamkan. Kita Juga tahu bahwa ada hukum-hukum  atau cara cara tertentu yang lazim dilaksanakan, yang sebetulnya  haruslah lain susunan dan maksudnya daripada yang sekarang masih dijalankan.  (Kusumanto 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: