Inteligensi interpersonal

Apakah jasmani yang dihadapi manusia itu adalah jasmaninya sendiri (seperti halnya dengan seorang pemain sandiwara yang ulung), atau pun jasmani itu terikat pada orang lain (seperti halnya dengan seorang dokter yang memeriksa dan mengobati pasien secara ilmiah dan non personal) semuanya itu akan memberikan kesan dan nampak sebagai terpisahnya antara manusia dan jasmaninya. . . . . . . kerusakan daerah itu akan mengakibatkan kerusakan inteligensi interpersonal. Inteligensi interpersonal ini spesifik milik manusia, hewan tidak mempunyai inteligensi ini. Inteligensi ini berhubungan dengan kebudayaan dan kepekaan sosial untuk hubungan interaksi kelompok. Ada sebagian pakar mengatakan bahwa selain interpersonal inteligensi ada juga emosional inteligensi
Selanjutnya lihat di : https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/01/25/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-13/

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini,. 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

Akan tetapi jika manusia itu sekedar memiliki jasmaninya (otak dan syaraf) maka berdasarkan objektivasi dari pada jasmaniahnya tadi, ia dapat menganggap jasmaniah itu sebagai suatu “alat”, walaupun sebagai alat yang utama sekali pun. Apakah jasmani (Body) yang dihadapi manusia itu adalah jasmaninya sendiri (seperti halnya dengan seorang pemain sandiwara yang ulung), atau pun jasmani itu terikat pada orang lain (seperti halnya dengan seorang dokter yang memeriksa dan mengobati pasien secara ilmiah dan non personal) semuanya itu akan memberikan kesan dan nampak sebagai terpisahnya antara manusia dan jasmaninya. Maka banyak sedikit akan jelas dan nampak pula corak permainan, atau corak pura-pura; atau pun ada orang-orang yang sangat mahir sekali menjalinkan antara yang satu dengan yang lainnya. (Kususmanto 1966)

 

Penelitian dari Howard Gardner, (Howard Gardner, Multiple Intelligences (1993) menunjukkan bahwa ada bagian dari otak yaitu bagian prefrontal, yang berfungsi sebagai  Interpersonal Intelligence

(Inteligensi Interpersonal), kerusakan daerah itu akan mengakibatkan kerusakan interpersonal. Inteligensi interpersonal ini spesifik milik manusia, hewan tidak mempunyai inteligensi ini.  Inteligensi ini berhubungan dengan kebudayaan dan kepekaan sosial untuk hubungan interaksi kelompok. Ada sebagian pakar mengatakan bahwa selain interpersonal inteligensi ada juga emosional inteligensi.  Menurut penulis  emosional inteligensi termasuk di dalam inteligensi interpersonal. Hewan tidak mempunyai inteligensi ini meskipun ada hewan yang hidupnya berkelompok.  Hewan yang hidupnya berkelompok tidak saling berinteraksi.  Pusat inteligensi di otak untuk inteligensi ini belum jelas benar, tetapi ada banyak bukti yang mengarah pada hemisphere otak kanan dan mengikut sertakan pula sistem limbik, di daerah (pre)frontal..

Anak yang mempunyai inteligensi tinggi dalam interpersonal mempunyai kepekaan tinggi untuk memahami orang lain dan mudah berinteraksi dengan orang lain.  Anak yang dominan dalam domain Interpersonal intelligence akan lebih mudah menangkap pelajaran bila dilakukan dalam diskusi kelompok.

Ada lagi intelegensi lain didaerah yang berdekatan di otak, yang dinamakan

 Intrapersonal Intelligence (Inteligensi Intrapersonal). Inteligensi ini sangat spesifik dan hanya dimiliki manusia.  Inteligensi in berkaitan dengan inteligensi yang lain.  Bila inteligensi yang lain rendah, maka inteligensi intrapersonal juga rendah.  Pada beberapa penyakit mental malahan inteligensi intrapersonal hilang, biasa dinamakan kehilangan insight.  Hanya manusia yang mampu introspeksi dan melihat dirinya sendiri,  yang mampu melihat dirinya dari luar  dan menilai dirinya sendiri.  Introspeksi diri dan menyendiri (meditasi) atau memahami masalah transedental.  Pada saat ini belum jelas dimanakah pusat dari inteligensi ini, mungkin pada hemisphere kanan didaerah frontal atau prefrontal  tetapi harus bekerjasama dengan kwadran I hemisphere kiri. Ada sebagian pakar yang menyamakan intrapersonal inteligensi dengan spiritual inteligensi.

Anak yang mempunyai inteligensi tinggi dalam intrapersonal mempunyai kepekaan tinggi untuk memilah-milah emosi bathin kemudian memanfaatkan emosi itu untuk memahami dan membimbing perilaku diri.   Anak yang dominan dalam domain Intrapersonal intelligence  akan lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat magik, mistik dan metafisik. Jadi sangatlah masuk akal bila kerusakan pada daerah ini akan mengakibatkan pasien memasuki ’quasi metafisik, mistik, metafisik dan religious’, dia menyangka mempelajari metafisik atau sufi atau religious, akan tetapi sebenarnya kekacauan dalam cara nalar berpikir. Psikiater yang tak mengerti masalah ini sering terkecoh bahwa pasien  ahli dalam masalah metafisik itu atau religious itu, akan tetapi sebenarnya apa yang dikatakannya tak berdasar, dan lebih banyak pada omong kosong.

Begitu juga masalah masturbasi, karena kerusakan dalam daerah frontal maka di Rumah Sakit Jiwa dahulu banyak pasien melakukan masturbasi didepan umum, dan sering kali masalah ini dibalik karena sering masturbasi maka akan menjadi  sakit jiwa. Masalahnya adalah pasien tidak mampu melakukan inteligensi intrapersonal, atau secara psikiatri kita namakan judgment dari pasien bermasalah. (Yul Iskandar 2006) 

 

Oleh sebab itu, maka kenyataan-kenyataan itu haruslah menjadi alasan untuk menilai jasmani dan kejiwaan itu secara serius dan bertanggungjawab, tanpa kecenderungan untuk menilai yang satu lebih dari pada yang lainnya. Di pihak lain hal ini berarti, bahwa sebagai seorang yang mendalami soal-soal mengenai tingkah laku manusia, haruslah diketahui secara luas dan terperinci (misalnya  telah dikemukakan diatas bahwa untuk mengerti  masalah organobiologik  dan neurofisiologik, hal yang detail mengenai  biomolukuler, biokimia dan pharmacology  perlu diketahui benar oleh calon psikiater, calon psikiater yang tak mengenal masalah itu memerlukan pendidikan khusus untuk mengejar ketertinggalannya , inilah sebenarnya prinsip eklektik YI) hal-hal detail (yang ditunjukkan oleh masing-masing ilmu yang terakui), dan yang bergerak di masing-masing bidang kejasmaniahan dan kejiwaan.  (Prinsip Holistik)

 

Bagi suatu ilmu psikiatri, soal-soal organobiologi kadang-kadang dapat menampilkan secara amat impressif, tetapi sekali lagi hendaknya psikiater dapat menilik inter relasi dan relativitas dari pada semua fenomena yang bersangkutan, secara patut dan wajar, sesuai dengan sifat dan perikemanusiaan manusia dalam arti kata yang sebaik-baiknya.

 

Manusia dalam situasi  apapun juga, pada prinsipnya tidak hanya berhak  tetapi ada kemampuan untuk secara  bebas memilih  dan menentukan apa yang dianggapnya menjadi ‘jawaban’  terbaik atas ajakan  yang dibawakan  oleh situasi itu.  Ini bukanlah suatu reflex  atau suatu kalkulasi  untung rugi yang sederhana. Dalam penentuan itu  telah di-integrasikan  seluruh kesadaran, seluruh sejarah  pribadinya dan seluruh tanggung jawab morilnya terhadap dirinya sendiri dan lingkungan , dimana dia dipupuk dan dibesarkan. (Kusumanto 1966)

Satu Tanggapan to “Inteligensi interpersonal”

  1. Dr. Sonny Soeharso Says:

    Pemikirian Dr Kusumanto dan Dr Yul ini semakin relevan keitika dunia pasca post modernism saat ini semakin berorientasi pada pragmatisme dan hedonisme sehingga setiap kejadian sering dilhat hanya object dan fakta semata orang menjadi lumpuh untuk memberikan makna yang berarti bagi perekembangan jiwa setiap persona, terlebih dikatikan dengan kualitas inteersonal.

    Semoga para pemimpin bangsa ini semakin cerdas dalam membangun hub interpersonal tanpa lepas dengan konteks budaya dan latarbvelakang sejarah berdirinya bangsa ini.

    Salam
    Sonny Soeharso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: