DNA dan Double Helix.

Dibidang genetika . . . peranan Chromosom . . . . terdiri dari protein tertentu, adanya DNA dan RNA. . . DNA adalah 20 Angstrom, . . . . yang dinamakan double helix. Jadi DNA selalu terdapat dalam sepasang, sedangkan RNA single polynucleotide. Pada RNA dibedakan atas bagian RNA yang kecil yang dinamakan t RNA (transfer RNA), yang berfungsi membawa asam amino ketempat pembuatan protein. Selain itu dikenal pula mRNA (messenger RNA) yang fungsi menterjemahkan pesan genetik dari DNA. RNA yang terakhir dinamakan r-RNA (Ribosomal RNA) yaitu suatu bagian dari ribosom dimana pesan-pesan DNA diterjemahkan menjadi rantai polypeptide dan protein.

Salah satu  yang menarik pada saat ini adalah masalah Molekular genetic dalam hubungan dengan behaviour maupun mental illness. Lima puluh tahun lebih kita mengenal bahwa dalam khromosom, terdapat duoble helix DNA suatu molekul terkecil dari expresi genetik. Kini para ahli percaya bahwa proses tingkah laku adalah heritable (diturunkan) melalui gen sampai tingkat tertentu.
dan selanjutnya di..https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/01/16/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-11/


                                                                         

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini.   

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

 

i.Jasmani – Jiwa (Body and mind)

 

Prinsip integratif telah dikemukakan sebelumnya tetapi lebih lanjut harus diartikan dalam arti kata eklektik holistik yang integratif. Yang dimaksud ialah, agar kita jangan menganggap eksklusif sesuatu ilmu yang berhubungan dengan tingkah laku manusia itu, sebagai satu-satunya tinjauan yang berlaku mutlak, tetapi senantiasa mendasarkan diri atas prinsip inter-realtif. (Kusumanto 1966).

 

Dibidang organobiologik kini berkembang ilmu psiko-neuro-imuno-endokrinologi. Jadi dibidang organobiologik pun masalah holistik yang saling mempengaruhi antara (psiko=behaviour) dengan neuro= brain, imuno= masalah kekebalan, dan endokrin=kelenjar yang mengeluarkan hormon. Contoh yang jelas adanya infeksi ringan akan mengakibatkan pengeluaran cytokin (dalam imunologi) dan ini akan mengakibatkan keinginan untuk tidur (behaviour). Contoh lain adalah  telah lama diketahui bahwa insulin dalam kadar  yang rendah dapat mempengaruhi proses tidur dari pasien. Sedangkan Cortisol (suatu hormon) dapat menyebabkan keadaan agitasi atau kecemasan, begitu juga jelas sekali adrenalin (hormon dari kelenjar adrenal dapat menyebabkan jantung berdebar dan kegelisahan). Dibidang psikologi maka kita mengenal  paham-paham psikoanalis, reflex bersyarat dari Pavlov, cognitive-behaviourisme, stress-life event dan faktor sosio-kultural dan masalah gender. Dengan demikian masalah psikiatri memasuki wilayah-wilayah yang luas sekali cakupannya, dari masalah genetic, molekular-biologi sampai masalah psikoanalisis dan berakhir pada masalah sosio-kultural dan filsafat existensial.

Masalah pertama yang berat buat gangguan schizophrenia adalah masalah stigma. Ini adalah suatu kasus Agus (bukan nama sebenarnya)  dari pasien yang pernah dirawat di rumah sakit kami. Dia dirawat karena schizophrenia pada masa awal disertai dengan akut episode dengan segala manifestasinya termasuk adanya riwayat violent.  Agus dirawat selama enam bulan, dan kemudian stabil dengan anti psikotik. Ketika dirumah orang tuanya sering membawa Agus bila ada saudaranya ulang tahun atau pesta lainnya. Agus agak malas sebab dia tahu bahwa banyak yang mengatakan paman Agus sudah ‘gila’. Anak-anak (keponakannya) menamakan dirinya Agus –Gokil (atau agus Gila). Ibu Agus mengatakan pada saudara-saudaranya bahwa Agus saat ini makan obat dia dalam keadaan terkontrol dan tak ada yang salah dari dia. Dia sudah keluar dari Rumah sakit selama 2 tahun, walaupun  Agus kadang-kadang mendengar suara-suara yang tak jelas dari mana datangnya. Adanya Halusinasi itu disadari oleh Agus, tapi dia tak pernah menceritakan  pada orang-orang termasuk ibunya. Sebab bila dia mengatakan hal itu pastilah dia disuruh masuk Rumah Sakit lagi. Dia hanya mau bicara dengan dokternya, karena dokternya tidak akan memaksa Agus masuk ke Rumah Sakit hanya karena ada Halusinasi.

Dia telah lulus SMA, dan mau masuk perguruan tinggi, dan supaya jangan terlalu jauh dia mencoba untuk mencari kost dekat kampusnya. Tapi ibu kostnya menolak untuk menampung Agus setelah dia tahu bahwa Agus pernah dirawat dirumah sakit psikiatrik. Inilah masalah stigma dari pasien-pasien yang pernah dirawat di Rumah sakit psikiatrik. (Yul Iskandar 2006).

 

Objektivitas yang diusahakan oleh ilmu-ilmu dasar ilmu kedokte ran (seperti genetika, fisiologi, anatomi dan patologi), psikologi akademik dan sosiologi hanya akan mengakibatkan “melepaskan manusia itu dari pada sifat atau perikemanusiaannya (freeing man from his human nature)”. Hal ini akan mengakibatkan distorsi dan tidak dapat diterima.

 

Salah satu  yang menarik pada saat ini adalah masalah Molekular genetic dalam hubungan dengan behaviour maupun mental illness.Lima puluh tahun lebih kita mengenal bahwa dalam khromosom, terdapat duoble helix DNA suatu molekul terkecil dari expresi genetik. Kini para ahli percaya bahwa proses tingkah laku adalah heritable (diturunkan) melalui gen sampai tingkat tertentu. Akan tetapi gen ini tak bekerja independen dengan lingkungannya, lingkungan itu akan memanipulasi kerja gen, sebaliknya kerja gen akan berpengaruh pada lingkungan. Telah diketahui bahwa manusia mempunyai 46 khromosom, tiap khromosom dibentuk dari ribuan gen, yang terdiri dari DNA sebagai bagian terkecil dari khromosome. Jumlah Genome manusia tidaklah terlalu banyak kurang lebih terdiri dari 30.000 gene.( lalat yang lebih rendah tingkatannya mempunyai genome sebanyak 14.000 gene). Bentuk lain dari gen yang sama dinamakan allel. Jadi allel adalah berbeda bentuk pada gen yang sama. Allel dari gene ditemukan  pada lokasi yang sama atau locus dari khromosom.

Suatu contoh adalah gene : Acetylcholinesterase, singkatan dari nama Gene itu ACHE, sedangkan nama single nucleotide polymorphism (SPN)=rs8286, terletak pada locus 7q22, sekwen dari basa nitrogen  CCT-CCA-GGC-GGA-CTG (Val-333-Glu).

Gene yang dikenal berisiko untuk menderita psikosis atau Schizophrenia adalah DRD2 (Dopamine-receptor D2, SPN=000000181=Ser311Cys), BDNF, NPY, neuregulin1, reelin dan Synapsin3. 

Sebaliknya dikenal pula polygenik yang artinya beberapa gene, yang bekerja dengan berbagai cara tetapi menghasilkan expresi yang sama, misalnya penyakit mental. Juga dikenal genetik polymorphism, misalnya gen 5htT (Serotonin Transporter). Pada satu individu 5htT terdapat dua allel pendek, pada individu lainnya 2 allel panjang, pada individu lainnya mempunyai 1 alell pendek dan 1 allel panjang.

Gene  terdiri dari DNA akan mentraskrip menjadi RNA (melalui m-RNA dan t-RNA). RNA ini kemudian akan diterjemahkan menjadi asam amino untuk pembuatan protein (Polypeptide)  tertentu, misalnya enzym atau protein lainnya. Dalam satu Gene biasanya terdiri dari promotor site (awal dari pembacaan), sekuen dari DNA yang berisi kode untuk membuat protein dan diakhiri dengan tempat yang dinamakan terminal site.

Cara penelitian untuk menentukan adanya gangguan mental adalah dengan mengambil sample keluarga yang mempunyai gangguan mental yang sama, hal ini dinamakan linkage analisis. Hasil dari linkage analisis mungkin akan ditemukan hal yang sama pada semua yang terganggu mentalnya, sedangkan yang tak terganggu tidak terdapat.  Hal itu dinamakan genetic marker.

Cara lain adalah mengadakan penelitian antara satu jenis allel  dengan satu jenis penyakit. Salah satu contoh adalah Allel yang dinamakan APOE-4 sering ditemukan pada penyakit Alzheimer. (Yul Iskandar 2006, sebagian dikutip dari Biokimia Bagian I, oleh Yul Iskandar)

 

Memang benar, bahwa masing-masing ilmu itu akan dapat menyumbang-kan kontribusi yang berharga, tetapi yang demikian itu belum cukup alasan bagi kita untuk membiarkan manusia itu terbagi-bagi menjadi segi-segi atau aspek-aspek yang cenderung dinilai secara mutlak nantinya. (Kusumanto 1966)

 

Dibidang genetika maka peranan Chromosom adalah sangat sentral. Chromosom manusia terdiri dari protein tertentu, adanya DNA dan RNA. Protein berasal dari kombinasi 20 macam asam amino. Sedangkan DNA dan RNA terdiri dari basa Nitrogen, yaitu Adenine (A), Guanine (G), Thymine (T) dan Cytocin (C). Tebal dari DNA adalah 20 Angstrom, dan panjangnya  30.000 Angstrom. Bentuk dari DNA adalah double yang melingkar pada satu sumbu yang dinamakan double helix. Jadi DNA selalu terdapat dalam sepasang, sedangkan RNA  single polynucleotide. Pada RNA dibedakan atas bagian RNA yang kecil yang dinamakan t RNA (transfer  RNA), yang berfungsi membawa asam amino ketempat pembuatan protein. Selain itu dikenal pula mRNA (messenger RNA) yang fungsi menterjemahkan pesan genetik dari DNA. RNA yang terakhir dinamakan r-RNA (Ribosomal RNA) yaitu suatu bagian dari ribosom dimana pesan-pesan DNA  diterjemahkan menjadi rantai polypeptide dan protein.

Keterangan dimulai dari DNA kemudian diterjemahkan oleh m-RNA, bersama dengan t-RNA akan membentuk protein. Satu group terkecil dari basa nitrogen ( 3 basa nitrogen) yang mengkode 1 asam amino dinamakan codon. Sedangkan basa nitrogen pada t-RNA  yang berfungsi mengikat codon dinamakan anticodon. Bakteri mengandung 1000 gen, lalat mengandung 14 000 gen, dulu diperkirakan manusia mengandung jutaan gene, tetapi pada penelitian tahun 2001, berbagai group ahli molekular biologi memastikan bahwa genome manusia tak lebih  dari 300.000 gen. Penamaan Gene  adalah dari fungsinya misalnya Actylcholinesterase, kemudian ada singkatan ACHE, dan nama Single Nucleotide Polymorphism (SNP), locus terdapatnya gene tersebut di khromosom serta Sequens dari Basa nitrogen.

Gen itu tidak terletak dalam satu rantai, tetapi terletak dalam 46 molekul khromosom, jadi pesan genetik tidak hanya terletak pada 1 rantai khromosom, tetapi pesan genetik itu ada beberapa kopi, sehingga bila satu tak berfungsi, masih ada cadangannya.

Semua hal didalam tubuh diatur oleh enzym-enzym sintesis, enzym ini dihasilkan oleh gen pengatur (Gene Regulator). Gen pengatur ini  akan menghasilkan suatu molekulyang dinamakan represor. Bila ada substrat maka represor  tidak akan bekerja, sebaliknya bila tak ada substrat maka molekul  represor trsebut akan menghalangi gen struktur untuk mensintesis enzym. Kita mengenal dua macam enzym yaitu represible enzyme dan inducible enzyme. Pada Represibble enzym, system ikatan  dari represor akan mengakibatkan represor menjadi aktif, dan memblokir bekerjanya gene pengatur. Sebaliknya yang terjadi pada inducibel enzym ikatan  pada represor, mengakibatkan represor tidak aktiv, sehingga tak bisa merepresi gen operator dan gen struktur. (Yul Iskandar 2006, bahan-bahan diambil dari Yul Iskandar Biokimia (1976) dan Abnormal Psychology oleh Kring.A.M (2006)

 

Manusia senantiasa merupakan suatu kesatuan holistik integratif yang autonom dan autochton, walaupun manusia itu mungkin dapat mengambil manfaat dari pada pelbagai saran, petunjuk atau ikhtiar dari pada masing-masing aspek keilmuan yang memang dapat ditunjukkan pula dalam jasad dan jiwa diri manusia itu. (Kusumanto 1966)

 

Sebagai contoh dari penelitian : Association between Serotonin – related Genetic Polymorphisms and CCK-4 induced Panic attacks with or without 5-Hydroxytryptophan pretreatment in Healthy Volunteers. Maron et all (2004).

Pengaturan genetik dari fungsi serotonin mungkin sekali sangat penting dalam proses neurobiology Panic disorders. Dalam rangka mengevaluasi variant gene dari serotonin pada vulnerabilitas terhadap panic attact, para peneliti memerikasa genotyped 32 volunter normal. Para volunteer mendapat 5 HTP (5-hydroxytriptophan (untuk induksi pembentukan serotonin)  dan kemudian diberikan CCK-4 (Cholecystokinin Tetrapeptide= inducer panic atact). Polymorphism yang diperiksa adalah 5htT (5hydroxy transporter) dan MAO-promoter gene.

Hasil menunjukkan bahwa  terdapat asosiasi yang significat antara genotype tersebut dengan panic rate, tetapi hanya pada wanita tidak pada laki-laki. Ternyata pada panic attact pada wanita yang mempunyai allel panjang untuk MAO-A dan Allel pendek pada 5htT.

Dari data ini dapat disimpulakan bahwa adanya genetic polymorphism pada system serotonin, merupakan  vulnerbilitas atas gangguan panic, dan adanya inhibisi fungsi serotonin, pada circuitry dari panic. (Yul Iskandar 2006)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: