Simbol dan simbolik.

Hal ini tidak usah mengherankan , karena memang ihtiar  simbolik itu amat khas bagi individu manusia. Bukankah manusia itu  sejak lahirnya sudah dilingkungi oleh benda-benda, peristiwa-peristiwa  dan konsep-konsep yang hanya memberikan isyarat-isyarat  atau pertanda  pemberitahuan  tentang arti maknanya masing-masing melalui simbolik . . . . dan seterusnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/01/14/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-10/

                                                                         

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, danakan disebar luaskan melalui blog : https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/01/14/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-10// 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

h.Simbolik

 

Ikhtiar simbolik ialah suatu usaha yang diketahui merupakan salah satu corak human yang khas. Baik dalam ilmu kedokteran umum, maupun dalam ilmu kedokteran jiwa, senantiasa kita diharuskan untuk “menangkap simbolik manusia”, baik dalam keadaan sehat maupun keadaan sakit. Dalam keadaan yang terganggu itu seringkali yang bersangkutan tadi menyatakan “simbolik pribadinya” dengan jalan memperkembangkan salah satu gejala atau kompleks gejala. (Kusumanto 1966).

 

Istilah symbol atau tanda adalah menggabungkan  suatu  bentuk dalam berbagai gagasan. Symbol atau tanda-tanda sering kita temui misalnya dijalan raya, ada symbol S dicoret, maksudnya ialah dilarang untuk berhenti walaupun untuk sebentar. Sedangkan P dicoret, adalah larangan untuk parkir. Jadi pada awalnya ada beberapa tanda atau symbol yang harus  dipelajari lebih dahulu, baru nanti kita mengenalnya dan atau yang berkuasa mengatakan bahwa symbol itu harus dia mengerti, walaupun belum pernah diajarkan. Symbol silang dihubungkan dengan konsep penderitaan dari Jesus Christus yang disalib, jadi tanda palang atau (cross) berhubungan dengan tanda penderitaan, kematian dan kesakitan. Symbol ini kemudian diambil oleh palang merah sedunia sebagai lambangnya. Tentunya kaum muslimin tidak mau mengambil palang merah sebagai tanda rumah sakit atau pengobatan, dia mengambil symbol bulan sabit merah. Maka diberbagai Negara muslim symbol dari penderitaan dan kesakitan adalah bulan sabit merah. Symbol adalah pertemuan berbagai asosiasi, ada yang secara universal diterima, ada pula yang tak mau menerimanya, baik karena masalah politis atau filosofis.

Dalam dunia psikologi dan psikiatri maka symbol-simbol itu mempunyai makna sendiri, misalnya dalam mimpi, maka apa yang keluar dalam mimpi mempunyai arti simbolis, dari alam bawah sadar. Hal ini diyakini oleh para psikoanalisisis. Dalam dunia ilmu pengetahuan, misalnya ilmu kimia, maka O2 adalah symbol dari oxygen, H2 adalah symbol dari hydrogen. Dan H2O adalah symbol dari air. Symbol disini sering dinamakan pula rumus bangun, dan ada yang sederhana, tetapi banyak pula yang complex seperti pada ilmu kimia organic. (Yul Iskandar 2006) 

 

Hal ini tidak usah mengherankan , karena memang ihtiar  simbolik itu amat khas bagi individu manusia. Bukankah manusia itu  sejak lahirnya sudah dilingkungi oleh benda-benda, peristiwa-peristiwa  dan konsep-konsep yang hanya memberikan isyarat-isyarat  atau pertanda  pemberitahuan  tentang arti maknanya masing-masing melalui simbolik? (Kusumnato 1966)

 

Pada manusia ada unsur simbolik yaitu yang melahirkan kita adalah ibu kita dan sampai kapanpun akan menjadi ibu kita. Ibu akan mengasuh anaknya, mungkin sampai 18 tahun, 21 tahun bahkan sampai 40 tahun. Pada hewan, konsep pemeliharaan adalah sekedarnya saja, sudah itu akan terlepas, dan mereka tidak mempunyai konsep ibu. Bahasa adalah kulminasi dari symbolic itu dan hanya manusia yang mempunyai bahasa (Yul Iskandar 2006)

 

Maka oleh sebab itulah, justru untuk maksud   menegakkan arti dan makna pemberitahuan-pemberitahuan tentang hal-hal itu , manusia  sudah sejak lahir harus terlebih dahulu  menegakkan arti pemberitahuan hal-hal itu dengan jalan menegakkan  ihtiar-ihtiar simboliknya.

   Adanya api saja belumlah cukup memberitahukan anak tentang bahaya yang mengancamnya jika api itu dipegang, sebelum anak itu mengetahui tentang arti dan makna bahaya tadi. Untunglah konsep bahaya ini dapat dilukiskan secara deskriptif, dan dapat dinyatakan dengan menggunakan tanda serta dapat dikisahkan dengan cerita tentang arti dan maknanya. Dengan cara-cara demikian itu, maka manusia dapat mulai dibimbing melalui ambang dan memasuki alam simbolik. (Kusumanto 1966)

 

Jadi jelaslah pada usia dibawah 3 tahun, anak hanya mengerti hal-hal yang kongkrit saja. Bila dia sudah pernah memegang api, dan ternyata panas dan menyakitkan, maka dia tahu api itu adalah symbol dari panas dan menyakitkan. Oleh karena itu konsep neraka, maka yang terbayang adalah api yang luar biasa panasnya, dan tentunya luar biasa sakitnya, dan ini akan ditemui oleh orang-orang yang jahat dan tak beriman. Alam simbolik secara perlahan akan meningkat  setelah bertambah dewasa, akan tetapi arti simbolik ini akan menghilang kembali pada manusia yang sakit, khususnya  penderita skizofrenia. Arti simbolik bagi orang dewasa, mencakup masalah malu, moral (benar atau salah), hukum (melanggar atau tidak melanggar) dsb.  Sedangkan penderita schizophrenia (yang sudah parah dan khronis)  akan sama seperti anak kecil kembali, dia tak tahu malu dan tahu masalah moral dan hukum. Hal ini terlihat di rumah-rumah sakit jiwa ketika belum ada obat  anti psikotik, banyak penderita schizophrenia melakukan masturbasi didepan umum. Oleh sebab itulah sering masturbasi dikatakan bisa menjadi ‘gila’, karena banyak pasien yang bermasturbasi  didepan umum, dan dulu dianggap inilah  penyebab  penyabab gangguan mental itu. (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh sebab itu, maka perlu kiranya dalam hubungan antar manusia yang teratur dan bersistem, soal ikhtiar simbolik itu diperbaharui, dipertajam, dan dipertandas.

Hal ini dapat dijalankan pada waktu-waktu tertentu secara berkala, antara lain dalam penelitian penggunaan bahasa. Hal ini akan memperlicin dan mempermudah komunikasi dan pengertian antar manusia. Hambatan-hambatan dan prasangka-prasangka yang tak perlu dapat dihindarkan. (Kusumanto 1966)

 

Masalah ini justru yang terbanyak kesalah pahaman adalah pada bidang psikologi dan psikiatri. Ada berbagai arti atau kata yang sama diartikan dengan berlainan. Salah satu contoh kata schizophrenia dimana di Amerika Serikat sering disamakan artinya dengan gangguan psikotik, sedangkan di Eropah istilah itu sangat sempit. Memang  AS mencoba untuk menyatukan pendapat itu dalam bukunya DSM (Diagnostic and Statistical Manual) yang kini sudah pada edisi ke IV.  Akan tetapi beberapa negara yang berbahasa Jerman, kurang menyukainya dan membuat sendiri, malahan ada klasifikasi dari WKL (Wernicke-Kline-Leonhard)  yang membedakan dirinya dengan DSM. Dibidang psikiatri banyak sekali istilah-istilah yang sukar untuk didifinisikan, misalnya istilah stress, cemas, depresi, neurotik, psikosomatik, psikopat,  panic dsb. Istilah-istilah diatas sering akan berbeda antara psikolog-psikiater dan orang awam. (Yul Iskandar 2006) 

 

Dalam bidang ilmu psikiatri akademik dimana cabang dinamika psikologi khusus bertujuan meneliti alam kalbu manusia, dapat dilakukan usaha-usaha yang bermanfaat dalam memberikan sistematisasi dari pada pelbagai arti dan makna symbol-simbol yang letaknya dalam “sumber” atau “inti” kehidupan manusia yang vital.

Simbol-simbol seperti Ibu, Ayah, serta seksualitas dan omnipotensi, semuanya dapat digolongkan dalam kategori simbol-simbol yang universal vital.

Apakah simbol-simbol itu harus dianggap bersemayam dalam “alam tak sadar kolektif”, seperti disarankan oleh Jung, ataukah kita lebih baik menganggapnya sebagai simbol-simbol yang sudah pada permulaan kehidupan tiap-tiap manusia dibawakan oleh alamnya seperti yang kami menganggapnya, masih terbuka untuk diskusi yang luas.

Sifat universalnya itu jelas karena simbol-simbol itu memberikan makna dan arti tertentu dalam segi-segi tertentu  dalam hubungan kehidupan perorangan , demikian pula  dalam hubungan kehidupan  orang yang bersangkutan  tadi  dengan  kehidupan  orang-orang lain  yang  semasyarakat dengan dia.

Oleh sebab itu, maka salah satu sifat khas bagi simbolik kehidupan manusia ialah fakta bahwa simbolik itu selalu ternyata, hidup dan segar dalam pergaulan social manusia-manusia itu. Hal ini berati bahwa tiap-tiap usaha untuk melancarkan suatu arti simbolik baru haruslah dilihat dengan hati-hati dan mata yang kritis. (Kusumanto 1966)

 

Symbol harus dibedakan dengan tanda atau sign. Banyak tanda –tanda merupakan hal penting  dalam dunia kedokteran. Tanda  seorang demam adalah badannya panas, sebaliknya orang batuk menunjukkan bahwa ada suatu proses di paru-paru orang tersebut. Dalam kedokteran fisik tanda-tanda itu sangat jelas dan hampir pasti, tidak demikian halnya dengan dunia psikiatri. Hampir  tak ada tanda-tanda yang pasti, misalnya adanya halusinasi belum pasti seseorang menderita psikotik. Misalnya  pada hipnogogik dan hipnopompik orang akan mempunyai halusinasi, begitu pula  menghisap ganja, dan berbagai obat tertentu seperti LSD, dapat mengakibatkan halusinasi, yang pada umumnya adalah normal adanya. Suatu keadaan yang dinamakan near death syndrome (NDS), yaitu seseorang yang hampir mati olah sebab apapun, misalnya bertapa dan berpuasa melampaui batas,  atau kecelakaan, dapat pula mengalami  halusinasi, yang juga masih dapat dikatakan normal. Halusinasi akan hilang kalau dia tidak mengalami lagi NDS. (Yul Iskandar 2006)

 

Memang harus diakui  bahwa  sesuatu usaha melancarkan  suatu peloporan expresi simbolik  itu sampai  taraf  tertentu harus dihargai karena ia bersifat memelopori. Akan  tetapi  walaupun demikian  kita harus pula waspada apakah  expresi simbolik  yang dijadikan pelopor itu juga tidak akan  dipahami dan ditafsirkan  berlainan pula dalam pelbagai  segmen  daripada lingkungan  sosial budaya  yang sama? ( Kusumanto 1966)

 

Adanya hantu adalah fenomena yang tidak bisa dikatakan abnormal. Bagi orang kota yang tinggal dikota yang ramai, banyak manusia lainnya, bisa berbicara selama 24 jam, maka masalah hantu yang gaib itu tentu merupakan tanda tanya. Lain halnya bila tinggal di dusun atau masuk hutan dan sendirian, maka akan nyatalah bahwa kita sebagai manusia merupakan mahluk yang sangat rentan, dan malahan ada rasa takut. Maka adanya fenomena hantu didaerah yang demikian adalah wajar saja jadinya, walaupun hampir tidak ada orang yang mengaku pernah benar-benar melihat hantu. Hal yang mistik ini terjadi pula pada orang barat, yang tak mau memakai nomor 13, karena akan menjadi celaka 13.((Yul Iskandar 2006).

 

Sebab, pernyataan simbolik dan makna serta artinya seringkali terikat secara amat spesifik individual. Lagi pula hal-hal itu sangatlah sulit untuk dilepaskan dari pada bentuk konkrit yang dipilih oleh manusia itu sebagai “medium pertanyaan” atau “medium ekspresi”. Dan oleh sebab itu pula maka yang acapkali nampak dalam diri penderita ialah adanya suatu ketidak tegasan atau kekaburan antara alam hidup individual (penderita) yang bersifat pikiran, kesadaran dan perasaannya, yaitu jiwanya dengan alam hidupnya yang bersifat organismal vital universal, yaitu jasmaninya. Dengan perkataan lain : tidaklah terdapat suatu garis pemisah yang tegas antara alam hidup jiwa di satu pihak, dan alam hidup jasmaniah di pihak lain. (Kusumanto 1966).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: