Emosi, Affect, gejala psikopatologis.

Menurut hemat dan dan pengalaman kami, apa yang disebutkan sebagai konsep “hidup emosi (emotional life of reaction)” dan “keadaan afektif” tidaklah sama dan perlu dibeda-bedakan satu dari pada lainnya, walaupun banyak ahli berpendapat sebaliknya dan karena itu cenderung untuk menyamakan konsep-konsep itu. . . . . ) dari pada hal-hal yang terjadi dalam luas varisi hidup emosi, dan mungkin banyak sedikit dapat disamakan dengan apa yang dahulu disebutkan sebagai affect s
Selanjutnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/01/09/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-9/

                                                                         

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini,

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

 

g.     Emosi

 

Konsep emosi, hidup emosi dan keadaan afektif.

Menurut hemat dan dan pengalaman kami, apa yang disebutkan sebagai konsep “hidup emosi (emotional life of reaction)” dan “keadaan afektif” tidaklah sama dan perlu dibeda-bedakan satu dari pada lainnya, walaupun banyak ahli berpendapat sebaliknya dan karena itu cenderung untuk menyamakan konsep-konsep itu. (Kusumanto 1966)

 

Feeling, mood and affect

Konsep “hidup emosi = emotional life of reaction = sering pula disebut mood. Mood (internal feeling) sering mempengaruhi perilaku atau persepsi individu terhadap dunia.

Keadaan  afektif atau disebut Affect  saja dapat menunjukkan informasi diagnostik yang berguna.

 

Anxiety

Perasaan cemas tanpa sebab yang objektif.

 

Feelings of alien influence

Perasaan merasa dirinya dipengaruhi dari pihak luar.

 

Feeling of guilt

Perasaan telah melanggar moral, etika dan agama dan biasanya menjadi delusi. “Feeling of guilt” sering diekspresikan dengan munculnya mood sedih.

 

Feeling of impoverishment

Perasaan tidak berharga, biasanya menjadi delusi. Termasuk dalam feeling of impoverishment adalah helplessness yang sering diekspresikan dalam isi pikiran yang ada pada mood sedih.

 

Hostility

Perasaan yang antagonis atau membangkang yang biasanya tidak kooperatif dan siap tempur/berkelahi.

 

Feeling of loss feeling

Perasaan dimana seseorang kehilangan emosi. Ada perasaan kekosongan emosi atau perasaan emosinya mati.

 

Feeling of inadequacy

Perasaan non delusi dimana dirinya merasa tidak mampu, tidak menarik, bodoh, canggung. Feeling inadequacy sering diekspresikan dalam isi pikiran munculnya mood sedih.

 

Deskripsi mood individu

yaitu; depresi, gembira, kekanak-kanaka, silly, labil (mis: depresi ke manic; manic ke schizophrenic, dll), curiga, ketakutan, marah-marah, cemas, mudah tersinggung, menghina diri sendiri.

 

Anxious mood

Keadaan affective yang negative yang ditandai dengan kecemasan dan ketakutan. Biasanya pasien ketakutan; mereka takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Ekspresi anxious mood meliputi: bola mata yang menonjol (melotot), mydriasis; pucat, dingin, keringat dingin; merinding, napas cepat; jantung berdebar-debar; dan/atau tremor.

 

Parathymia

Juga mirip dengan “inappropriate mood” atau “paradoxical affect”. Di karakteristikan dengan ekspresi emosional atau respon terhadap kejadian-kejadian atau situasi.

 

Depressed mood

Keadaan afektif negatif yang ditandai dengan mood yang merendah dan perasaan sedih. Depressed mood meliputi perasaan yang luas, mulai dari sedih sampai pada perasaan penolakan yang ekstrem, kesengsaraan yang mendalam. Ekspresi dari depressed mood meliputi; menangis, tampang sedih, putus asa dan sengsara.

 

Unmotivated depressed mood

Depressed mood yang tidak berarti dan tidak dapat dimengerti pada pasien. Bagaimanapun usaha keras mereka, pasien tidak dapat menemukan penjelasan atas keadaan mood mereka yang menurun.

 

Reactive mood changes

Perubahan mood berdasarkan keadaan lingkungan.

(Yul Iskandar 2006)

 

Sebelum pembahasan ini dilanjutkan perlu kita bertanya lebih dahulu; apakah benar adanya hidup emosi dan keadaan afektif itu hendak kita tafsirkan sebagai banyak sedikit berdiri “autonom”, dan karena itu “bertaraf sama” ataukah sebaliknya, banyak sedikit bersifat bergantung, dan oleh sebab itu bertaraf “lebih rendah” dari pada kesadaran?

 

. Jika, andai kata saja kita menganggap, bahwa kesadaran itu adalah puncaknya kemampuan manusia (jadi, yang bertaraf tertinggi) maka hidup emosi dan keadaan afektif itu, boleh dianggap merupakan hal-hal yang pada prinsip-prinsip bersifat “gangguan” ataupun “kekaburan” terhadap “kejernihan kesadaran” manusia. Dengan demikian, maka jernihnya alam kesadaran itu pada prinsipnya dikeruhkan oleh adanya hidup emosi dan keadaan afektif, jika kita menganggap bahwa alam kesadaran itu menjadi wadah dan tempat penampungan sejumlah isi kesadaran tertentu yang kemudian dapat dikeruhkan karena timbulnya emosi.

 

Dalam pembicaraan mengenai kesadaran dan afect serta emosi, mau tidak mau kita harus membicarakan masalah materialisme  dan spiritualisme. Materialisme tentunya menganggap manusia pada dasarnya adalah material, sehingga semua hal dan gejala , serta pengalaman manusia berdasarkan hukum-hukum alam, mekanika, kimia dan biologi. Dari sini aliran psikiatri biologik murni dan psychoanalitik klasik (Freudian) dapat dimasukkan dalam aliran materialistik ini. Dengan sendirinya konsekwensinya adalah bahwa semua hal ada pada otak, atau dalam dalam pengalaman individual yang uncounsious.

Sebaliknya spiritualisme  melihat hakekat manusia adalah jiwa atau roh, jadi bersifat spiritual yang unik sehingga tak bisa diukur dan dijelaskan dengan mengacu pada hukum-hukum alam, atau hukum – hukum mekanis, kimiawi dan biologis. Hanya melalui interpretasi-interpretasi  yang murni kualitatif dan introspektif  gejala – gejala dan pengalaman manusia dapat diterangkan.

Tetapi kini hampir tidak ada ilmiawan khususnya psikolog dan psikiater yang menganut materialisme murni, atau spiritualisme murni. Ada dialog antara keduanya, malahan banyak yang menganggap bahwa kedua hal itu ada  interaksi yang sangat kuat ( Brain and Mind interaction) (Yul Iskandar 2006)

 

Dengan berpendapat demikian, maka pada asasnya kita telah mencoba untuk meletakkan semacam “hierarchi” dalam unsur-unsur psikologi yang dapat dijadikan landasan yang berstruktur guna pendalaman suatu ilmu psikiatri.

 

Sesuai dengan pendapat kami semula maka patut kita membedakan antara hidup emosi dan keadaan afektif. Adapun ini hendaknya diartikan, bahwa hidup emosi (gevoelsleven, emotional life or reaction) memiliki kwalitas yang khusus terikat pada suatu keadaan (objek) tertentu. Sebaliknya, soal keadaan afektif (stemming, stimmung, grundstimmung, atau affective state) justru tersifat karena tanpa adanya sesuatu objek tertentu pun namun keadaan perasaan ini tetap terpelihara.

 

Dengan demikian, maka hidup emosi (hidup berperasaan) tersifat karena kwalitas hidupnya, jadi berkembang surutnya, menuruti situasi sesaat-sesaat, menurut terkena atau tidaknya manusia itu dalam dunia penghayatannya (world of perception) tentang peristiwa tertentu yang terbatas.

 

Emosi adalah representant  tersendiri (singular) dari pada hal-hal yang terjadi dalam luas varisi hidup emosi, dan mungkin banyak sedikit dapat disamakan dengan apa yang dahulu disebutkan sebagai affect suatu istilah yang untuk jelasnya diskusi ditinggalkan.

 

Perasaan ngeri yang menakutkan, apabila tertuju kepada suatu objek tertentu tepat disebutkan sebagai takut (vress,, fear). Lagi pula, dalam seluruh hidup emosi manusia, orang tidak akan luput dari pada kesan, bahwa secara topografi letaknya lebih peerifer dan bersifat lebih partial.

 

   Lain halnya dengan keadaan afektif manusia yang terikat sama sekali pada manusia itu secara hakiki (wezenlyk) dan senantiasa bersifat difus. Keadaan afektif ini tidak hanya terikat pada satu objek perhatian yang tertentu. Ia meliputi dan menerusi (flows through) seluruh suasana kejiwaan manusia itu. Ditinjau dari sudut filsafat pribadi manusia individual, maka jelas dua modus keadaan afektif dapat dibedakan, yaitu : kebahagiaan (happiness) dan kegelisahan (anxiety). Disamping itu, ilmu psikiatri juga mengenal keadaan-keadaan afektif dengan kualifikasi yang beraneka warna, seperti : hyperthymik (maniakal), hypothymik (depressif), dysthymik (iritabel) dan poikilothymik (cyclothymik intensif)  dan mendatar (flattened affective state).

 

Deskripsi individual affect,

Khusus untuk schizophrenia sebelum pasien menderita  affect yang mendatar ada beberapa gradasi  yang ditawarkan.

Normal affect

Bervariasi dalam: ekspresi wajah, suara, penggunaan tangan, gerakan tubuh.

Restricted affect

Penurunan dalam intensitas dan range ekspresi emosional.

Constricted affect

Keterbatasan pada range (variabilitas) affect pada satu atau beberapa perasaan. Pasien dengan “constricted affect” menunjukkan sedikit atau bahkan tidak ada variabilitas mood mereka dalam satu periode.

Blunted affect

Penurunan yang parah dalam intensitas dan range ekspresi emosional.

Flattened  affect

Tidak ada ekspresi emosional sama sekali; ekspresi wajah yang immobile, suara yang monoton. (Yul Iskandar 2006)

 

Dalam hubungan tinjauan psikiatri dapatlah kami terima dan setujui dalam filsafat existensial yang menganggap prinsipil sifatnya kegelisahaan (anxiety) dan bahwa hal ini menyinggung suatu sendi dasar manusia yang bersifat hakiki. Dengan formulasi istilah-istilah psikiatri, kami cenderung untuk menyebutkan bahwa persoalan keadaan afektif ini secara topografi lebih mendalam dalam perikemanusiaan pasien kita, dan oleh sebab itu dapat memberikan petunjuk kualitatif yang sangat penting.

 

Dengan perkataan lain, keadaan afektif manusia memberikan corak yang primer elementer kualitatif, sedangkan hidup emosi manusia tidak demikian. Corak-corak hakekat manusia individual seperti rasa gelisah,  karena seolah-olah selamanya senantiaasa “merasa bersendirian dan sunyi senyap disertai merasa tidak jelas fungsi atau kedudukan dalam alam dunia (feelings or loneliness and unsecurity of being) kami anggap isyarat-isyarat penting dalam mengemudikan diagnosa dan terapi, serta pula untuk menegakkan prognosa. Sebailknya, untunglah bahwa dalam kasuistik praktek dapat pula kita jumpai cukup banyak orang yang memperlihatkan keadaan afektif yang diliputi dan diterusi kebahagiaan (happiness) yang antara lain tercorak oleh karena manusia yang bersangkutan itu telah sampai kepada menemukan dan mengisi hidup existensinya.

Oleh sebab itu kami berpendirian bahwa penilaian psikiatrik  penting bagi pemeriksa bahwa ia  dapat membiasakan  dirinya dengan berkeyakinan  bahwa manusia  pasien yang dihadapinya  itu wajiblah oleh nya dibawa  kedalam pergaulan antar  manusia yang lebih bermakna dan bermanfaat. Pada prinsipnya kita harus berpendapat  bahwa justru  dalam kontak  dengan manusia lain penderita manapun juga dapat  lebih menciptakan  diri, lebih menghayati diri dan lebih  mempresipitasikan  diri, baik dalam kasih sayang  maupun dalam kreasinya yang maximal  demikian pula  dalam mengalami  sedalam-dalamnya segala sesuatu yang selama itu dan sebelumnya  menjadi idam-idamannya.

 

Jika kita kembali sebentar kepada soal hubungan antara kesadaran dan hidup emosi, haruslah dikemukakan bahwa guna tercapainya suatu fungsi hidup emosi yang bermanfaat optimal, perlu adanya suatu hubungan relatif dan limitatif yang optimal pula antara kedua konsep itu. Keseimbangan yang harmonik antara pengaruh langsung dari objek terhadap manusia secara emosional, dan daya kemampuannya untuk objektivasi objek itu, merupakan syarat utama bagi berlangsungnya segala proses secara optimal.

Sebab, hanyalah dengan adanya “spatium (space)” atau luas “jarak antara” tertentu, maka kita bisa mengalami kesadaran dan manfaat emosional yang sesempurna-sempurnanya. “Kepala dingin” dan “hati panas” haruslah seimbang dan harmoni, jika penghayatan yang sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya hendak kita ikhtiarkan.

“Kepala dingin” yang dibentuk dalam diri manusia secara extrem dapat menjelma menjadi sikap hidup yang schizoid, dengan segala konsekwensinya; “hati panas” yang extrem, dalam praktek dapat mendorongkan manusia dalam sikap dan perbuatan yang langsung atau yang bersifat “Kurzschluss (short circuited)”, seolah-olah disertai suatu pelepasan muatan (discharge of energy) yang secara deskriptif bercorak reflektorik atau psikopatik.  (Kusumanto 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s