Body-Mind-Concious-Power.

Body-Mind-Concious-Power

Ada tiga hal yang mempersona manusia, yaitu Body atau tubuh, Counsious atau kesadaran, Power atau kekuasaan. Filsafat membicarakan ketiganya, sedangkan psikologi dan psikiatri lebih pada masalah counsious atau kesadaran. Malahan Psikiatri membedakan dirinya dengan apa yang para ahli filsafat membicarakan mengenai masalah counsious. Masalah ini menjadi penting dalam hubungan psikodinamika seperti
dan seterusnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/01/05/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-8/

                                                                         

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini,  
/ 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

Magoun berkeyakinan bahwa yang kontroversial itu bukanlah soal bahwa struktur otak dan tingkah laku manusia itu berhubungan satu dengan lainnya, akan tetapi bagaimanakah hubungan otak dan tingkah laku itu terjadi secara kausal. (Kusumanto 1966)

 

Ditahun 2000-an, struktur dan kerja otak makin jelas kerjanya. Berbagai pusat pusat penting di otak  dan daerah-daerah tertentu telah dikenal. Daerah Pre-frontal misalnya telah dikenal sebagai pusat untuk inteligensi intra dan interpersonal. Akan tetapi tetap masalah kausal antara relasi Brain dan behaviour belum bisa dipecahkan dengan saksama.(Yul Iskandar, 2006)

 

Menurut hemat kami, maka baik ditinjau menurut psikodinamika maupun berdasarkan neurodinamika terdapat segi-segi yang cukup positif, walaupun hal-hal itu belum cukup alasan pula untuk dihargai secara mutlak. Dalam pada itu perlu dikemukakan pula, bahwa kesadaran manusia baru timbul secara maksimal apabila manusia itu berada dalam relasi dengan manusia-manusia lain, atau representant-nya ; dan apabila ia pandai untuk meletakkan limitasi tertentu dalam hubungan itu, secara sukarela. (Kusumanto 1966).

 

Masalah kesadaran secara neurofisiologi bisa dibagi dalam kesadaran penuh, tidur ringan, tidur dalam, soporofic, stupor,  somnolence, delirium, reversible coma, irreversible coma. Disamping itu ada istilah clouding of consiousness. (untuk istilah-istilah diatas telah dikemukakan secara panjang lebar pada managemen Diagnostik & Terapi Gangguan Psikiatrik,Yul iskandar 2005)      (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh karena itu  maka soal kesadaran  tidak pula dilepaskan daripada kesadaran diri (selbst Bewusstsein). Pembahasan kita sekaligus harus meliputi relasi dan limitasi itu terhadap lingkungan  sosial-nya  dengan memperhatikan  psikodinamika dan neurodinamika yang diduga ada  dan juga melihat manusia sebagai suatu manifestasi jasmaniah.

Dengan demikian, maka soal kesadaran bukanlah merupakan soal filsafat saja ( dan karena itu mungkin memberikan kesan seolah-olah “terapung-apung”), melainkan merupakan suatu soal yang amat konkrit. Soal kesadaran dipahami sebagai soal yang “berpresipitasi dalam diri manusia” sehingga dengan berpegang dengan soal ini menjadi masalah ilmu psikiatri dan ilmu kedokteran secara bersama-sama dan bersifat suatu kepentingan yang amat primer. (Kusumanto 1966)

 

Ada tiga hal yang mempersona manusia, yaitu Body atau tubuh, Counsious atau kesadaran, Power atau kekuasaan. Filsafat membicarakan ketiganya, sedangkan psikologi dan psikiatri lebih pada masalah counsious atau kesadaran. Malahan Psikiatri membedakan dirinya dengan apa yang para ahli filsafat membicarakan mengenai masalah counsious. Masalah ini menjadi penting dalam hubungan psikodinamika seperti yang  telah dikemukakan diatas Baik Freud dan Yung, maka ada kesadaran yang sadar atau counsiousness, dan ada bagian ketidak sadaran uncounsiousness. Dari contoh yang dikemukakan oleh Freud, ketika dia menderita depresi (neurosis), dimana dadanya berdebar-debar, rasa tercekik dsb, secara kesadaran neurodinamika, dia dalam sadar betul (aware) apa yang terjadi pada jantungnya, akan tetapi pada saat yang bersamaan secara psikodinamika dia uncounsious pada konflik-konflik yang terjadi pada dirinya.

Kesadaran ditinjau secara filsafat, esensi nya menurut Husserl adalah intensionalilitas. Kesadaran tidak lain adalah intensional mengarah kepada sesuatu  yang disadari, yang disebut objek intensionalitas atau noematic. Setiap aktivitas  menyadari  adalah aktivitas menyadari sesuatu. Oleh sebab itu  pengertian kesadaran menurut Husserl selalu dihubungkan dengan kutub objeknya, yakni objek yang disadari. Kesadaran adalah kesadaran akan…’, tidak pernah ada kesadaran kosong tanpa  objek intensional.

 (Yul iskandar 2006)

 

Ditinjau demikian, maka persoalan kesadaran ini tidak lepas pula dari pada soal kebebasan dalam hal ini, kebebasan memilih cara bereaksi. Akan tetapi penting dikemukakan, bahwa manusia itu hanya dapat dianggap memiliki kebebasan, jika kita menganggap bahwa ia itu dapat atau mampu memilih dalam arti kata,  bahwa padanya ada intensionalitas untuk memilih. Maka berdasarkan intensi itulah dapat kita memahami arah tujuannya serta cara bereaksinya, serta “jawabannya (response) dari pada manusia itu terhadap ajakan, tuntutan dan tantangan hidupnya. Dalam memberikan “jawaban” ini, manusia itu dalam keadaan-keadaaan tertentu dapat memilih dengan tepatnya. Artinya, pilihan itu dapat memuaskan dia sendiri serta lingkungannya, secara optimal dan secara timbal balik. Lain halnya apabila pilihannya itu kurang tepat yang juga mengakibatkan konsekwensi-konsekwensi yang tersendiri. Akan tetapi, dapatlah kita bayangkan suatu keadaan yang paling celaka baginya, yaitu apabila salah yang dipilih itu terjadi dengan membawa serta konsekwensi-konsekwensi sosial psikologi dan organobiologi yang banyak sedikit bersifat kurang atau  ireversibel. Keadaan yang terakhir ini merupakan salah satu aspek penting dalam terjelmanya keadaan kurang sehat atau pun keadaan sakit. (Kusumanto 1966).

 

Kebebasan memilih yang ada pada manusia, tentunya sangat terbatas. Ada hukum-hukum, hukum alam, hukum adat, moral dan etika, yang akan menghalangi seorang memilih tindakan sesuatu. Tidak semua orang mampu memilih. Lagi pula manusia mempunyai sifat buruk, yaitu tamak, pemarah, dan bodoh. Orang yang tamak, yang kehilangan akal sehatnya karena ketamakannya, orang pemarah kehilangan akal sehatnya karena pemarahnya, dan orang bodoh kehilangan akal sehatnya karena ketidak mampuannya untuk mendengar dan mengerti nasehat orang yang lebih berpengalaman.

Pada keadaan kini penyakit psikosomatik pada umumnya disebabkan ketiga penyebab itu (tamak, pemarah, bodoh), dan itulah yang merasuk membuat manusia jadi tidak bahagia (unhappiness). Sebagian mengatakan itu adalah depresi, tetapi ketidak bahagiaan karena salah pilih bukan lah depresi. Dia adalah konsekwensi logis dari segala perbuatannya yang tamak, yang tak memperhatikan orang lain. Psikiater yang ceroboh sering menyatukan  antara psikosomatik, neurosis, dan depresi  dalam satu kategori gangguan psikiatri ringan atau gangguan neurosis atau gangguan cemas. Malahan dokter umum sering berkata bahwa penyakitnya karena banyak pikiran atau stress. Ada benarnya tetapi suatu hal yang pasti adalah penyesalan pasien karena telah memilih yang salah. Ini yang dikenal oleh para dokter umum. Bukan pikiran atau perbuatan yang salah itu benar yang membuatnya tidak bahagia, tetapi karena dari berbagai alternatif tindakan maka pasien telah mengambil tindakan yang salah.

Jarang sekali orang-orang dengan penghasilan pas-pas-an, mengeluh, karena baginya kebebasan memilih itu tidak ada. Satu-satunya yang harus dilakukan sebagaimana hewan adalah survival, dan pekerjaan survival  tidaklah membuat orang tidak bahagia, akan tetapi cenderung merasa letih. Lain halnya bagi orang yang mempunyai banyak pilihan, maka pilihan salah yang membuatnya menyesal seumur hidup, atau membuat namanya tercemar atau tercoreng adalah hal yang paling ditakuti. (Yul Iskandar 2006)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: