Kesadaran dan ketidak-sadaran (Councious)

Dalam alam deskriptif maka manusia itu dianggap sadar, apabila ia berada dalam “suatu compos mentis”, yang dimaksud ialah bahwa ia dapat memastikan diri dan lingkungannya itu secara patut dan wajar. Jelas kiranya  bahwa menyamakan status compos mentis  dan keadaan kesadaran  dalam istilah psikiatrik  . . . . . secara psikodinamika kesadaran ini perlu dilihat dalam dimensi lain, pada umumnya pasien tidak sadar (uncounsious) . Selanjutnya di . . . .
https://dryuliskandar.wordpress.com/2008/12/31/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-7/

                                                                         

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya Dr. Yul Iskandar tidak praktek lagi di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan  akan disebar luaskan tanpa izin asal menyebut sumbernya 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

f. Kesadaran Manusia

Soal ini dianggap suatu soal yang pokok  (penting), karena pada tiap-tiap penilaian  psikiatrik, hal itu senantiasa disoroti secara kritis dan memperoleh  perhatian yang utama. Dalam alam deskriptif maka manusia itu dianggap sadar, apabila ia berada dalam “suatu compos mentis”, yang dimaksud ialah bahwa ia dapat memastikan diri dan lingkungannya itu secara patut dan wajar. Jelas kiranya  bahwa menyamakan status compos mentis  dan keadaan kesadaran  dalam istilah psikiatrik  secara yang dikemukakan tadi merupakan suatu konsep yang sangat embryonal. (kusumanto 1966)

 

Dalam status psikiatrikus kesadaran sering ditulis dan dikatakan compos mentis,  suatu yang tentunya benar. Akan tetapi semua pasien psikiatri, kecuali yang menderita delirium adalah dalam keadaan compos mentis. Tentunya ada yang lebih dari sekedar compos mentis yang perlu diketahui dalam simptomatologi psikiatri. Pasien psikotik  atau schizophrenia pastilah dalam keadaan compos mentis, begitu juga pasien dengan depresi berat atau ringan pasti juga dalam keadaan compos mentis. Pada beberapa keadaan tertentu pasien dengan compos mentis ini dibuat justru soporofik (tidur dalam), terutama pasien-pasien dengan gaduh gelisah yang luar biasa. Apa yang akan dikemukakan  dalam masalah kesadaran( counsious),  bukan pula yang dimaksud dengan psikoanalitis. Masalah ini akan dibahas lebih lanjut dibawah ini. (Yul Iskandar 2006).

 

Hypotesa psikodinamika menganggap kesadaran ini sebagai suatu hal, yang atau digunakan sebagai “alat”, atau merupakan salah satu tujuan dari pada manusia untuk mencapai suatu kebebasan bergerak tertentu. Boleh pula pendapat semacam itu diartikan, bahwa soal kesadaran dalam keseluruhan tinjauan psikodinamika dianggap sebagai suatu “epifenomena” dari pada pergolakan yang besifat lain (seperti dorongan-dorongan instinktual), yang olehnya dianggap bersifat lebih dasar. Ada juga yang berpendapat bahwa pengaruh lingkungan atau pun hereditas dan konstitusi yang lebih menentukan, sehingga lebih jelas menonjol lagi sifat “epifenomena” itu. (Kusumanto 1966)

 

Masalah kesadaran secara medik – fisiologik tidaklah dimaksudkan untuk dipertentangkan dengan konsep psikodinamika. Keduanya merupakan suatu hal yang saling isi mengisi. Jelas secara medik pasien kesadaranya compos mentis, tetapi  secara psikodinamika kesadaran ini perlu dilihat dalam dimensi lain, pada umumnya pasien tidak sadar (uncounsious) betul dengan keadaanya, khusunya pasien yang menderita schizophrenia.( Yul iskandar 2006)

 

Dalam perkataan lain, kesadaran rupa-rupanya merupakan suatu peristiwa yang menyertai peristiwa atau keadaan lain, tetapi yang tidak dianggap memiliki pengaruh menentukan  aktual dan tidak pula menentukan secara otonom atau kausal.

Dalam hubungan ini, maka istilah kesadaran itu seringkali digunakan dalam dua hubungan : (a) yang bersifat ajektif, yaitu untuk memberitahukan tentang adanya kesanggupan individu untuk insyaf atau mengetahui terjadinya beberapa persepsi tertentu; (b) bersifat sebagai suatu kata pokok yang menandaskan suatu bagian (divison) tertentu dari pada apa yang dinamakan “struktur jiwa (psychic structrure)”, dalam hubungannya dengan bagian-bagian struktural lainnya, antara lain bagian pra sadar (preconscious), bagian tak sadar (unconscious) dan bagian tak sadar kolektif (collective unconscious). (Kusumanto 1966)

 

Masalah  consiousness, adalah bagian yang sangat penting dalam dunia psikiatri lama, ketika psikoanalisis menjadi simbol kejayaan dari psikiatri. Mulai tahun 1950-an keatas, duania psikoanalitik terdesak oleh psikiatri biologik. Masalah counsiousness  didalam dunia psioanalitik, adalah bagian terkecil dari kehidupan human, masalah yang terbesar adalah masalah uncounsious, hingga masalah ini merambah kedunia lain misalnya keduania periklanan, dimana orang di gali dunia uncounsious dia supaya mau membeli barang-barang yang pada dasarnya tidak diperlukan. Freud sendiri mengatakan bahwa sering terjadi salah sangka bahwa yang dimaksud dengan uncounsious adalah lawan dari counsious, padahal yang dimaksudnya bukanlah demikian. Counsious, subcounsious dan uncounsious terletak dalam suatu tempat mental yang sama, dan lebih dalam dikemukakan dalam teori mengenai uncounsious dari Freud.

Dalam struktul mental itu bagian Ego yang behubungan dengan dunia luar selalu dalam keadan councious,  sedangkan yang dinamakan ID, suatu bagian dari psychic energi, yang mensuplai pleasure prinsiple adalah bagian yang uncounsious, sedangkan polisi yang menjaga atau kata hati manusia bisa counsious  dan bisa pula uncounsious.

Seperti dikemukakan teori Freud, banyak dipengaruhi oleh pikiran-pikiran yahudi, misalnya apa yang dinamakan EGO adalah pilihan manusia untuk mengambil perbuatan baik (mengikuti perintah yang kuasa), atau berbuat jahat sesuai dengan dorongan ID (yang mungkin pula telah dirayu oleh iblis). Superego adalah kata hati dari  ajaran-ajaran yang diajarkan oleh Rabi-rabi Yahudi, atau secara universal tentang perbuatan baik. Freud tidak mau menyebut Superego  kata hati (counscience), karena teorinya nantinya berimplikasi dengan masalah teologi, dan masalah teologi bagi orang Yahudi adalah  domain dari para Rabi, buka para dokter. Seperti dikemukakan bahwa Freud sendiri tidaklah jelas menganut paham Yahudi atau kristen atau Atheis, tapi dia menolak ikut campunya agama (religious-khususnya para Rabi) dalam psikoanalisis.

Sebaliknya Carl Gustav Yung (1875-1961), yang melebarkan pemikiran tentang counsious ini pada suatu koleksi kesadaran masyarakat, koleksi dari suatu tribe atau bangsa mulai dari prasejarah, sampai zaman modern. Hampir semua Tribe mempunyai Tuhan, ada yang mono ada yang poly, dan yang mono ini, ada yang menyebutnya Allah, Yahwe, Yupiter-Amos, Zarahustra, Sang hyang widi dsb.  Bangsa-bangsa ini sebenarnya tidak pernah berhubungan akan tetapi ternyata mereka bisa mencapai suatu kesimpulan yang sama.  

Dalam masalah ini  masalah counsious (sadar), uncounsious (tak sadar) sulit sekali dicari hubungan dengan neurofiologik. Jelas pasien dalam keadaan sadar maka yang bekerja adalah neokortex, akan tetapi bagian tidak sadar (unconsious) sulit diterangkan secara neurofisiologik. Memang masalahnya bukan mencari tempat dan anatomi  tetapi masalah ini memerlukan penelaahan yang lebih lanjut. Artinya bila masalah kesadaran (counsious) diperbincangkan, khususnya dalam kasus-kasus ‘neurotik’ maka pemikiran Freud dan Yung, menjadi lebih relevan, akan tetapi menurut pendapat kami dalam masalah psikotik dan schizophrenia masalah ini tidaklah menjadi relevan.

 (Yul Iskandar 2006)   

 

Freud menulis,, bahwa pada umumnya hanya sebagian kecil saja dari pada seluruh isi jiwa manusia, yang diliputi kesadaran, sehingga orang haruslah berpendapat, bahwa sebagian besar dari pada isi jiwa itu, untuk masa yang cukup lama berada dalam kondisi latensi. Kondisi yang terakhir ini boleh disebutkan sebagai suatu keadaan tak sadar, artinya suatu kondisi yang tak dapat diinsyafi, ditafsirkan atau diterima oleh jiwa manusia. (Kusumanto 1966)

 

Freud (1856-1939) lahir di Wina, Austria, dan sebagai psikiater di daratan Eropah mereka menerima bahwa psychiatri adalah bagian dari medical psychology dari Griessinger  dan dalam teorinya gangguan psikotik adalah hanya satu yaitu gangguan pada otak, hanya saja bagian mana dari otak belum diketahui benar pada saat itu. Sebagai orang keturunan Yahudi Jerman,  Freud adalah seorang atheis, sekurangnya dia kurang memikirkan agama, sama seperti Karl Marx, yang menganggap bahwa agama adalah menghambat perkembangan mereka. Hal ini disebabkan karena sebagai orang Yahudi dia tentunya harus beragama Yahudi, akan tetapi di kekaisaran yang berbahasa Jerman pada waktu itu (Austria, Hongaria, German dsb) orang yang bukan beragama protestan akan sulit mendapat tempat di pemerintahan  atau badan-badan publik. Dr. Robert White mengatakan bahwa Freud sangat benci pada orang-orang yang hypokrit. Menurut Freud kebanyakan yang menyatakan dirinya religious adalah manusia- manusia hypokrit,. Sebagai dokter Freud, pada mulanya mendalami neuropathologist, dan psikofarmakologist, sebelum akhirnya dia mendalami Psychoanalitik.

Pada awalnya Freud mengalami gangguan depresi dan psikosomatik, dia merasa bahwa ada gangguan pada jantungnya, akan tetapi pemeriksaan oleh ahli penyakit jantung tidak didapatkan gangguan apa-apa. Beberapa pasien yang mengeluh sama membuat Freud sadar bahwa gangguan itu berasal dari “uncouncious’ conflik yang ada pada dirinya. Bagi Freud jelaslah uncouncious  motives, merupakan akar  dari pelbagaian penyakit yang dinamakannya neurosis. Untuk mempelajari uncouncious ini, maka Freud mengembangkan dua methode yaitu Free association dan dream interpretation. Dari interpretasi mimpinya dan dari pasiennya, Freud menemukan didalam setiap actual event pada mimpi (yang disebutnya manifest content) dia akan menemukan arti yang sebenarnya tetapi tersembunyi yang dinamakannya latent content.(Freud, The Interpretation of Dreams 1856-2006.  (Yul Iskandar 2006)

 

Jung berpendapat, bahwa segala sesuatu yang bersifat kejiwaan (psychic) akan bercorak kesadaran apabila hal itu ada berasosiasi dengan ego. Baginya kesadaran merupakan diri manusia yang perseptik (ego is the perceptic self). (Kusumanto 1966)

 

Carl  Gustav Jung lahir di Swiss 1875, menjadi murid Freud tahun 1905, malahan pada tahun 1908, dia menjadi President International Psychoanalitic Association, setelah satu tahun sebelumnya dia bersama Freud ke Amerika. Dua matahari sulit bersatu, dan akhirnya Freud dan Yung pecah, hal ini disebabkan karena Jung adalah anak pendeta kristen yang religious, sehingga bertentangan sama sekali dengan konsep Freud yang berhubungan dengan masalah sexualisme. Freud ternyata makin lama makin banyak memasukkan unsur kebudayaan Yahudi pada psikoanalitisnya. (salah satu unsur mimpi adalah tafsir mimpi dari Nabi Jacob ayah dari Nabi Yoseph=Yususf, dengan mengilhami hal-hal itu, dan dari penyakit psikosomatik Freud sendiri, serta pasien-pasie Freud mengembangkan teori Interpretation of Dream). Tentu  Freud menyangkal bahwa teorinya dilhami kebudayaan Yahudi, oleh sebab itu dia memilih Yung, yang bukan Yahudi menjadi Presiden International Psychoanalytic Association. Sedangkan Yung menjadi lebih dekat dengan masalah religiousitas kristen, mystic dan magic dalam teori psikoanalitis Yung. Yung masih mempertahankan konsep counsious dan uncounsious dan menambahkan collective uncouncious. Teori Yungg makin lama makin komplex, dengan memasukkan konsep archytype, introversion, dan extraversion yang bisa counsious dan oncounsious,   sehingga makin lama makin sedikit yang mengikutinya (Yul iskandar 2006)

 

Penyelidik-penyelidik neurofisologi hendak menjelaskan persoalan kesadaran ini dengan mengichtiarkan  hubungan analogi antara struktur  antar manusia (interpersonal) dan struktur analitik-fisiologik berdasarkan mikromekanisme yang semuanya bersumber pada sistem saraf sentral. Struktur struktur anatomik serta fungsi fungsi  neuro fisiologik dari pada bagian-bagian  otak thalamus, diencephalon, dan formatio retukularis dianggap  berpengaruh dalam menegakkan dan melangsungkan kewaspadaan  dan kesadaran.

(Kusumanto 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: