Brain and Mind Conection.


Salah satu indikasi pentingnya inter relasi dan pengaruh mempengaruhi dari pada jiwa dan jasmani dikemukakan oleh Halliday. Ia menggambarkan dengan angka-angka statistik bahwa sangat besar persentase penderita secara primer datang kepada dokternya karena terganggu kesehatan jiwanya, dan bukan karena terganggu fisiknya. Lebih tegas lagi laporan British Medical Association yang berkesimpulan bahwa kira-kira sepertiga dari pada seluruh penderita yang datang berobat pada dokter, pada pokoknya menderita gangguan psikologik emosional. Laporan-laporan yang demikian itu, dan yang sejenis

(understanding)” banyak sedikit dapat dipersamakan dengan mengadakan “proses reduksi sampai ke prinsip-prinsip mekanik”, suatu hal yang pada waktu itu dianggap wajar dan akseptabel.
Selanjutnya di : https://dryuliskandar.wordpress.com/2008/12/28/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-6/

                                                                         

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan  akan disebar luaskan melalui blog ini: 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

(e).      Struktur ilmu psikiatri modern

 

            Ilmu kedokteran pada dasarnya merupakan salah satu ilmu yang terpengaruh oleh dasar pikir mekanistik dan teknologik (ilmu exakta) . Hal ini antara lain disebabkan karena ilmu kedokteran mulai berkembang dengan pesat dan mengagumkan justru di waktu ilmu fisika dan ilmu mekanika pun mencatat perkembangan-perkembangan yang amat pesat pula. Oleh karena itu, tidaklah perlu heran kita  bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu kedokteran, yang tidak dapat diukur atau dianalisa dianggap merupakan hal-hal yang tidak ilmiah atau “non ilmiah sama sekali”. Dalam rangka pikir yang demikian itu, maka seringkali istilah “pemahaman (understanding)” banyak sedikit dapat dipersamakan dengan mengadakan “proses reduksi sampai ke prinsip-prinsip mekanik”, suatu hal yang pada waktu itu dianggap wajar dan akseptabel. (Kusumanto 1966)

 

Ilmu psikiatri adalah cabang spesialistik dari ilmu kedokteran, walaupun ilmu itu ingin sekali sebagai ilmu yang exact, akan tetapi karena ilmu psikiatri berhubungan dengan manusia yang sakit maka berbagai pengaruh lain selain ilmu pasti dan  mekanika menjadi bagian dari ilmu psikiatri. Dalam perjalanan sebagai ilmu modern, kita tak bisa melupakan konsep Anton Mesmer (1734-1815) yang memperkenalkan animal magnetism, suatu konsep yang saat itu dianggap bohong belaka, akan tetapi kini diketahui bahwa memang ada micro magnetisme dan gelombang electrik diotak manusia. Walaupun demikian kedua hal itu berbada kegunaannya dari yang dipikirkan oleh Mesmer. Mesmer yang mempopulerkan pengobatan hypnosis untuk gangguan yang disebutnya neurosis. Pengobatan hypnosis sendiri saat ini mengandung masalah kontroversial, malahan perkataan neurosis mulai ditingalkan dalam kamus psikiatri modern. Walaupun Liebault (1823-1904) dan muridnya Bernheim (1837-1919) mempopulerkan hypnotisme di perguruan psikiatri Nancy. Teknik itu populer karena zaman itu belum dikenal obat-obat psikofarmakology, kecuali oleh Charcot (1825-1893) yang membuat obat dengan nama solusio charchot yang isinya adalah larutan Bromide, yang sebanarnya zat yang toxic pada pemakaian dosis besar atau dalam waktu lama. (Yul Iskandar 2006)

 

            Keadaan yang digambarkan diatas itu tidak lagi akseptabel bagi ilmu psikiatri modern yang hendak dianjurkan disini. Bagi ilmu itu, maka bukan hanya soal jasmaniah serta mekanik-mekaniknya yang penting, tetapi terutama sekali relasi dan inter relasinya antara jasmani dan jiwa sangat sentral peranannya dalam diri manusia. Demikian pula maka juga matrix social tempat manusia itu berfungsi sebagai “unsur human” dianggap secara sungguh-sungguh sebagai suatu factor yang tidak patut diabaikan. (Kusumanto 1966)

 

Seperti telah  dikemukakan sebelumnya, maka manusia mempunyai inteligensi intrapersonal, kemampuan dirinya menilai dirinya sendiri, kemampuan manusia untuk mengetahui kelemahan dan kekuatannya, motivasinya serta perjuangan nya, disamping itu hubungan interpersonal atau sosial juga berperanan penting dalam hubungan gangguan penyakit jiwa atau psikiatri. Penderita gangguan psikitri berat (psikotik) telah hilang kemampuan menilai kemampuan intrapersonalnya (Yul Iskandar 2006).

           

Salah satu indikasi pentingnya inter relasi dan pengaruh mempengaruhi dari pada jiwa dan jasmani dikemukakan oleh Halliday. Ia menggambarkan dengan angka-angka statistik bahwa sangat besar persentase penderita secara primer datang kepada dokternya karena terganggu kesehatan jiwanya, dan bukan karena terganggu fisiknya. Lebih tegas lagi laporan British Medical Association yang berkesimpulan bahwa kira-kira sepertiga dari pada seluruh penderita yang datang berobat pada dokter, pada pokoknya menderita gangguan psikologik emosional. Laporan-laporan yang demikian itu, dan yang sejenis dengan itu dan yang terdapat denngan amat banyaknya, semakin hari semakin menyakinkan orang bahwa jasmani dan jiwa itu merupakan hal-hal yang tak terpisahkan.

 

Data-data Haliday J.L (1935) dan Laporan British Medical Assosiation (1941), tidaklah banyak bedanya dengan laporan-laporan yang sama pada tahun 2000-an. Ternyata ketidak bahagiaan yang terjadi pada 75% umat manusia,  dan inipun dikemukakan dalam pelbagai agama, bahwa pada umumnya manusia itu menderita pada pelbagai kesusahan.

Talam tulisannya Teaching of Budha, dikemukakan bahwa manusia akan selalu menderita (tidak bahagia), ketika sakit, ketika kehilangan orang dikasihi. Orang orang yang serakah akan tak bahagia karena idenya yang salah tentang kepuasan, kemarahan akan tak bahagia karena idenya yang salah tentang lingkungan sekitar,, orang yang tolol akan tak bahagia karena tak mampu menimbang mana yang benar dsb. Ketidak bahgiaan, akan menimbulkan penyakit  fisik, mungkin dimulai dengan kurang tidur, kurang makan dsb. Setelah itu berbagai penyakit organik akan berkembang, misalnya kholesterol yang tinggi bagi orang yang tidurnya tidak benar, tekanan darah tinggi bagi orang yang pemarah,  gangguan lambung bagi yang pendendam dsb. (Yul iskandar 2006)

 

 Sesuai dengan jalan pikiran itu, maka mustahil pulalah kiranya untuk melihat atau menduga adanya pemisah yang kaku antara bidang ilmu psikiatri dan bidang ilmu kedokteran umum.

            Dalam pada itu, hendaknya kita waspada karena dengan menyebutkan relasi jasmani dan jiwa itu, kita telah menyinggung suatu masalah yang sungguh-sungguh raksasa.  (kusumanto 1966)

 

Perkataan Jiwa (dalam pengertian  bahasa Indonesia modern= Kamus Besar Bahasa Indonesia)  mempunyai berbagai arti diantaranya 1. roh atau spiritual manusia  2.nyawa  3. kehidupan batin  4.sumber utama untuk semangat  5.isi atau maksud sebenarnya  6.jumlah orang  7.daya hidup  8.semangat  9. ke-jiwaan-=kebatinan. 10.mental.

Mungkin yang dimaksud dengan jiwa disini adalah kehidupan mental, jadi tak ada hubungannya dengan roh, nyawa dll, tetapi proses di otak yaitu emosi, pikiran dan tingkah laku. (Yul iskandar 2006)

 

Masalah ini oleh ilmu psikiatri modern sungguh-sungguh pula dianggap serius, oleh karena kami tidak yakin bahwa hal ini akan luput mempunyai konsekwensi kompleksitas yang istimewa. Ilmu psikiatri modern tidak pernah bersifat atau “Naturwissenschaftlich” atau “Geisteswissenschaftlich”. Suatu ilmu psikiatri yang bermaksud menyebuutkan dirinya bersifat ilmiah (academic psychiatry) adalah senantiasa beraspek Naturwissenschaftlich dan Geisteswissenschaftlich secara bersama-sama. Ilmu spikiatri yang berdasarkan atas keyakinan pokok yang semacam itu boleh disebutkan sebagai suatu ilmu psikiatri yang kompleks. Menurut hemat kami, memang sesungguhnya tidak ada suatu ilmu psikiatri yang bersifat representatif, yang lain dari pada mengandung corak dan sifat seperti tadi disebutkan. (Kusumanto 1966)

 

Dengan sendirinya ilmu psikiatri atau ilmu kedokteran lain pada umumnya tidaklah bisa dikatakan hanya ilmu-ilmu alam, akan tetapi didalamnya terdapat  ilmu filsafat, ilmu psikologi, ilmu pendidikan dsb yang tak sepenuhnya dalam domain ilmu-ilmu alam. Kebanyakan dari para psikiater saat ini tidak lagi mempelajari masalah masalah ini, karena adanya jalan pintas yaitu adanya obat-obat psikofarmaka, yang sebenarnya tentunya tidak akan bisa menyelesaikan masalah –masalah dari yang sifatnya filosofis ataupun existensialis. Kapan kita memberi obat psikofarmaka, dan kapan masalah psikofarmaka adalah sekunder  hendaknya merupakan masalah psikiatri. Dalam hal ini masuklah masalah stress dalam lmu psikiatri, yang walaupun  istilah itu tidak bisa didefinisikan dengan baik. Seorang mahasiswa  menderita stress karena mendapat nilai B-,  sedangkan sebagaian besar kawanya kegirangan karena ilmu yang susah itu dia mendapat nilai C+.  Jadi ilmu psikiatri bukanlah ilmu yang sederhana, yang hanya melihat pasien dirumah sakit jiwa, yang telah khronik, akan tetapi bagaimana psikiater bersikap pada seorang bisnisman  yang kehilangan 2/3 dari hartanya karena saham-saham dunia jatuh. Bagaimana psikiater bisa memahami hal itu bila psikiater itu melihat saham saja belum pernah. Akan bukan pula maksudnya supaya psikiater dapat mengerti segala hal, akan tetapi dia harus tahu, asal muasal dari gangguan jasmani, ditracer dan kemudian dicernakan bersama sehingga  menghasilkan pemikiran yang optimal bagi si pasien. (Yul Iskandar 2006)

 

            Atau, dengan formulasi lain : bilamana ahli psikiatri itu hendak mendalamkan diri dalam hakekat penderitaan pasiennya, menuruti asas-asas organobiologi semata-mata, ia akan berbuat cukup baik ; apabila ahli itu menggabungkan segi organobiologi itu dengan unsur-unsur jalan pikiran  dan perasaan menurut asas-asas dinamika psikologi dari sisi pasiennya, maka ia pun mungkin selangkah lebih maju lagi ; dan, jika ahli itu bermaksud mengusahakan sikap integrative antara unsur-unsur organobiologi, kompleks dinamika psikologi pasien, dan kedudukan social antropologik atau social existensial sebagai salah satu unsur hidup dalam masyarakatnya, maka kami berpendapat bahwa dalam taraf perkembangan ilmu pengetahuan sekarang, ahli psikiatri itu boleh dianggap telah mencoba mengikhtiarkan sesuatu yang optimal.

Jelasnya tentunya pasien akan meminta kepada dokternya sesuatu obat yang membuat dia menderita sakit fisik. Insomnia, sakit kepala, berdebar-debar adalah masalah yang harus bisa diatasi oleh dokter (psikiater). Masalah inipun tidaklah semudah yang dikatakan. Dari 100 orang yang mengeluh tak bisa tidur, apabila diberikan obat hypnotik (dari golongan benzodiazepine) mungkin hanya 20% yang berhasil. Dalam banyak hal keluhan tak bisa tidur saja sudah membawa kemasalah yang lebih dalam, apakah pasiennya psikotik atau tidak, apakah pasiennya menderita stress atau tidak, adanya gangguan lain baik fisik atau psikis (Yul Iskandar 2006)

 

Objek, subjek dan stratum matrix social budaya tempat objek dan subjek itu disuburkan dan dibesarkan dianggap merupakan unsur-unsur tri tunggal yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

            Dalam ikhtiar penilaian fakta dan fenomena itu, maka berpindah-pindahlah kita sebagai pemeriksa, dari suatu kedudukan yang dapat disebutkan “subyektif immaterialistik” atau “subyektif individualistic” subyektif obsevatoir”. Tentu, pada taraf-taraf permulaan, semua sudut-sudut tinjauan itu mengandung kebenaran-kebenaran tertentu, tetapi menuurut hemat kami pemeriksaan hanya akan mencapai nilai optimalnya, jika tinjauan-tinjauan itu dapat dirumuskan secara integratif.

            Dapat dirumuskan pula, bahwa ilmu psikiatri itu bermaksud untuk memperhatikan dan mengintegrasikan pelbagai proses maturasi dari pada individu manusia (organobiologi, dinamika psikologi dan social interaksional). Oleh karena itu, maka seluruh ilmu psikiatri modern bernafas dalam alam suasana relativismus, dimana tiap-tiap ikhtiar untuk memutlakkan (absolutizing) dari pada sedi-segi tertentu dari pada dasar-dasar kehidupan manusia- yang bermacam-macam dan banyak jumlahnya itu- haruslah dijauhkan. Sikap a prioristik ini hanya berhasil untuk menitik beratkan salah satu segi dari pada keselluruhan manusia human yang kita hadapi dalam diri pasien. Misalnya, menitik beratkan itu nampak apabila kita bermaksud untuk khusus meninjau hanya jiwa pasien, apabila si penderita semata-mata ditinjau secara psikologi oleh seorang ahli psikologi “fisologi” dan “pathofisiologi”-nya saja dari pada penderita yang diteliti, jika ia dilihat oleh seorang ahli somatobiologi; dan mungkin “struktur sosial”-nya ia ditinnjau oleh ahli sosiologi, dan mungkin pula “struktur teologi”-nya jika ditilik oleh ahli teologi.

            Oleh sebab itu pula, maka kami menolak tiap-tiap determinismus dalam penemuan diri manusia sekali pun dalam keadaan sakitnya, hal mana pada hakekatnya, tidak mengurangkan perikemanusiaannya dari pada hakekat semasa ia sehat.

Menurut hemat kami, manusia yang hendak kita dekati itu hanyalah dapat dipahami sesempurna-sempurnanya, apabila kita senantiassa tetap insyaf, bahwa kita sekedar mampu untuk mendekatinya. Konfrontasi kita dengan penderita tidaklah dapat dilepaskan dari pada konfrontasi umum yang kita alami sehari-hari dengan semua manusia pada umumnya. Maka oleh sebab itulah, tiap-tiap ilmu psikiatri pada dasarnya mengandung refleksi yang mendalam dari pada psikiater yang menjalankan ilmu itu. Pencerminan itu kita jumpai dalam pelbagai macam problematik sentral yang dari permulaan sejarah ilmu psikiatri, yang dibawah ini akan diikhitiarkan untuk mendekatinya menurut pendapat-pendapat kami sendiri. (Kusumanto 1966)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: