Rumah Sakit Jiwa atau Panti Rehabilitasi.

. . . . . .penampungan dengan maksud mengasingkan daripada pergaulan masyarakat umum, suatu sikap yang sebetulnya agak sangat berlainan dengan ikhtiar logic . . .Tempat penampungan itu dapat berupa Rumah Sakit Jiwa, atau namanya bisa panti rehabilitasi. Tak ada instansi manapun yang memeriksa kelayakan panti-panti itu.
dan seterusnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2008/12/24/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-4/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (4)

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas,  akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan  akan disebar luaskan melalui blog ini.  Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

(c).   Beberapa patokan dalam sejarah ilmu psikiatri

 

Dalam jaman modern sekarang ini, “sikap menolak” seperti yang dilukiskan diatas berbentuk agak lain. Si sakit jiwa ditempatkan dalam suatu tempat penampungan dengan maksud mengasingkan daripada pergaulan masyarakat umum, suatu sikap yang sebetulnya agak sangat berlainan dengan ikhtiar logic yang lebih wajar dilakukan terhadap seseorang sakit, yaitu untuk menyembuhkan mereka. (Kusumanto 1966)

 

Tempat penampungan itu dapat berupa Rumah Sakit Jiwa,  atau namanya bisa panti rehabilitasi , Wisma,  Asrama, Dormatorium dan lain-lain. Tak ada seorangpun atau instansi manapun yang memeriksa kelayakan panti-panti itu. Lebih lagi atas nama agama, pasien dimasukkan dalam pesantren, karena banyak sekali yang menyangka sakit ini karena bisikan iblis, atau karena pasien tak beriman. Tak ada yang bertanggung jawab, dalam melakukan aktivitas panti Rehabilitasi, apakah benar ada yang sudah mampu direhabilitasi, dan kalau mampu dengan cara apa. Lebih buruk adalah bahwa banyak psikiater yang terbawa untuk ikut bekerjamengikuti irama mereka, berlawanan dengan  apa yang mereka pelajari. Mereka mau menjadi budak dari pengelola yang tak mengerti apa-apa tentang psikiatri. (Yul Iskandar 2006)

 

Terutama oleh sebab itulah, maka terjelmalah salah satu “patokan” pertama, yaitu bahwa, ilmu psikiatri itu ialah “asing” dan bahwa mereka yang berhubungan dengan ilmu itu “harus diasingkan”. Suatu notasi dan konotasi yang sifatnya berdasarkan salah paham dan prasangka yang amat tidak menguntungkan.

Konsekwen dengan dasar pikiran itu, maka dalam zaman yang lampau mulai berdirilah rumah sakit-rumah sakit jiwa di daerah pinggiran kota atau malahan ada yang terletak sangat jauh dari pusat-pusat pergaulan masyarakat. Mereka itu diberi nama julukan : seolah-olah mereka itu berhasil menciptakan “masyarakat tersendiri”, tetapi yang pada dasarnya bersifat suatu masyarakat yang terpisah, terasing dan sering terkutuk dan ditakuti. Hal itu paling jelas dibuktikan dengan adanya kontradiksi, bahwa walaupun diakui bahwa para penderita itu sakit, namun demikian orang tidak mau berurusan dengan mereka, sebab bermacam-macam hal : malu, takut, dan pelbagai perasaan difus lainnya, yang semuanya bersifat negatif. Maka timbullah stigma pada gangguan jiwa dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu yang mempelajari gangguan jiwa, serta ahli-ahlinya. (Kusumanto 1966)

 

Pada waktu pembentukan RS Jiwa adalah dengan pikiran yang  terbuka, untuk mengobati si sakit. Pada awalnya pemerintah dengan antusias membantu untuk membangun RS Jiwa itu, selain itu swasta ikut membuat panti-panti rehabilitasi, tetapi akhirnya nyatalah bahwa kemampuan pemerintah itu terbatas baik dari segi dana maupun dari segi ketenagaan. Seorang dokter bedah Jantung, yang melakukan pembedahan (open heart surgery), maka dia akan puas karena pasiennya yang tadinya penuh penderitaan dengan angina, kini menjadi segar bugar. Lain halnya psikiater setelah 2-3 tahun mengobati pasien schizophrenia, nyatalah kemampuan ahli psikiatri itu tak ada apa-apanya.  Perubahan pada pasien sangat minimal.

 Hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab dengan mendirikan panti Rehabilitasi, karena psikiaternya menjadi malas, maka pasien menjadi sakit khronik berkepanjangan tanpa ada usaha untuk mengatasinya. Masalah ekonomi juga menjadi alasan utama, pasien yang tergolong mampu, akan masuk panti rehabilitasi, akan tetapi suatu waktu ketika kemampuan keuangan juga berkurang, panti atau pesantren mulai melemparkan tanggung jawab pada keluarganya, maka kini pasien masuk pada panti yang sangat asal-asalan dan tak manusiawi.. (Yul Iskandar 2006)

 

Beruntunglah kita, bahwa hal-hal itu secara formal pada dewasa ini sudah merupakan masa yang lampau. Tetapi rugilah kita karena hal-hal itu telah terjadi dahulu, karena itu menjadi penghambat yang sungguh-sungguh dari pada perkembangan ilmu kedokteran jiwa yang sesubur-suburnya. (Kusumanto 1966)

 

Seperti cara-cara pengobatan yang tak rasional telah ditinggalkan ditahun 1960-an, sistem panti yang tadinya telah ditinggalkan ditahun 1970-an mulai merebak kembali ditahun 1990-an sampai sekarang, apalagi dengan banyaknya kasus narkotika-psikotropika, maka panti-panti rehabilitasi dengan kompentensi yang diragukan bertumbuh dengan subur. Tidak ada sedikitpun bimbingan, pengawasan atau tindakan dan evaluasi dari departemen yang bersangkutan. Banyak keluarga justru mengeluh, bahwa pasiennya bukan tambah baik malahan tambah buruk dipanti-panti yang tak jelas pengelolalannya. (Yul Iskandar 2006)

 

Lambat laun orang mulai insyaf dan sadar, bahwa ilmu psikiatri, tidak ubahnya dengan cabang-cabang ilmu kedokteran klinik spesialistik lainnya merupakan salah satu ilmu tentang tingkah laku manusia, suatu “behavioral science of human nature”. Itu berupa patokan penting yang kedua dari pada sejarah ilmu ini : Psikiatri ialah ilmu tentang tingkah laku manusia. (Kusumanto 1966)

 

Sayangnya ada sebagian  oknum dibidang kesehatan yang melihat pasien psikiatri adalah sapi-perahan, untuk seumur hidup. Tidak ada niat sama sekali untuk mengobatinya, akan tetapi menarik keuntungan sebanyak-banyaknya sampai pasien dan keluarganya menjadi sama sekali tidak mampu (bangkrut)

Ada pasien yang orang tuanya sampai menjual mobil, tanah atau rumah demi bisa dirawat disuatu panti, akan tetapi nyatanya mereka (panti) tak ada kesungguhan/  minat/ kemampuan  untuk mengobatinya. Inilah watak buruk  atau moral dan etika yang bertentangan dengan ilmu kedokteran yang  terdapat pada non-psikiater, yang mengelola panti-panti Rehabilitasi. Akan tetapi psikiater yang melihat hal itu, justru ikut bekerja sama memeras   dari pasiennya, sehingga sampailah kesimpulan orang banyak bahwa gangguan ini tidak bisa diobati. (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh sebab itu, maka pada prinsipnya tidaklah menjadi perbedaan yang terlampau besar, apakah kita hendak meneliti tingkah laku manusia itu dalam keping-keping yang terkecil dibawah lensa mikroskop, suatu mikrokosmos; ataupun sebagai suatu :unsure keseluruhan” dalam arti kata makrokosmos social. Yang penting ialah usaha bersama seluruh kedokteran ilmiah termasuk pula ilmu psikiatri untuk lebih seksama meneliti segala gerak-gerik manusia ini, baik dalam suasana laboratorium artificial maupun tingkah lakunya dalam masyarakat ramai yang menjadi tempat kedudukannya yang orisinil. Yang penting pula bagi ilmu kedokteran, termasuk pula ilmu psikiatri, ialah mengetahui dan meneliti bahwa manusia itu terdiri dari pada jasmani dan jiwa yang tak terpisahkan satu dari pada yang lain. (Kusumanto 1966)

 

Penelitian-penelitian mutahir sebenarnya menunjukkan  hanya  10% saja, pasien yang resisten terhadap pengobatan, 30 % dari pasien akan sembuh total, 30%  sembuh tetapi ada kecacatan tapi dapat bekerja baik dan berhubungan sosial baik, dan 30% lagi dapat terkontrol, mungkin tak mampu bekerja  akan tetapi terlihat cukup normal selama pasien  makan obat dan tak perlu tinggal di rumah Sakit Jiwa (atau Panti Rehabilitasi).

Jadi bila dalam  salah satu RS jiwa  lebih dari 50% adalah pasien yang tak bisa pulang, maka perlulah suatu pemeriksaan dari instansi yang berwewenang, untuk melihat apakah di RS atau Panti itu telah melakukan tindakan yang sesuai dengan kaidah kedokteran modern atau belum.  Tugas pemerintah dalam bidang pengawasan adalah untuk melihat hal ini sehingga jangan rakyat dan pasien yang sudah menderita, lebih dilakukan tindakan yang menyengsarakan pasien dan keluarganya (Yul Iskandar 2006).

 

Oleh sebab itu pula, maka ilmu kedokteran modern seluruhnya mulai progresif mempraktekkan filsafat dasar ini. Semua ilmu kedokteran klinik modern berusaha dengan sungguh-sungguh keluar dari “lingkungan eksklusifnya”, untuk kemudian lebih mendekati masyarakatnya. Fungsi sosial ilmu kedokteran mulai lebih ditandaskan dan dipertajam. Dan, sejalan dengan itu maka preokupasi dengan “penyakit (disease)” sekarang diperluas menjadi minat perhatian ke arah paham yang lebih positif, yaitu “kesehatan (health)”. (Kusumanto 1966)

 

Sayangnya pendapat yang positif oleh Kusumanto 1966, ini tidaklah dikembangkan dengan baik oleh para penerusnya yang bekerja di bagian pendidikan maupun  bagian penelitian. Kusumanto 1966, dengan mengembangkan  ilmu psikiatri, menjadi mental health, maka tentunya harus dimulai adanya pemikiran preventif dengan cara melihat pasien-pasien yang psikotik, riwayat mereka sebelum psikotik (pre psikotik) dan intervensi apa yang harus dilakukan. Akan tetapi adanya RS Jiwa dan panti-panti Rehabilitasi,  agaknya mereka tidak tanggap akan signal-signal ini, malahan meneruskan tradisi yang telah dilakukan sejak zaman Belanda, yang ternyata hasilnya tak memadai. (Yul Iskandar 2006)

 

Secara logik dan konsekwen, maka ilmu psikiatri yang dahulu mungkin seolah-olah hanya berpreokupasi dengan keadaan “sakit jiwa (mental illness), setapak demi setapak mulai memperhatikan “kesehatan jiwa (mental health)”.

Dalam pada itu  masalah penyakit jiwa, tentu masih menduduki salah satu tempat utama, sama halnya  dengan penyakit kanak-kanak, didalam ilmu kesehatan anak. Jadi yang penting adalah aktivitasnya, tidaklah terbatas pada pengobatan anak, tetapi prevensi (dengan imunisasi), tentu kurasi, maupun rehabilitasi (misalnya pada pasien dengan Polio)

 Dengan demikian, maka hendak ditujukan patokan yang ketiga dalam sejarah perkembangan psikiatri, yaitu keyakinan dasar dalam ilmu psikiatri bahwa individu (juga dalam keadaan mental yang kurang sehat ataupun yang bersifat terang-terangan sakit) harus dilihat dan ditempatkan dalam keseluruhan “matrix social dan cultural yang asli baginya. (Kusumanto 1966)

Dalam banyak hal sebenarnya  telah dilakukan revolusi psikiatri di Indonesia oleh Kusumanto  dengan perubahan pendekatan penyakit (illness), menjadi kesehatan (mental Health), tentunya tidak mudah, karena faktor etiologi yang belum diketahui, maka tentunya masalah prevensi menjadi tidak gampang. Banyak dari orang-orang di RS Jiwa dan Panti-panti Rehabilitasi, mereduksi sakit jiwa (mental illness)  menjadi hanya satu penyakit saja yaitu schizophrenia. Dan mereka merasa dialah yang paling tahu tentang penyakit ini, padahal yang didapati di panti atau RS Jiwa, adalah bagian terminal dari Schizophrenia, atau menjadi tingkat terminal karena salah urus, dan salah kelola. Begitu juga mental Health,  mereka mengindentikkan terjadinya gangguan (etiologi)  jiwa karena kesulitan atau trauma, seperti Tsunami, atau kesulitan ekonomi atau kesulitan politik. Dipelbagai surat kabar bila ada krisis, selalu para pengelola panti atau RS Jiwa menyatakan  bahwa pasiennya bertambah banyak, seolah-olah ada korelasi antara krisis (ekonomi atau politik) dan gangguan jiwa khususnya schizophrenia. Padahal dalam berbagai kepustakaan dinyatakan bahwa gangguan ini stabil walaupun adaatau tidak ada  krisis ekonomi, politik, sosial dan krisis lainnya. (Yul Iskandar (2006).

Satu Tanggapan to “Rumah Sakit Jiwa atau Panti Rehabilitasi.”

  1. benny ardjil Says:

    Memang Prof.Kusumanto selalu mengatakan bahwa individu tersebut harus dilihat dan ditempatkan dalam keseluruhan matrix sosial dan kultural yang asli baginya. Tetapi :how to” nya tidak pernah diberi tahu.Memang beliau berupaya melalui BPKJM, akan tetapi pedoman BPKJM yang dibuat, sifatnya hanya struktural dan lebih kearah instruksi saja. Tidak ada latar belakang keilmuan yang mendukung BPKJM tsb.Istilah sekarang “evidence based”Saya setelah bekerja di RSJ Pontianak, baru mengetahui rupanya ada ilmunya yang tadinya saya tidak mendengar sama sekali yakni ASSERTIVE COMMUNITY TREATMENT/ACT yang merupakan salah satu tools yang dipelajari dalam COMMUNITY PSYCHIATRI. Saya tahu ini setelah saya berkunjung ke RS SENOTOSA di KUCHING, Serawak Malaysia.Direktur RS Sentosa tersebut belajar Com Psy di London hingga bergelar S3 untuk Community Psychiatry.Disana telah dipraktekkan keilmuan tersebut, sehingga pasien RS Sentosa telah menurun jumlah pasien residensial nya dari 600 orang menjadi 350 orang saja. Pasien segera kembali ke masyarakat dan masyarakat dididik untuk mengurus mereka dibawah supervisi RS SENTOSA.Mengapa mereka bisa melakukannya ? adalah karena memang mereka telah menguasai ilmunya.Pada kunjungan saya pertama tahun 2000 ke Kuching keadaannya sama seperti RSJ Pontianak, tetapi berubah drastis pada tahun 2002 setelah Dr.Abdul Kadir yang S3 di bidang Comm Psy menjadi direktur.Benar-benar telah terjadi suatu perubahan yang mendasar di RS Sentosa tersebut, dan mereka rupanya telah mengikuti trend dunia maju bahwa Psikiatri telah masuk kembali kedalam “mainstream kesehatan”Rupanya mereka telah mendengar dan melaksanakan apa yang dikatakan Prof Kusumanto, bahwa pasien jiwa harus dikembalikan kepada matrix sosial dan kulturalnya.Tidak lagi terasing seperti komentar dr.Yul diatas.
    Mengenai program rehabilitasi.Juga terjadi perubahan besar dengan dipulangkannya pasien jiwa segera ke masyarakat.Tidak lagi diperlukan RSJ dengan halaman-halaman yang luas, sehingga RSJ yang besar2 di Amerika dan Australia yang saya lihat telah ditutup.Kalau kita baca buku terbitan 2005 keatas tentang Rehabilitasi pasien jiwa kita akan bingung kalau tidak mengerti Comm.Psy, karena paradigma rehabilitasi juga berubah sejalan dengan perubahan paradigma perawatan pasien jiwa di RSJ.
    Saya tidak heran melihat kondisi seperti yang dokter Yul prihatinkan diatas karena kebijakan perawatan pasien jiwa di RSJ saat ini tidak berubah sejak adanya dit keswa di kementerian kesehatan di zaman dr.Salekan.Zaman telah berubah, tetapi pelayanan RSJ belum berubah secara mendasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: