Demonology, mytologi dan kebatinan.

Harus ditegaskan bahwa ilmu psikiatri di Indonesia memang menaruh minat dan perhatian atas segi-segi demonology, mytologi dan kebatinan dalam hidup social cultural manusia. Akan tetapi sebagai psikiater kita hendaknya juga insyaf, bahwa semua paham dikalangan itu senantiasa diliputi oleh suasana rasa emosional yang berpasang surut menurut kecenderungan masing-masing individu baik yang menjadi pemimpin atau pemukanya, maupun mereka yang menjadi pengikut-pengikutnya.
dan seterusnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2008/12/22/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-3/
Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (3)

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan pada tahun 2006,  dengan judul diatas, atas persetujuan Prof. Kusumanto, akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan  akan disebar luaskan melalui blog ini.  Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

(b).   Beberapa pengaruh dalam riwayat psikiatri

 

Perkembangan ilmu psikiatri di Indonesia telah terpengaruh oleh hal-hal tertentu yang bertendensi untuk seolah-olah menghubung-hubungkan ilmu ini dengan pelbagai teori dan keyakinan tentang hal ihwal yang terletak dibidang gaib: demonology, mytologi dan pelbagai kepercayaan kebatinan yang masing-masing memiliki konsepsi-konsepsinya sendiri-sendiri tentang arti dan makna “sukma” (soul).  (Desertasi Kusumanto 1966)

 

Berbagai fenomena yang sering kita hadapi seperti faktor kemasukan masal, adanya agresi adanya halusinasi, adanya delusi tidaklah  dianggap sebagai suatu gejala adanya gangguan psikiatris, akan tetapi suatu pertanda adanya kekuatan supra natural.Ada pasien yang menderita delusi berat  malahan dianggap sebagai  orang yang suci dan dipercaya segala ajarannya, sebagai ajaran yang suci.  Malahan banyak para dokter atau psikiater yang percaya bahwa kemasukan itu bukan bidang medis. Padahal pengalaman  saya dengan pasien-pasien demikian pemberian psikofarmakologik, baik oral atau parentral dapat mengatasi dengan mudah fenomena itu. Fenomena yang dapat kita katakan suatu gangguan psikotik akut. Benar beberapa cara seperti pemberian air dan doa-doa juga bisa menghilangkan fenomena tersebut, akan tetapi bagi dokter khususnya psikiater hendaklah tetap pada jalurnya bahwa fenomena itu adalah fenomena  medik. ( Yul Iskandar 2006)

 

Walaupun harus diakui bahwa semua cara, aliran atau paham menurut masing-masing konsepsi tadi mungkin cukup menarik, baik untuk seorang ahli antropologi maupun seorang psikiater, namun bagi perkembangan sesuatu psikiatri akademik adanya hal-hal yang demikian itu dapat dianggap sebagai hambatan yang serius. Hal ini disebabkan oleh karena dikalangan tertentu mungkin ada timbul kepercayaan, bahwa seolah-olah antara hal-hal demonology, mytologi dan keyakinan-keyakinan kebatinan serta praktek dan teori suatu ilmu psikiatri akademik ada berbagai relasi yang sungguh-sungguh. (Kusumanto 1966)

Kembali harus digaris bawahi bahwa tentunya sebagai manusia boleh saja mempercayai hal-hal yang mistik dan magik. Hal yang supernatural, bahwa yang tak terlihat atau diketahui ilmu pengetahuan  itu mungkin ada. Tetapi dalam kontex ilmu psikiatri tidak pada tempatnya membawa masalah itu kedalam dunia kedokteran dan kesehatan. Dunia kedokteran adalah ilmu yang diberikan oleh Tuhan dengan segala jalanya yang ilmiah, tidak ada sesuatu yang tertutup atau belum diketahui. Bila belum diketahui oleh dunia kedokteran, ilmu lain pun pasti tak akan mungkin bisa membuka rahasia kedokteran itu. (Yul Iskandar 2006)

 

Harus ditegaskan bahwa ilmu psikiatri di Indonesia memang menaruh minat dan perhatian atas segi-segi demonology, mytologi dan kebatinan dalam hidup social cultural manusia. Akan tetapi sebagai psikiater kita hendaknya juga insyaf, bahwa semua paham dikalangan itu senantiasa diliputi oleh suasana rasa emosional yang berpasang surut menurut kecenderungan masing-masing individu baik yang menjadi pemimpin atau pemukanya, maupun mereka yang menjadi pengikut-pengikutnya.

Maka oleh sebab itulah, apabila kemudian suatu ilmu bermaksud mencari “penjelasan-penjelasan atau keterangan-keterangan” lebih lanjut atau lebih mendalam tentang sebab musabab dan hakekat, serta validasi tentang mengapa sesuatu corak kejiwaan atau tingkah laku manusia itu dapat terjelma, maka dengan sendirinya pula, justru mytologi yang sama itu dapat bertindak sebagai “penghambat, lawan atau musuh pertama” yang menentang percobaan ilmiah yang semacam itu.  (Kusumanto 1966)

 

Justru pada saat ini beberapa psikiater senior menunjukkan berbagai cara pengobatan  yang telah ditinggalkan oleh  para psikiater dunia dipertengahan abad ke 20, akan tetapi  dengan cara tertentu mereka  mencoba untuk menghidupkan kembali sisa-sisa kebiasaan yang berasal dari zaman kegelapan Eropah, sampai pada zaman cara pengobatan abad ke 18-19 dan awal abad ke20.

Dengan berbaju  modern dan mengatakan bahwa didunia barat hal itu juga ada  (walaupun aliran itu sangat minoritas), mereka melakukan praktek psikiatri yang tak bertanggung jawab, membuat pasien menjadi khronik, dan merusak masa depannya. Tidak diketahui apakah mereka sadar akan apa  yang dilakukannya atau memang psikiater itu bangga melakukannya, apalagi media masa memperlihatkan dan mempertontonkan cara-cara pengobatan, disertai adanya satu atau dua kasus yang berhasil..

Lebih buruk lagi adalah pengobatan psikiatri diakui oleh pemerintah, dapat dilakukan oleh non-psikiater dan ini dimasukkan dalam UU kesehatan  yang ada. Jangan heran bahwa siapapun boleh merawat pasien dengan gangguan psikiatri, dengan cara apa saja, termasuk merantai, mengikat, mencambuk, merendam  dalam air, yang semuanya bisa dilihat dengan kasat mata. Psikiater dan pemerintah diam terhadap perlakuan demikian yang tidak human dan pengobatan  yang  tak menunjukkan manfaatnya. (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh karena itu, maka ilmu pengetahuan yang bermaksud demikian tidak jarang oleh kalangan-kalangan tertentu dianggap seolah-olah mau “meremehkan” atau mau “merobohkan” sifat-sifat atau corak-corak sesuatu tabiat kejiwaan atau tingkah laku manusia atau sekelompok manusia, yang sebelumnya dianggap dan diterima sebagai suatu “postulat kebenaran mytologik”. Dengan sendirinya pula, maka baik individu yang bersangkutan maupun kelompok individu itu tergolong sebagai anggota, secara reflektorik akan menentang tiap-tiap ikhtiar “pembongkaran ilmiah yang lebih obyektif”.

(Kusumanto 1966)

Dengan berlindung dibawah UU Kesehatan mereka secara leluasa melakukan praktek psikiatri, ada yang bermotif keuntungan, tapi kebanyakan adalah meraka yang tak tahu. Mereka tidak berani dan tentunya menentang keras  dilakukan penelitian ilmiah atas khasiat dari pengobatannya.  Bila pengobatan yang ternyata tak berkhasiat sudah sepantasnya pihak yang berwewenang akan melarang  praktek-praktek seperti itu.  Penderita  gangguan jiwa sudah sepantas dirawat di Rumah sakit umum atau Rumah sakit jiwa ( Psychiatric Hospital)  dan larangan untuk merawat diluar institusi tersebut, sama dengan penangan pasien bedah, haruslah di Rumah Sakit Umum atau Rumah Sakit  khusus Bedah. Persyaratan yang ketat untuk Rumah sakit jiwa (Psychiatric Hospital )  haruslah diberlakukan.  (Yul Iskandar 2006)

Hal lain yang dapat menghalangi kemajuan ilmu psikiatri ialah fakta, bahwa mereka terganggu jiwanya itu, secara mutlak dianggap masih tetap merupakan suatu teka-teki yang intensif sekali. Intesitas teka-teki ini demikian hebatnya, sehingga hal ini sangat terasa membebani dan memberati beberapa kalangan secara moril. Terutama sekali berat beban moril ini dirasakan, apabila tingkah perbuatan mereka itu kemudian berubah menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi dalam tata tertib social, suatu keadaan yang seringkali dijumpai pada golongan penderita psikotik.

Ditinjau lebih lanjut, maka teka-teki mendalam itu sebetulnya bersumber pada ketidakmampuan kita sendiri untuk memberikan jawaban yang memuaskan tentang “duduk perkaranya” persoalan gangguan jiwa yang menghadapi kita. Jadi, jika kita tidak dapat memecahkan suatu kasus gangguan jiwa, maka cenderunglah kita (psikiater) untuk kecewa dan gelisah, karena justru disitu kita dihapankan dengan suatu kegagalan daripada kita sendiri. (Kusumanto 1966)

Masalahnya dalam salah satu penelitian di Inggris pasien dari mulai fase pre-psikotik sampai menjadi psikotik, bisa berlangsung 2-5 tahun. Setelah adanya manifestasi awal pasien psikotik sampai terjadinya gejala psikotik yang overt  memerlukan waktu 2-5 tahun lagi. Jadi pada saat pasien  datang ke psikiater biasanya sudah  jauh  terlambat maka barulah para psikiater menanganinya, yang tentunya angka keberhasilannya sangat rendah. Masalahnya adanya beberapa oknum yang menganggap tidak berhasilnya pasien diobati, merupakan rezekinya, karena pasien seumur hidup menjadi pasiennya. Banyak psikiater yang bangga bekerja di Rumah sakit jiwa (RSJ) dengan angka kesembuhan yang minimal, kehdupan yang santai  tanpa beban, karena tak ada yang ribut bila pasien tak sembuh.malahan ada psikiater senior yang bangga bahwa  pasiennya telah 20 tahun berobat dengan dia, artinya selama 20 tahun ini tak ada kemajuan apapun pada pasien itu.  Masalah moral dan etika ini, khususnya  yang dilakukan oleh non psikiater, yang senang  untuk memelihara dan menjadikan sapi perahan pasien  dengan gangguan schizophrenia,  yang perlu mendapat  perhatian utama. Tujuan ideal  menjadi psikiater adalah menyembuhkan pasien psikotik atau schizophrenia kalau bisa bebas  dari obat  dan hidup produktif, bukan memeliharanya.

(Yul Iskandar 2006)

Salah satu reaksi yang sering dijumpai ialah suatu reaksi penangkis kegagalan itu dengan “melemparkan salah”,  tidak kepada ketidakmampuan (psikiater)  sendiri, akan tetapi kepada yang bersangkutan, yaitu si sakit atau si penderita. (atau keluarganya YI) Jadi, sekarang si sakitlah  dan keluarganya  yang dijadikan pesakitan dan dituduh tidak dapat menyesuaikan diri dalam tata tertib sosial (tidak  patuh makan obat, tidak patuh melakukan psikoterapi dsb YI), karena kesalahannya sendiri. Sikap menolak si sakit ini biasanya disebut “sikap rejektif” dan seringkali bersumber pada sesuatu keadaan tegang yang tak mampu mereda diantara mereka yang langsung berhubungan dengan si sakit itu.  Ia tidak diterima lagi, ia diasingkan dan malahan dienyahkan. Si sakit jiwa dan orang-orang yang tua-tua dan yang tidak berguna itu mungkin pada jaman purba (zaman abad pertengahan= zaman kegelapan di Eropah)  konon kabarnya pula pernah dibunuh karenanya, dan konon kabarnya pula hal-hal demikian itu diketahui sudah pernah dilakukan oleh sekelompok manusia tertentu  (pada zaman NAZI, nyatanya  mereka tak berhasil menghilangkan gangguan schizophrenia  (YI). (Kusumanto 1966)

Ini terjadi pada abad pertengahan, zaman kegelapan, kadang-kadang tak dibunuh tapi cukup dirantai dan diasingkan. Anehnya hal ini dapat terjadi di Indonesia dan mereka bisa melakukan itu atas dasar adanya undang –undang kesehatan, yang melegalisir berbagai pengobatan psikiatri non medik yang nyata-nyata tak bersifat human, tak ada kemajuan, malahan melawan rasa kemanusian. Adanya Lindungan UU dimana bukan psikiater, atau malahan ada psikiater yang mau bekerja  dalam lembaga-lembaga yang nyata-nyata bertentangan dengan ilmu psikiatri menunjukkan adanya kelemahan UU kesehatan, adanya kelemahan dari para psikiater, dan kelemahan dari bangsa kita sendiri yang tak mampu mengurus orang yang menderita. Sehingga membiarkan mereka diurus oleh orang tak berkompeten, yang akhirnya hasilnya makin buruk (Yul Iskandar 2006)

Tetapi untunglah, yang kita ketahui dan saksikan sehari-hari bukanlah pembunuhan semacam itu melainkan sikap orang banyak untuk menjauhi dan menjauhkan mereka yang terganggu jiwanya, seolah-olah orang-orang itu hendak berseru, agar biarlah mereka terganggu jiwanya itu diisolasi yang dalam beberapa keadaan tertentu juga merupakan suatu penguburan mental.

(Kusumanto 1966)

Satu Tanggapan to “Demonology, mytologi dan kebatinan.”

  1. dryuliskandar Says:

    Pada saat ini banyak yang mempermasalahkan masalah pemasungan dan perantaian, selama undang-undang kesehatan, khususnya undang-undang kesehatan jiwa belum ber[pihak pada pasien atau psikiater maka selama itu yang memanfaatkan, atau tak peduli akan gangguan psikiatrik akan makin banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: