Hubungan Psikiatri Biologik dan Dunia Interpersonal

Tidaklah wajar kiranya, untuk menutup mata kita untuk kemungkinan potensial maupun aktual, daripada factor hereditas tertentu, misalnya yang dijumpai pada beberapa golongan pasien psikiatri, . . . .. . . . . .
dunia ini dinamakan dunia Intrapersonal, yang merupakan bagian dari inteligensi pada manusia menurut Multiple Inteligensi dari Howard Gardner (1993). Dunia masyarakat atau hubungan manusia dengan manusia dinamakan oleh Howard Gardner sebagai Inteligensi Interpersonal.
. dan seterusnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2008/12/21/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-2/
Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar(2)

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Oleh

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar (2006)  terhadap tesis itu,  buku ini sedianya akan diterbitkan pada tahun 2006,  dengan judul diatas, atas persetujuan Prof. Kusumanto, akan tetapi karena pada tahun itu  terjadi  berbagai persoalan perselisihan  antara  pimpinan internal RS Dharma Graha  ,  yang melibatkan  Dr. Yul Iskandar  kepada masalah  tidak terlalu penting, tetapi harus dikerjakan  dan akhirnya  tidak praktek  di RS Dharma Graha. Baru saat ini tulisan ini  bisa diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan  akan disebar luaskan melalui blog ini.  Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

Tidaklah wajar kiranya, untuk menutup mata kita untuk kemungkinan potensial maupun aktual, daripada factor hereditas tertentu, misalnya yang dijumpai pada beberapa golongan pasien psikiatri, ataupun sebab-dasar organobiologik yang terjadi karena infeksi ataupun trauma fisik, yang dilihat pada beberapa golongan dementia tertentu. (Kusumanto 1966)

 

Berbagai penelitian yang dianggap dapat dipertanggung jawabkan menunjukkan bahwa bila kedua orang tua menderita gangguan psikotik maka kemungkinan anaknya menjadi psikotik pula sebesar 40%, tetapi bila hanya salah satu saja yang psikotik maka anaknya 10% mungkin menderita psikotik, dan bila  kedua orang tuanya normal, kemungkinan anaknya menderita psikotik sebesar 1%. Dari hasil ini menunjukkan bahwa secara statistik, faktor heriditer berperanan besar atas gangguan ini. Akan tetapi  gangguan hediter saja tidak cukup  untuk membuat pasien menjadi sakit psikotik atau schizophrenia. Jadi penelitian diatas menunjukkan bahwa ada  sebab (causa )lain selain gangguan heriditer saja. (Yul Iskandar 2006)

 

 Akan tetapi andaikata kita dapat menghitung seluruh jumlah kasuistik yang ada dibidang gangguan psikiatri, maka pastilah jumlah mereka yang terganggu jiwanya karena sebab utama reaktif-psikogen akan jauh lebih besar daripada banyaknya mereka yang terkena gangguan herediter atau organobiologik. (Kusumanto 1966)

 

Dari sejak awal penelitian penyebab gangguan psikiatri, selalu ada yang menganggap bahwa masalah heriditer/ organobiologik  merupakan kontributor penting terjadinya gangguan psikotik. Akan tetapi ada pula yang semata-mata mengenangap bahwa faktor psikososial, atau psikogen adalah penyebab utama. Tentunya kebenaran biasanya berada ditengah-tengah. Peneltian diatas menunjukkan bahwa  faktor heriditer bukan 100% penyebab gangguan psikotik, akan tetapi  barangkali kombinasi  gangguan psikogen dan heriditas merupakan penyebab terjadinya gangguan psikotik. Akan tetapi  masalah etiologi didalam praktek klinis, bukanlah sesuatu masalah besar. Gangguan psikotik dalam pengobatannya lebih terutama  ditujukan pada psikopatologi yang dihadapi pasien. (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh sebab itu, walaupun sangguplah kita membagi sebab-sebab utama dalam gangguan jiwa itu ke dalam penggolongan konstitusi-herediter, organobiologi ataupun reaktif-psikogen, tetaplah nampak pada kita berkurangnya secara mutlak ataupun secara relatif daripada karakteristik yang spesifik human itu, yaitu daya kemampuan individu untuk mengikhtiarkan hubungan antara manusia yang teratur, tertib, dan memuaskan, baik dirinya maupun lingkungannya, terutama jika berhadapan dengan situasi tegang atau frustatif. (Kusumanto 1966)

 

       Meskipun telah banyak kemajuan terhadap penelitian selama lebih dua dasawarsa  ini (1980-2000), schizophrenia tetap menjadi salah satu dari banyak penyakit yang mengandung misteri  di tempat-tempat praktek  psikiater.  Penyakit ini mempengaruhi fungsi  psyche manusia (proses fikir, emosi dan tingkah laku) .  Meskipun  pengobatan pharmacologic dan psychologic/ psychosocial telah lebih efektif dari sebelumnya, frekwensi keberhasilan/ kesembuhan total   pasien  jauh dibawah tujuan harapan pasien atau keluarganya. (Yul iskandar 2006)

           

Dunia penghayatan individu dan dunia luas masyarakat luar, adalah dua “dunia” yang pada prinsipnya berlainan. Dalam keadaan biasa atau normal dua “dunia” itu dapat diselesaikan oleh individu tanpa mengerahkan energi ataupun tenaga yang berlebihan; ia tidak akan merasa lelah atau tertekan karena tuntutan universal “mempertemukan” kedua dunia itu. (Desertasi Kusumanto 1966)

 

Dunia penghayatan individu, adalah sesuatu yang spesifik human, tidak ada pada hewan walaupun  yang telah berkembang seperti pada primata, pada anak-anak dunia penghayatan individu ini belum berkembang dengan baik, dunia ini dinamakan dunia Intrapersonal, yang merupakan bagian dari inteligensi pada manusia menurut Multiple Inteligensi dari Howard Gardner (1993). Dunia masyarakat atau hubungan manusia dengan manusia  dinamakan oleh Howard Gardner sebagai Inteligensi Interpersonal. Bagi dunia kanak-kanak dunia ini masih difuse dan belum berbentuk jelas, seperti juga inteligensi lainnya. Pada keadaan dewasa dua dunia ini dengan mudah dipecahkan dan diselesaikan dengan baik. Akan tetapi nanti akan jelas pada penderita schizophrenia inteligensi intrapersonal dan inteligensi interpersonal ini mengalami hambatan dan keretakan. Dibawah ini ada deskripsi mengenai kedua inteligensi itu berdasarkan Howard Gardner (dikutip dari buku PAUD oleh  Nurlaleila MT dan Yul Iskandar).,  

 

Intrapersonal intelegensi.

Virginia Wolf  adalah orang yang dikenal dengan Inteligensi intrapersonal yang tinggi.  Artinya dia mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mengenal aspek internal dari dirinya. Dia bisa melihat dan menimbang  perasaan dirinya secara objektif, mampu mendiskriminasi emosi yang ada  dan membuat label dari emosi itu serta menggunakannya secara sepatutnya.

Intrapersonal  Inteligensi ini sangat private, dan memerlukan bahasa, musik , linguistik  dan expresi dari artistik seseorang untuk menilainya.

Daerah dimana intrapersonal inteligensi adalah tempat yang paling baru dari otak mamalia, yaitu daerah frontal. Intrapersonal inteligensi hanya ada pada manusia, yang bisa merenungi diri sendiri dan mengenal ‘insight’.

(Jelaslah orang-orang menderita psikotik khususnya schizophrenia  tidak bisa lagi mempunyai penghayatan atau inteligensi intra personal. Penelitian dari Howard Gardner menunjukan bahwa daerah frontal kortex, adalah daerah yang sangat berpengaruh pada adanya insight, jadi  dapat diambil spekulasi adanya kekacauan pada daerah frontal kortex untuk penderita schizophrenia)

 

Inteligensi Interpersonal.

Anne Sulivan adalah orang yang membimbing Helen Keller, anak yang buta dan tuli  dan bisu. Anne Sulivan sendiri  tidak mempunyai pendidikan formal yang khusus, dan dia juga matanya mendekati buta. Waktu itu Helen Keller masih berumur 7 tahun,  dan Anne Sulivan harus membimbing  anak dengan emosional tinggi karena keterbatasannya, tetapi kecerdasannya sangat tinggi.

Anne Sulivan sampailah pada kesimpulan bahwa dia harus mendisiplin dan mengkontrol anak itu  tanpa anak itu ‘break down mental’ Cara yang dipakai Anne Sulivan adalah TLC (tender loving and care)  yang ternyata berhasil dan dapat dalam waktu relaif singkat hanya 1 minggu Helen Keller menaruh kepercayaan yang besar pada Anne Sulivan sebagai guru dan mentornya. Seperti diketahui kemudianHellen Keler walaupun bisu dan tuli dan Buta, kemudian berhasil menjadi Doktor.

Disini Anne Sulivan ternyata mempunyai inteligensi interpersonal yang tinggi. Inteligensi ini dapat membedakan antara satu sama lain dalam hal emosi, temperamen,  motivasi dan intensi dari orang lain. Dalam inteligensi yang tinggi  orang  orang ini dapat  melihat motivasi, intensi dan  kemauan orang lain  walaupun orang itu menyembunyikan dalam-dalam  hal tersebut. Ketrampilan  ini sangat diperlukan oleh para ahli filsafat, psikiater,  pimpinan politik, guru, terapist dan tentunya orang tua pada anak-anaknya.

(dengan sendirinya penderita Schizophrenia, inteligensi ini  sangat rendah, sehingga tentunya sangat normal bila mereka sulit berhubungan dengan orang lain secara harmonis, malahan hubungan dengan orang lain dapat menyebabkan frustrasi dan malahan agresi)

Dari hubungan Anne Sulivan dan Hellen Keller dapat dilihat bahwa interpersonal inteligensi tak ada hubungannya  dengan kemampuan bicara, karena Hellen Keler adalah orang yang dapat dikatakan buta, tuli dan bisu. Interpersonal inteligensi ini terletak pada otak bagian frontal, ini ternyata kerusakan pada daerah itu, membuat orang berubah kepribadiannya dan tentu saja inteligensinya khususnya interpersonal inteligensi akan hilang. Ternyata bahwa interpesonal inteligensi ini sangat dipengaruhi oleh masa kecil, hubungan antara individu dengan individu lain, biasanya dengan ibunya.  (Yul Iskandar 2006)

 

Oleh sebab itu maka tanda pertama, yang acapkali merupakan tanda utama sesuatu gangguan jiwa ialah kegagalan atau ancaman kegagalan pergaulan antar manusia yang baik dan wajar, yang selalu membawa serta seolah-olah individu itu harus sangat memaksa diri untuk sanggup mempertemukan kedua dunia itu.

Diagnostik dalam psikiatri, demikian pula terapi, dan prevensi haruslah dilihat dalam perspektif demikian. Pertama, menuruti asas-asas kedokteran fisik; kedua, menuruti asas-asas dinamika psikologik pribadi individu; ketiga, menuruti asas-asas interaksi social yang terjadi dalam lingkungan budaya itu dianggap sah, wajar dan umumnya dijunjung tinggi. Demikianlah justru faset yang multiple ini mengharuskan psikiater paham dan mengerti ilmu kedokteran, dinamika psikologik individual dan alam budaya seseorang penderita, agar dapatlah psikiater itu dengan ketekunan dan kesabaran yang maksimal kemudian sanggup mengikhtiarkan bimbingan yang tidak jarang harus menempuh suatu jalan yang payah, sulit dan jauh itu. (Kusumanto  1966)

Pendidikan psikiatri tentunya haruslah  dengan dasar-dasar yang kuat dalam ilmu Biomedik, (seperti  biokimia, biomolekuler, farmakologi), dalam bidang  psikologik (misalnya masalah cognitif, inteligensia, personality, ) bidang budaya (seperri adat ,hukum,  bahasa,  ekonomi,  cara berpikir, cara expresi spiritual  dsb) (Yul Iskandar 2006) .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s