Azaz-azaz ilmu psikiatri

Azaz-azaz ilmu psikiatri
Pengharapan akan bagaimana pasien menjadi lebih baik, dapat bertahan dalam kesehariannya yang lemah, tapi adanya obat antipsychotic yang menjadi bernilai dan informasi tentang perkembangan mereka, pengharapan orang yang peduli terhadap pasien sangat potensi untuk di evaluasi ulang. Klinik harus menghindari pengobatan yang cenderung terlalu konservatif dan . . . . dan seterusnya di :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2008/12/08/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar(1)

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

mantan Guru besar psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan Ariel biasa, adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), tulisan dengan Ariel italic adalah komentar dan pendapat Yul Iskandar (2006) 

 

 

 

ASAS-ASAS ILMU PSIKIATRI

                 

 

 

(a)         Introduksi dan Dasar-Dasar Pokok

 

Ilmu psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa ialah cabang spesialistik dibidang iilmu kedokteran yang memiliki kedudukan dan sifat-sifat yang agak istimewa. Semua dokter dan psikiater yang bekerja dalam bidang psikiatri  mengetahui hal ini. Hal ini dirasakannya serta dipahaminya, oleh karena pada dasarnya semua gangguan mental   itu mengandung satu corak universal yang sama, yang tidak seluruhnya terletak dibidang ilmu kedokteran fisik, melainnkan secara primer merupakan suatu corak yang spesifik human, yaitu kegagalan individu dalam kemampuannya mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan dan menguntungkan, baik individu itu sendiri maupun lingkungan.

(Kusumanto Setyonegoro 1966)

 

Ilmu psikiatri di Indonesia sama tuanya (mudanya) dengan negara kita sendiri. Ilmu psikiatri modern sendiri barangkali  lebih muda dari negara kita. Penelitian ilmiah dibidang psikiatri  mungkin baru 3 decade ini. Jadi bila angka kesuksesan dibidang psikiatri masih rendah, maka  hal ini masih merupakan hal yang wajar. Ilmu ini masih jauh dari dapat berkembang karena berbagai hal, misalnya masih banyak pasien yang  mengalami stigma, begitu pula para psikiaternya.Ditambah lagi dengan kurangnya minat untuk meneliti gangguan ini di Indonesia. Fasilitas pengobatan jauh dari memadai di berbagai tempat di luar Jakarta. Disamping itu karena banyaknya pasien psikiatri yang datang terlambat untuk menemui psikiater, maka tentunya angka keberhasilan pengobatan juga berkurang. Disamping itu  informasi yang bermacam-macam jang diberikan oleh berbagai kalangan, membuat bingung dari pasien atau keluarga pasien.

(Yul Iskandar 2006)

 

       Meskipun telah banyak kemajuan terhadap penelitian selama lebih dua dasawarsa, schizophrenia tetap menjadi salah satu dari banyak penyakit yang menantang di tempat-tempat praktek dokter psikiatri. Penyakit ini mempengaruhi fungsi dari  psychologic dan mengenai individu dari banyak kalangan yang menderita  dari hari ke hari dalam hidupnya. Meskipun pengobatan pharmacologic dan psychologic/ psychosocial telah lebih efektif dari sebelumnya, frekwensi hasil hasil  ke-sembuhan  jauh dibawah goal  tujuan klinik.

            Meskipun klinik-klinik berbagi komitmen yang kuat ke arah perkembangan kualitas kehidupan pasien mereka,  tetapi ternyata masih banyak hambatan , termasuk stigma  social, sumber penghasilan yang tidak mencukupi, fasilitas perawatan yang kurang, kekurangan obat, dan informasi yang tidak lengkap. Dibalik kesulitan-kesulitan tersebut, pengobatan schizophrenia dapat ditingkatkan.

 

Pengharapan akan bagaimana pasien menjadi lebih baik, dapat bertahan dalam kesehariannya yang lemah, tapi adanya obat  antipsychotic yang menjadi bernilai dan informasi tentang perkembangan mereka, pengharapan orang yang peduli terhadap pasien sangat potensi untuk di evaluasi ulang. Klinik harus menghindari pengobatan yang cenderung terlalu konservatif dan sebaiknya terus menerus berusaha meningkatkan kualitas hidup pasien.

            Keanekaragaman schizophrenia tidak dalam kedudukan yang signifikan, variasi pengobatan alami yang diterima pasien sangat mengejutkan. Bahkan informasi tentang pengobatan pharmacologic dan psychosocial untuk schizophrenia menumpuk, aplikasi dari strategi petunjuk dasar yang ditentukan dalam klinik sangat lambat. Untuk menujukan ketidakadilan ini, di klinik baru saja melakukan perkembangbiakan dari pengobatan algoritma dan latihan garis pedoman untuk schizophrenia , tapi semua pengobatan itu sering diberlakukan dengan ketidakpercayaan atau tidak dianggap. Sayangnya, batasan tetap antara pengobatan yang optimal dan pengobatan yang actual yang diterima pasien schizophrenia. Untuk memberikan pengobatan yang optimal, dokter yang sibuk membutuhkan akses yang mudah untuk mendapatkan informasi terkini yang langsung berhubungan dengan praktek klinik mereka. Sebagai pembuat keputusan klinis dalam pengobatan pharmacology dari Schizophrenia menjadi berkembang kompleks, alat yang dibutuhkan untuk membuat dokter siap mengurutkan kumpulan informasi yang ada dan membuat sistematis untuk keuntungan terbesar pasien mereka.

Rajiv Tandon, MD &  Ira D. Glick, MD  (2005)  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s