Kehidupan pribadi= Eigenwelt

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya maka dunia atau alam kehidupan pribadi ini juga disebut dengan nama Eigenwelt. Bagi psikiater ini berarti, bahwa ia harus mendekati eksistensi individual fenomenologi. Psikiater hendaknya sedapat-dapatnya membebaskan diri dari pada pelbagai pra konsepsi yang bersifat ilmiah dan struktural yang pernah atau mungkin ia dapati dalam didikan formatifnya.
Psikiater dapat memperhatikan dan menafsirkan hal-hal seperti “Einfuhlung (Jaspers)” yang diindonesiakan sebagai “menturutrasakan”, “Praecox Gefuhl (Rumke)”, “Austausch Affektivitat (Strasser)” serta “Tension Psychologique (Janet)”. Semua kaualifikasi spesifik itu mengandung makna yang terikat pada subyek dan memberikan indikasi tentang pentingnya alam kehidupan pribadi dari pada orang yang bersangkutan, yaitu penderita yang sedang dihadapi oleh psikiater. Hanya sayang sekali bahasa umat
manusia pada taraf perkembangannya sekarang masih terlampau miskin, stidak-tidaknya belum cukup kaya untuk menciptakan istilah-istilah yang khas pula dan yang dapat mencocoki atau kongruent dengan penghayatan yang khas itu. Dan seterusnya di: http://dryuliskandar.wordpress.com/2011/04/25/kehidupan-pribadi-eigenwelt/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (63)
(Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (62)

Dunia atau alam kehidupan pribadi (Eigenwelt)

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya maka dunia atau alam kehidupan pribadi ini juga disebut dengan nama Eigenwelt. Bagi psikiater ini berarti, bahwa ia harus mendekati eksistensi individual fenomenologi. Psikiater hendaknya sedapat-dapatnya membebaskan diri dari pada pelbagai pra konsepsi yang bersifat ilmiah dan struktural yang pernah atau mungkin ia dapati dalam didikan formatifnya.
Psikiater dapat memperhatikan dan menafsirkan hal-hal seperti “Einfuhlung (Jaspers)” yang diindonesiakan sebagai “menturutrasakan”, “Praecox Gefuhl (Rumke)”, “Austausch Affektivitat (Strasser)” serta “Tension Psychologique (Janet)”. Semua kaualifikasi spesifik itu mengandung makna yang terikat pada subyek dan memberikan indikasi tentang pentingnya alam kehidupan pribadi dari pada orang yang bersangkutan, yaitu penderita yang sedang dihadapi oleh psikiater. Hanya sayang sekali bahasa umat manusia pada taraf perkembangannya sekarang masih terlampau miskin, stidak-tidaknya belum cukup kaya untuk menciptakan istilah-istilah yang khas pula dan yang dapat mencocoki atau kongruent dengan penghayatan yang khas itu.

Adapun ekspresi-ekspresi formatif itu semuanya agaknya tergolong dalam apa yang dapat disebutkan sebagai kelainan-kelainan penghayatan (Erlebnis anomalie) dan mungkin sekali tidak dapat dilepaskan dari pada keseluruhan kelainan eksistensi individu penderita schizophrenia (schizophrene lebens anomalie). Boleh disebutkan juga bahwa penderita schizophrenia itu seolah-olah kehilangan eksistensi individual atau eksistensi pribadinya (personal existence).

Tetrutama sekali hal-hal yang berhubungan dengan temporalitas dan individulitas amat menarik perhatian peminat, oleh karena hal-hal yang demikian itu dapat mencocoki simptomatologi formal dari pada gangguan schizophrenia yang sudah dikenal sejak dahulu.

Dengan demikian maka apa yang secara psikodinamika disebutkan sebagai desintegrasi atau disorganisasi kepribadian, ada kecocokannya dengan pendekatan yang hendak mementingkan transformasi atau deformasi eksistensi individual dari pada penderita yang bersangkutan.

Juga fenomena terkenal seperti “Weltuntergangserlebnis” dapat didekati dengan thesis adanya katastrofe yang diakibatkan karena kehilangan atau ancaman kehilangan eksistensi individual dari pada penderita. Berlainan dengan alam kehidupan psikodinamika, maka alam kehidupan pribadi ini tidak mengenal suatu sistem struktural yang rapi dan teratur secara terperinci.

Salah satu kondisi yang penting ialah yang disebut sebagai kontak hidup (contact vitable menurut Minkowski). Kondisi ini dalam keadaan yang normal dimiliki oleh tiap-tiap manusia hidup.
Oleh karena itu maka dapat diambil kesimpulan yang agak pasti, bahwa tiap-tiap eksistensi yang bercorak schizophrenik senantiasa dicoraki oleh adanya ketidakmampuan untuk berkontak hidup, sehingga akhirnya mereka itu tidak mampu benar-benar untuk mengalami tidak hanya hidupnya orang-orang lain, tetapi juga hidupnya sendiri.

Bagi penderita schizophrenia seolah-olah nampak bahwa ia tidak mampu menetapkan apa sifat posisi atau fungsi dari pada kontak hidupnya. Sebab dengan adanya kemampuan orang untuk menetapkan sifat posisi dan fungsi kontak hidup, tercurah pula kepercayaan orang itu pada sesama manusia. Manusia yang semacam itu kokoh keyakinannya, bahwa apa yang sedang dialami dan dihayati itu merupakan hal-hal yang benar dan bahwa semua hal-hal itu ada hubungan-hubungan yang kokoh dengan keadaan-keadaan atau fakta-fakta lain yang diketahuinya sebelumnya, atau yang diduganya akan pasti terjadi sesudah itu.

Bagi penderita schizophrenia, semua yang bersifat kepercayaan terhadap masa lampau dan masa depan itu tidak ada. Semuanya seolah-olah berdiri sendiri, lagi pula terlepas satu dari pada lainnya. Oleh karena itu maka semua fakta, semua fenomena dan semua keadaan itu merupakan hal-hal yang goyah, tidak stabil, asing dan karena itu seringkali menakutkan.

Oleh sebab itu pula, maka kontak hidup itu menjelma menjadi tipis dan sempit. Kontak psikik yang menjadi salah satu konsekwensi logik dari pada kontak hidup yang kuat dan intakt, juga berubah menjadi sesuatu yang terjadi hanya secara formal dan dangkal saja. Formalitas dan kedangkalan kontak itu meyakinkan tiap-tiap pemeriksa, bahwa hubungan dengan penderita schizophrenia itu seringkali tidak meresap seerat-eratnya. Kita semuanya terkesan karena suatu suasana alienasi diri (self alienation atmosphere) yang senantiasa mengakibatkan suatu situasi hidup tidak hakiki mencerminkan hidup eksistensi human. Oleh sebab itu, maka timbul fenomena-fenomena yang secara formal tergolong depersonalisasi dan derealisasi. Individu schizophrenia tidak merupakan suatu kekompakan, melainkan suatu gambaran yang terpecah belah, serta terlepas dari pada segala sendi-sendinya. Individuasi yang mungkin sebelumnya ada dimilikinya, sekarang menjadi kabur atau hapus, semua aktivitasnya merupakan kegiatan-kegiatan yang hakiki (non self actual ; niet wezenseigen).
Suatu hal lain yang rasanya penting dikhususkan ialah “Einfuhlung” yang dapat diikhtiarkan dari pihak pemeriksa. Manusia penderita schizophrenia seolah-olah terlepas dari pada suatu kestabilan yang mantap.
Demikianlah, maka dengan memperhatikan fenomena-fenomena yang dijumpai dalam diri manusia khususnya dalam penderita schizophrenia itu, kita dapat mendalami alam kehidupan pribadi atau Eigenwelt yang bersangkutan itu.
Oleh sebab itu, maka dapatlah diselami secara lebih cermat dan mungkin lebih tepat pula apa yang dapat dikemukakan sebagai hakekat dari pada gangguan-gangguan affektif dan hidup emosi schizophrenia. Penderita sekarang tidak mampu lagi untuk turut berdendang dalam irama umum, dan seakan-akan nampak sebagai salah seorang yang sudah selesai atau habis permainannya dan telah mengaku kalah, atau setidak-tidaknya menyerah saja. Ia lebih suka minggir dan berdiri di tepi saja. Soal dan peristiwa pun sekarang tidak menjadi soal atau perhatian akut baginya.
Keadaan afektif dan hidup emosi sekarang menjelma menjadi merata dan mendatar, serta mendangkal. Apa yang sering disebutkan sebagai “elan vitale (Bergson)” berubah menjadi sesuatu yang sempit dan kering. Tonus dan turgor hidup menjadi lembek dan kering pula. Dan akhirnya, sifat dari pada penghayatan dunia pribadinya berubah pula secara sangat karakteristik : hampa dan kosong dalam bentuk dan jenis yang semaksimal-maksimalnya, tiada warna serta tiada hidup. Luas hidupnya menjadi kisut sampai batas-batas yang minimal. Kekuatan regenerasi hidup pun minimal. Oleh sebab itu semua proses-proses desintegrasi dan deteriorasi berjalan terus tanpa hambatan yang berarti.
Kelangsungan dan kekompakan jalan pikir dan proses pikir pun mengalami keretakan atau malahan desintegrasi. Fragmentasi disatu pihak dan obskurisasi (penggelapan batas) dipihak lain, adalah dua fenomena yang menyolok nampak dalam proses schizophrenia. Duniaku dan duniamu menjadi kabur batas-batasnya, malahan kadang-kadang saling tutup menutupi (over lapping), yang tidak menguntungkan. Secara prinsip, maka timbul keyakinan mutlak, bahwa duniamu dapat menghalang-halangi duniaku untuk bergerak atau bertindak. Dengan demikian, maka struktur proses pikir yang primer dan yang bersandarkan logika juga kehilangan “Ganzheitnya”. Pernyataan verbal dan isi tafsiran semuanya memiliki arti yang tersendiri-sendiri yang sangat terikat secara khas dan secara individual dan justru oleh sebab itu kehilangan “Ganzheitnya”.
Juga dibidang-bidanng koordinat hidup lainnya, seperti struktur spatial dan struktur temporal, terjadi perubahan-perubahan yang tidak menyalahi prinsip dasar yang dikemukakan diatas, yaitu roboh dan runtuhnya “Ganzheit karakater”. Struktur spatial dan struktur ruang mengalami perubahan yang sedemikian rupa, sehingga antara “Aku” dan “Engkau” tidak lagi dirasakan, diyakini atau dihayati pembedaaan-pembedaaan yang tegas. Dunia dalam dan dunia luar individu kabur dan difus serta juga konfus. Ini berarti, bahwa segala sesuatu yang sifatnya terikat pada individualitas mulai diragu-ragukan. Lebih lanjut hal itu berarti pula, bahwa penghayatan individual tidak lagi bersumber pada suatu eksistensi individual yang tegak berdiri atas orisinalitas, melainkan malahan dirasakan asing oleh individu itu sendiri.
Jadi, walaupun betul, bahwa pada prinsipnya semua unsur-unsur inteligensi dan intelektualitas serta pengalaman-pengalaman kemahiran dan kepandaian tetap terpelihara, namun demikian efisiensi organisatorik merosot sampai taraf yang minimal. Seolah-olah semua bahan dan unsur itu merupakan benda-benda kuno, yang disimpan dalam museum atau merupakan barang-barang import, yang telah berkarat terdampar dipelabuhan, tanpa pernah dibongkar ataupun dipergunakan secara efektif. Tetapi dipihak lain mungkin kita berjumpa dengan fenomena, bahwa penderita schizophrenia seolah-olah menaruh penilaian dan penghormatan besar terhadap hal-hal tertentu, jika ia kebetulan menemukan salah satu benda kuno atau barang berkarat itu. Ia mungkin amat terkesan karena arti simboliknya, tetapi yang hampir selalu dicoraki magik dan mystik yang amat menyimpang dari pada apa yang dianggap berlaku. Evaluasi berlebih dan evaluasi menyimpang atau privat itu seringkali bercorak amat konkrit dan meninggalkan seluruh sifat-sifat aktual dan vital dari pada benda kuno itu. Sehubungan dengan itu,maka oreantasi dan situasional pun mengalami perubahan-perubahan yang sukar diterima atas dasar logika umum. Disatu pihak relasi-relasi itu mengandung corak yang sangat konkrit, dipihak lain memiliki aspek yang amat simbolik pula, sehingga sangat membingungkan orang lain dan pula dirinya sendiri. Oleh sebab itu, mka ditinjau dari pada alam kehidupan pribadinya (Eigenwelt) banyak fenomena, seperti yang dilaporkan disini, lebih tepat kiranya untuk disebutkan sebagai suatu kelainan dasar dalam penghayatan (Erlebnis anomalie).
Dan akhirnya juga struktur temporalitas mulai kabur dan kacau dalam diri penderita schizophrenia itu. Kontinuitas dan irama dari pada hidup yang vital mulai lemah dan malahan mulai terhenti. Oleh sebab itu, maka dimungkinkan terjadinya “halangan abrupt” dalam proses pikir, proses hidup organismik dan irama hidup lainnya. Penderita tidak mau makan, tidak dapat memperlihatkan kemampuan-kemampuan normal dari pada irama-irama hidup psikik dan organismik, yang dalam keadaan yang sehat dikerjakan secaara baik dapat disebutkan automatik. Kelemahan irama-irama vital ini menandakan kegawatan dari pada proses schizophrenia yang sedang mengamuk.
Ia mengalami desoreantasi temporal yang seringkali disertai rasa kacau, rasa gelisah atau malahan rasa ketakutan yang amat memuncak. Dan oleh sebab itu, maka tiap-tiap perubahan hari yang terjadi tanpa terduga-duga itu seringkali dihayati sebagai suatu alamat hari kiamat (Weltuntergangserlebnis). Demikianlah, maka tinjauan dari sudut Eigenwelt atau alam kehidupan pribadi seringkali menandaskan pendapat, bahwa manusia yang sedang diteroponginya itu berada dalam suatu krisis eksistensi yang individual (individual existensi crisis). Dilihat dari sudut biologi, maka manusia itu mungkin tertimpa kelainan organobiologi seperti infeksi atau neoplasma, dan oleh sebab itu timbul krisis itu. Mungkin pula faktor-faktor yang terikat pada aspek-aspek endogen-herediter-konstitusional pada suatu saat tertentu telah berhasil menimbulkan krisis itu.
Daan tidak mustahil pelbagai situasi hidup yang sifatnya interpersonel pun dapat memperuncing pelbagai pertentangan, sehingga suatu penyesuaian diri yang wajar tidak mungkin lagi. Khususnya dalam kehidupan penderita schizophrenia, maka seluruh struktur hidup dan struktur kategori-kategori atau koordinat-koordinat hidupnya itu telah mengalami alterasi-alterasi, yang demikian mendalamnya sehingga sebagai akibat dari padanya telah berhasil dijelmakan suatu cara atau laku hidup yang khas, yang dapat disebutkan suatu cara atau gaya hidup schizophrenia. Antara lain perlu diperhatikan dan dicoba untuk memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan riwayat hidup dan proses-proses perkembangan manusia, baik secara fisik maupun psikologi, tetapi yang terpenting ialah pemahaman dari sudut “peri” alam kehidupan pribadinya. Hanya dengan cara yang demikian itu pemeriksa ahli psikiatri, sebagai orang luar dapat mendekati dan turut merasakan (Einfuhlen) “proses terjadinya (Entwieklungsprozess) seorang manusia menjadi seorang manusia schizophrenia.
Aspek yang demikian itu dirasakan sebagai suatu aspek yang perlu bagi suatu pengalaman penelitian psikiatri yang modern serta bertanggungjawab. Oleh sebab itu maka memahami dan mendalami penyingkapan-penyingkapan eksistensi individual manusia harus dianggap sebagai ekspresi yang asli dari pada manusia itu. Semua sendi-sendi kehidupan individu yang mencerminkan kegembiraan, kekecewaan, konflik, kegelisahan, kekhawatiran, dan anxietas, direfleksikan secara ekspresif oleh tiap-tiap manusia dalam keadaan sehat maupun sakit, pada waktu-waktu dan pada tempat-tempatnya yang khas dan tersendiri. Dengan cara demikian itu pemeriksa ahli psikiatri, sekali lagi sebagai orang luar, akan dapat terus menjunjung tinggi martabat manusia, justru dengan sekedar menamakan dirinya sebagai salah seorang yang ingin mengetahui secara lebih mendalam hal ikhwal mengenai tingkah laku sesama manusia.

(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

oooOooo

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.