Pavlov dan Sleep Studies.

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (55)

Pendapat-pendapat lain yang penting ialah berhubungan dengan dikemukakannya obat-obat halusinogenik atau psikotomimetik. Oleh beberapa penyelidik tertentu khasiat dari pada zat-zat itu dapat memberikan penjelasan tentang proses terjadinya gangguan jiwa schizophrenia. Mereka sangat terkesan karena khasiat . . . .
Because of the technical difficulties often associated with the amplification of these minute potentials it has been said that every potential recorded with the electro-enchephalograph should be considered an artifact until proven other wise”.

Selanjutnya dapat dilihat di:

http://dryuliskandar.wordpress.com/2010/06/13/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-55/

Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (54)

Bagi keperluan tinjauan ilmu psikiatri sesuatu yang menarik perhatian ialah pasal “percobaan seorang ahli faal untuk memasuki bidang keahlian ilmu psikiatri”, yang ditulis oleh Pavlov dan yang membicarakan persoalan mengenai schizophrenia. Secara konsekwen Pavlov mengadakan diskusi tentang hebefrenia (sebagai seorang ahli faal) dan berdasarkan doktrin ilmu faal pula, akhirnya masalah hebefrenia ini dijelaskannya semata-mata ditinjau dari sudut keahliannya.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Berbagai keahlian lain mencoba masuk kebidang psikiatri, khususnya schizophrenia dan atau gangguan psikotik lainnya. Pada awalnya para ahli ilmu faal (fisiologi), yang memang dalam mempelajari otak (orang sehat) dan otak yang terganggu, tentunya ada yang salah(patyologis) secara ilmu faal di otak. Akan tetapi sayangnya sampai sekarang, faal otak hampir dikenal oleh berbagai ahli, tetapi kelainan secara fisiologi, gangguan psikiatri belum menunjukkan jalan yang jelas. Ilmu faal dekat dengan ilmu farmakologi, yaitu ilmu dimana obat dapat merubaah proses fisiologik, dan dengan didapatkannya obat seperti CPZ dan Haloperidol, untuk gangguan psikotik, Diazepam untuk gangguan anxietas, serta imipramin untuk gangguan depresi, maka pendekatan biologic dari gangguan psikiatrik mulai muncul. Pada awalnya para ahli clinical pharmacology, berkumpul untuk membicarakan ilmu baru yang dinamakan psikofarmakology ditahun 1970-an. Ilmu ini berkembang dari ibu pharmacologi. Sayangnya para ahli pharmacology tidak tertarik pada bidang ini, maka beberapa ahli psikiatri dan psikolog melanjutkan perkembangan ilmu ini menjadi ilmu (neuro)-psiko-farmakologi. Adanya ilmu ini menumbuhkan minat para psikolog dan psikiater untuk lebih mempelajari bidang psikiatri, dengan dasar biologic-medik, maka berkembanglah ilmu yang dinamakan psikiatri biologic ditahun 1970-an.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Paham-paham dari Pavlov mengenai aktivitas syaraf yang bertaraf lebih tinggi (higher nervous activity) dan yang dianggapnya berpangkal pada paham refleks berkondisi (conditioned reflex), dilanjutkan oleh Popov dan Rokhlin secara konsekwen.

Menurut penulis terakhir itu, maka pendapat-pendapat Pavlov tentang schizophrenia secara patofisiologi dapat disimpulkan dalam beberapa penentuan dasar, yaitu :

1). Schizophrenia terkenal karena memiliki keadaan kelemahan khusus dan fragilitas khusus pada sel-sel kortikal (special weakness ang fragility of cortical cells). Sel-sel itu lekas dilelahkan dan cenderung untuk terjerumus dalam suatu keadaan terhambat (inhibitory state) yang mengakibatkan pelbagai fase inhibitory (atau hypnotik).

2). Inhibisi hypnotik dalam cortex cerebri penderita schizophrenia merupakan suatu mekanisme protektif, karena bermaksud melindungi sel syaraf itu terhadap perubahan-perubahan organik dan kerusakan-kerusakan yang lebih parah.

3). Sifat fungsional protektif dari inhibisi hypnotik dari pada seorang penderita schizophrenia menentukan adanya kesatuan yang menyeluruh dari pada manifestasi-manifestasi klinik schizophrenia baik dibidang fisiologi maupun dibidang patologi serta menjamin kebenaran pendapat, bahwa sifat fungsional protektif itu merupakan suatu tindakan fisiologi untuk pertahanan dan merupakan suatu fenomena psikopatologi secara bersama-sama.

4). Mengenai sifat fungsional dan organik dalam gangguan schizophrenia kita harus tetap kuat, bahwa kedua-dua sifat itu adalah merupakan suatu kesatuan. Disamping itu juga harus diinsyafi, bahwa transisi dari pada sifat fungsional ke sifat organik pada suatu taraf tertentu dalam perkembangan gangguan schizophrenia memang ada ; demikian pula harus diingat akan adanya suatu fase fungsional yang bersifat reversibel.

5). Baik sifat kelemahan dari sel-sel syaraf kortikal penderita schizophrenia, maupun kecenderungan mereka untuk terjerumus dalam suatu keadaan terhambat (inhibitory state) menurut Pavlov mungkin terjadi atas dasar keadaan berkondisi (conditioned). Hal itu disebabkan karena adanya suatu auto intoxikasi yang sifatnya spesifik (specific character).

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Psychopharmacology merupakan disiplin baru dalam bidang kedokteran. Walaupun gangguan psikiatri telah dikenal sejak 2500 tahun yang oleh bapak kedokteran Hippocrates, akan tetapi pengobatan gangguan psikiatri secara ilmiah barulah dimulai tahun 1960-an, Setelah Chlorpromazine dan Haloperidol ditemukan untuk gangguan psikotik, Diazepam dan chlordiapoxide untuk gangguan anxietas, Imipramin dan amitryptylin untuk gangguan depresi, serta Lithium untuk gangguan manic (mood stabilizer).
Setelah ditemukan obat-obat anti-anxiety, anti-depressant, anti psychotic kemudian ada kelas baru yaitu mood stabilizers, cognitive enhancers (obat yang memperbaiki / meningkatkan fungsi memori) yang semuanya didapatkan pada awalnya bukan atas dasar penelitian, akan tetapi atas observasi klinis para psikiater andal ( base on serendipitous observation). Tidaklah heran bahwa clinical- psychopharmacology terutama didominasi oleh para klinikus psikiater yang memperdalam bidang, bio-medik, immunologic, endokrinologik dan famakologik, malahan di AS dan Inggris banyak psycholog yang menjadi ahli psycho-pharmacology.
Efektivitas obat-obat psychopharmacology mengakibatkan para psikiater mempelajari dasar-dasar biologi dari berbagai gangguan mental, sehingga muncullah ilmu baru yaitu psikiatri biologic (The efficacy of these agent lead to biological basis of psychiatric disorders and born the new science which we called biological psychiatry)
Dengan demikian ilmu ini menjadi complex, melibatkan berbagai disiplin ilmu diantaranya psikology, psychiatry, neurology, immunology, endocrinology, bio-medic dan pharmacology. ( Psychopharmacology is multi-disciplinary field, it involves the science of psychology, psychiatry, neurology, immunology, endocrinology, bio-medic and pharmacology).
Psychopharmacology pada dasarnya menerangkan bagaimana obat psikopharmaka bekerja, mengapa bekerja hanya ditempat itu, kapan mulai bekerjanya dan kapan berakhirnya kerja obat, dan pada siapa obat itu sebaiknya diberikan (Psychopharmacology explain how drug work, why, when and to whom ).
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Nyata benar, pendekatan fisiologi dan farmakologi dari pada pemikiran yang dikemukakan diatas. Hal yang demikian pula dikemukakan dalam pendapat-pendapat tertentu mengenai psikofarmakologi dan tentang cara-cara kerja masing-masing zat farmakologi.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Beberapa bidang lain yang juga mempengaruhi psikiatri adalah bidang Sleep (tidur), mimpi (dreams)

TEKNIK PENELITIAN TIDUR DENGAN E.E.G. (Sleep study ) I

“Because of the technical difficulties often associated with the amplification of these minute potentials it has been said that every potential recorded with the electro-enchephalograph should be considered an artifact until proven other wise”.
Gibbs States: “The prerequisites of an EEG specialist (and EEG sleep specialist) are patient, tactfulness, manual dexterity and emotional stability, good intelligence and enough interest to keep working and learning”.
Indeed, it is testimony to the accuracy and judgment of Dement and Kleitman (1957) that their description of sleep stages has proven useful in a many decade of voluminous research by hundreds of investigators without requiring major modification.
Research utilizing the Dement-Kleitman criteria for scoring sleep stages has firmly established the fact, first noted by Loomis, Harvey and Hobart (1937), that sleep is not a steady state and that the sleep stages follow a fairly orderly cyclic pattern. While knowledge of the significance of each stage of sleep is incomplete, specific physiological and behavioral correlates of the various stages have been found. These and other correlates may eventually provide more meaningful descriptions of sleep than the stages described in the following section which emphasizes the EEG changes.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Pengaruh Pavlov terbukti amat luas mendalam diseluruh kalangan ilmu psikiatri Uni Soviet. Hal ini ternyata dari penjelasan-penjelasan lebih lanjut yang dikemukakan oleh beberapa penulis dalam pelbagai karangan, antara lain Ivanov Smolensky, Protopopov dan Popov.

ii) Bidang Biokimia

Sebagaimana dapat diduga sebelumnya maka penyelidikan-penyelidikan biokimia menyarankan adanya dasar-dasar biokimia sebagai sebab utama gangguan jiwa schizophrenia. Dalam pemeriksaan-pemeriksaan susunan kimia darah (blood chemistry) dapat disimpulkan, bahwa berhubung dengan banyaknya jenis dan luasnya variasi dari pada hasil-hasil yang diperoleh, tidak ada satu faktor pun yang dapat ditunjukkan sebagai hal yang spesifik berlaku untuk gangguan schizophrenia.

Malahan dapat disimpulkan,bhawa semua hasil pemeriksaan tentang susunan kimia darah penderita-penderita schizophrenia terletak dalam batas-batas variasi normalitas yang sudah dikenal orang sebelumnya.

Menurut laporan Wortis penyelidikan-penyelidikan dibidang biokimia di Uni Soviet berpendapat bahwa schizophrenia itu merupakan sutau “hasil kombinasi dari pada predisposisi herediter, kepribadian dasar dan provokasi-provokasi eksternal”.

Pendapat-pendapat lain yang penting ialah berhubungan dengan dikemukakannya obat-obat halusinogenik atau psikotomimetik. Oleh beberapa penyelidik tertentu khasiat dari pada zat-zat itu dapat memberikan penjelasan tentang proses terjadian gangguan jiwa schizophrenia. Mereka sangat terkesan karena khasiat obat itu, yang mengakibatkan gejala haluisinasi yang kuat sekali, perasaan dan penghayatan derealisasi yang intensif, pikiran-pikiran asosiatif yang melonjat-lonjat sehingga bersifat inkoheren, tetapi tanpa mengakibatkan disoreantasi yang berarti. Berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, maka dikemukakan hypotesa yang sesuai dengan para ahli Uni Soviet, bahwa schizophrenia itu mungkin disebabkan karena suatu kesalahan metabolik.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

TEKNIK PENELITIAN TIDUR DENGAN E.E.G. (Sleep study ) II
Although there is considerable comparability of sleep stage manifestations among various species, the differences are sufficiently great to require a separate scoring system for most species. Even among human subjects, however, there are some individuals or groups whose polygraph recordings may require further description of elaboration than that provided by the stages proposed here.
It is well known that human infants show combinations of polygraphic features which defy classification by the criteria proposed here. A strict adherence to the proposal system would not yield an adequate description of infant sleep. For the designation of specific EEG phenomena, the proposal of the Terminology Committee of the International Federation for Electro-Enchephalo-Graphy and Clinical Neuro-physiology is adopted. The Ten Twenty Electrode System of the International Federation (Jasper, 1958) is adopted for designation of electrode placements.
Stages
Stage W (wakefulness) – The EEG contains alpha activity and/or low voltage, mixed frequency activity. Stage W = Total patient in bed (TIB) – total times of stage I+II+III+IV+REM
Movement Time (MT) – Scoring epoch during which the polygraph record is obscured by movements of the subject.
Stage 1 – A relatively low voltage, mixed frequency EEG without rapid eye movements (REMs).
Stage 2 –A 12-14 cycles per second (cps) sleep spindles and K complexes on a background of relatively low voltage, mixed frequency EEG activity. They have S (sleep spindle) dan minimal of (50%), slow wave activity (Delta wave).
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Juga terdapat suaatu hypotesa, bahwa LSD dapat menimbulkan kelainan- kelainan tingkah laku, oleh karena adanya halangan dan campur tangan (interference) dalam proses fisiologi dari serotonin otak.

Serotonin, bersama-sama dengan acetylcholine dan nor epinephrine, dopamine dianggap tergolong suatu jenis hormon yang juga disebut mediator kimia (chemical mediators) atau neuro-transmitter (NT). Mereka itu dibebaskan pada ujung-ujung sel syaraf. Karena itu terdapat anggapan, bahwa NT bertindak sebagai alat-alat untuk berfungsinya secara normal seluruh sistem syaraf.

Lagi pula, agaknya mereka itu semua mempunyai reaksi yang spesifik, dan dalam keadaan yang tak aktif seolah-olah dapat disimpan (stored away) dalam salah satu bagian partikel kecil dari pada sel. Jika sekarang NT itu dilepaskan atau dibebaskan (released) dari pada bagian partikel sel itu, maka NT itu mengaktifkan membrane sel syaraf secara fisiologi.

Dengan pelepasan itu, maka timbul kemampuan pada sel untuk berexitasi atau berinhibisi, yang merupakan aktivitas sel syaraf (neuron). Oleh karena itu, maka dapat dipahami bahwa ditinjau dari sudut biokimia, fungsi-fungsi otak baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan terganggu, tergantung pada NT itu, dengan semua manifestasinya di bidang tingkah laku (behavior), keadaan afektif, dan emosi maupun dan proses pikir (cognitive).

Secara kasar dapat dipahami pula, bahwa suatu keadaan berkelebihan dari suatu macam NT dapat mengakibatkan hambatan, halangan atau penyelewengan dari pada transmisi impuls-impuls syaraf. Dalam keadaan kebalikannya pun dapat terjadi, bahwa suatu kelebihan dari suatu macam NT lain dapat pula menyebabkan suatu percepatan (akselerasi), sehingga keadaan perangsangan yang berlebihan itu dapat mengakibatkan suatu kekacauan dalam bidang kesadaran.

Jelaslah kiranya, bahwa dengan berpegangan pada landasan biokimia sebagian ahli psikiatri dapat menegakkan suatu cara berpikir dan cara menjelaskan hal-hal tertentu secara orientasi organobiologi. Secara umum dapat dikemukakan, bahwa ada beberapa aliran tertentu dalam mendekati masalah schizophrenia, yaitu :

1). Golongan yang hendak mencari sebab biokimia itu di bidang endokrinologi (gland. pituitaria, gland. thyreoidea, gland Thymus, gland. adrenalis, di cortex dan di medulla, dan pada kelenjar-kelenjar kelamin) golongan ini pada umumnya beranggapan NT, hormone, sel-sel imun saling berinteraksi dengan psyche (nantinya akan timbul ilmu psiko-neuro-immuno-endrokrinologi (YI).

2). Golongan yang hendak mencari sebab biokimia itu pada peristiwa intoxikasi oleh sesuatu zat tertentu, antara lain “taraxein”.

3). Golongan yang hendak mencari sebab di bidang kelainan-kelainan synapsis (hambatan synaptik) dengan segala akibat sekundernya.

iii). Bidang Elektro ensefalografi

Bidang elektro ensefalografi cukup menarik perhatian, juga di Indonesia. Khususnya dalam pendekatan secra organobiologi, soal elektro ensefalografi itu menduduki tempat yang cukup penting. Tetapi, korelasi antara fungsi cerebral abnormal secara elektro ensefalografi, dan gangguan schizophrenia, masih merupakan suatu soal yang belum dapat diselesaikan secara cukup memuaskan.

Ada dugaan, bahwa abnormalitas ensefalografi memang dijumpai dengan frekuensi yang lebih besar dalam golongan penderita schizophrenia dari pada dalam orang-orang yang normal, tetapi sebaliknya pun ada penyelidik-penyelidik yang mengemukakan bahwa kelainan-kelainan itu belum merupakan hal spesifik dank has untuk schizophrenia yang dapat dipegang dalil atau pun kepastian.

Pendapat yang lain, dan yang umumnya lebih positif menyarankan ke arah adanya kelainan organik dalam schizophrenia, disebut-sebut oleh segolongan penyelidik elektro ensefalografi lain.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

TEKNIK PENELITIAN TIDUR DENGAN E.E.G. (Sleep study ) III

Stage NREM (non-REM) – Stages 1, 2, 3, and 4 combined.
Stage REM – A relatively low voltage, mixed frequency EEG in conjunction with episodic REMs and low amplitude electromyogram (EMG).
Sleep Latency (SL)= Time needed by patient from beginning EEG recording till Stage I sleep (minimal stage I is 10 minutes).
Total Sleep Time= Time Spent Asleep (TSA) = time of recording – stage W.
Total time in Bed (TIB) = total time recording (Total Stage W + Stage Sleep + Stage REM).
Sleep Efficiency = Ratio of Total Sleep Time and Total in Bed (TST/ TIB) in %
Primary Insomnia : Difficulty initiating (sleep latency > 10 minutes) or maintaining sleep (Total sleep time < 450 minutes) or nonrestorative sleep for at least 1 month. Clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Penyelidikan yang dilakukan terhadap anak-anak yang menderita schizophrenia cukup menarik perhatian pula, untuk dilaporkan disini. Pada umumnya diperoleh kesan, bahwa sifat ensefalogram mereka itu ada memberikan saran bahwa terdapat komponen organik.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini, dan disebar luaskan melalui blog http://dryuliskandar.wordpress.com/
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: