Neuron otak.

 Neuron otak

Semakin besar stimulusnya, maka dengan sendirinya semakin besar pula responnya, sampai ia mencapai batas-batas kelelahan tertentu. Orang dapat berkata dengan penuh kesungguhan hati dan kebenaran, bahwa reaksi-reaksi reflektorik itu dapat diukur secara kuantitatif. Dalam hal hubungan ini, maka sampai taraf tertentu juga reaksi-reaksi kompulsif, perseveratif dan stereotypik dapat dianggap sebagai reaksi-reaksi reflektorik yang ada hubungan yang erat secara organismik dan biologik. . . .Bila dihitung maka sel neuron tersebut pada anak berumur 15 tahun dan sehat, diperkirakan berjumlah 10 pangkat sepuluh.Mulai umur 30 tahun tiap hari kira-kira 300.000 sel neuron yang rusak yang tidak mungkin diperbaiki kembali. Setelah 50 tahun maka sel neuron tersebut tinggal setengah dari semula, dan pada saat itu proses senilitas mulai berjalan dengan cepat. Gangguan orientasi merupakan gangguan yang jelas terlihat dengan banyaknya sel neuron yang rusak

http://dryuliskandar.wordpress.com/2009/05/24/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-28/

 

 

 

Psikiatri -Kusumanto-Yul Iskandar 28

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI

dan

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

  1. Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini  telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006  dan akan di- bukukan  atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry,   Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan dapat dikutip tanpa izin asal menyebutkan sumbernya
  2.   

 

 

Aktivitas Reflektorik dan Integratif

 

Pada umumnya, aktivitas mental manusia dapat dianggap terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu pertama, kegiatan-kegiatan reflektorik, dan kedua, kegiatan-kegiatan yang bersifat integratif.

 Yang disebut reflek ialah suatu aktivitas atau lebih tepat suatu tindakan yang bersifat prinsipil sederhana dalam mana tidak termasuk unsur pilihan. Oleh karena itu, maka dapat dikatakan bahwa semua kegiatan reflektorik manusia bekerja atas dasar pola “stimulus response”, yang memiliki sifat-sifat sangat besar, dan kadang-kadang mendekati kepastian. Semakin besar stimulusnya, maka dengan sendirinya semakin besar pula respponnya, sampai ia mencapai batas-batas kelelahan tertentu. Orang dapat berkata dengan penuh kesungguhan hati dan kebenaran, bahwa reaksi-reaksi reflektorik itu dapat diukur secara kuantitatif. Dalam hal hubungan ini, maka sampai taraf tertentu juga reaksi-reaksi kompulsif, perseveratif dan stereotypik dapat dianggap sebagai reaksi-reaksi reflektorik yang ada hubungan yang erat secara organismik dan biologik.

 

(Kusumanto  Setyonegoro 1966)

 

Didalam reaksi biologic terdapat ber- macam reaksi reflektorik. Yang sederhana adalah yang sering dikerjakan oleh dokter yaitu reflex pada lutut  dimana dokter memukulkan pada lutut akan timbul gerakan dari kaki. Ini melibatkan  reflex sederhana yang hanya memerlukan syaraf aferen  di  tendon otot  lutut , ke medulla spinalis, dan syaraf (eferen) motorik, dari medulla spinalis ke otot-otot di kaki. Pemeriksaan ini bertujuan adalah melihat apakah ada kerusakan  dari syaraf aferen, pusat di medulla spinaslis, dan syaraf eferen.

 

Reaksi biologik kedua adalah reaksi reflektorik, tetapi sudah complicated dengan membawa otak manusia.

Otak manusia bertanggung jawab terhadap adanya kultur, kepercayaan, kesadaran, bahasa, dan ingatan, yang semuanya ini hanya mungkin ada pada suatu susunan otak yang berorganisasi rapi.

 

Pada dasarnya otak adalah mesin, suatu mesin yang demikian komplexnya melebihi dari komputer yang termodern sekalipun. Komputer yang paling komplexpun adalah ciptaan otak-otak manusia, walau bagaimana optimistpun, menurut pandangan kami manusia tidak akan mungkin membuat komputer yang melebihi otak manusia. Akan tetapi sebaliknya tanpa komputer maka kita tak akan mengerti bagaimana kerja dari otak tersebut.

 

Untukj mengerti kerja otak maka beberapa pengertian dalam bidang kimia, fisika, molekular biology, genetika, farmakologi, matematika, dan filsafat perlu dipelajari lebih dahulu. Otak sendiri sebenarnya terdiri dari sel-sel yang berdiri independent, dalam arti mempunyai metabolisme sendiri yang dinamakan neuron.

 

Bila otak dilihat sebagai sel  yang dinamakan  neuron. Bila dihitung maka sel neuron tersebut pada anak berumur 15 tahun dan sehat, diperkirakan berjumlah 10 pangkat sepuluh.Mulai umur 30 tahun tiap hari kira-kira 300.000 sel neuron yang rusak yang tidak mungkin diperbaiki kembali. Setelah 50 tahun maka  sel neuron tersebut tinggal setengah dari semula, dan pada saat itu proses senilitas mulai berjalan dengan cepat. Gangguan orientasi merupakan gangguan yang jelas terlihat dengan banyaknya sel neuron yang rusak.

Bila sel tersebut kita besarkan maka akan terlihat sel neuron yang mempunyai soma (body) di mana  terdapat hubungan dari neuron yang lain yang dinamakan synaps, juga terdapat cabang-cabang dari sel yang dinamakan dendrit, dan suatu cabang khusus yang dinamakan axon atau serat saraf. Impuls biasanya datang pada soma atau dendrit, dan kemudian akan diolah oleh soma dan akan diteruskan melalui axon ke neuron lain. Selain itu didapatkan juga Glia atau satelit sel yang merupakan penjaga dari sel neuron, glia tersebut berfungsi sebagai pemberi makan, pembuang zat-zat sampah dsan menyeleksi zat-zat yang dapat masuk sel neuron dari pembuluh darah kapiler. Neuron selalu mendapat hubungan dari berpuluh-puluh neuron lain melalui suatu mekanisme yang khusus yang dinamakan synap.

Tempat yang terpenting dari komunikasi antar neuron dinamakan synap (menurut istilah dari Sherrington), termasuk dalam synap tersebut adalah knob, space (celah), aparatus Prasynaptik, aparatus pascasynaptik. Aparatus prasynaptik adalah terminal dari axon lain, sedangkan apparatus pasca synaptic adalah membran dari dendrit atau soma sel neuron di mana hubungan yang khusus terjadi. Pada synaps inilah transmisi pesan-pesan diberikan pada neuron lain dengan cara kimiawi.

Dengan melihat bahwa hampir seluruh membran soma dan dendrit dikelilingi oleh synap-synap dari neuron lain, maka jelaslah bahwa neuron tersebut terus-menerus mendapat pemboman dari synap-synap itu. Untunglah bahwa tidak semua synaps mengakibatkan terjadinya aksi elektrik, ada synap yang justru menghambat aksi elektrik dari neuron, synap ini dinamakan inhibisi synaps. Sedangkan yang menyebabkan aksi elektrik pada neuron dinamakan excitasi synap. Jadi hanya ada dua macam synap saja yang diketahui yaitu inhibisi synap dan excitasi synap. Secara electron microscope kita melihat  pada excitasi synap terdapat vesicle-vesicle yang berbentuk bulat, sedangkan inhibisi  synaps kita melihat vesicle-vesicle yang berbentuk oval (elips). Selain itu pada sel neuron kita dapatkan struktur yang dinamakan organelle, yang terdiri dari mitochondria, tempat untuk menimbulkan energi, ribosome tempat protein yang spesifik disintesiskan, vesicle atau granule tempat penyimpanan dari suatu zat kimia khusus yang dinamakan neurotransmitter.

 Setiap impuls yang datang pada neuron akan diisyaratkan dengan adanya aktivitas listrik pada neuron. Impuls yang datang bila sangat kecil maka tak akan mengakibatkan aktivitas listrik pada sel neuron akan tetapi bila impuls mencapai batas tertentu, baru neuron tersebut akan mengakibatkan aktivitas listrik. Ternyata walaupun impuls makin besar, aktivitas listrik tetap, tetapi frekwensinya bertambah. Intensitas dari impuls dikode dengan banyaknya frekwensi..

Bila  rangsangannya lemah, tidak akan menimbulkan aktivitas listrik pada neuron dari reseptor, akan tetapi bila impuls makin besar, maka frekuwensi aktivitas listrik makin bertambah.

 

Inilah prinsip dasar dari bahasa neuron, impuls yang lemah tidak akan menimbulkan aktivitas elektrik, dan oleh karenanya tidak dikenal oleh neuron. Bila intensitasnya bertambah maka aktivitas listrik mulai ada, dengan besarnya muatan listrik yang sama, sedangkan intensitas dari impuls selalu dikode dengan banyaknya frekwensi. Inilah bahasa sejati dari otak secara universil, di mana hanya ada aktivitas listrik dari sel-sel neuron, yang berkomunikasi antara neuron yang satu dan neuron yang lain. Prinsip dasar inilah yang dikemukakan oleh Adrian pada tahun 1932 sehingga dia mendapat hadiah Nobel atas penemuannya itu.

Dari penyelidikan Huxley, berkembanglah pengetahuan mengenai impuls syaraf, dan ternyata membran serat syaraf dan neuron merupakan bagian yang paling penting dari segala aktivitas impuls syaraf tersebut. Dan  dapat dikatakan sebagai reaksi refkex yang rumit, karena membawa- pusat-pusat komputasi di otak, akan tetapi pada umumnya reaksinya sama saja, yaitu reaksi yang mempunyai pola yang sama dengan stimulus yang sama.

 

Berbagai pendekatan Psikoanalisa, reflex bersyarat dari Pavlov, sebenarnya  mempelajari pola-pola reflex yang rumit, akan tetapi bila diuraikan dengan teliti sebenarnya sederhana dan mudah dipahami. Mengapa seorang anak, benci apada ayahya, atau anak wanita membenci ibunya dan berbagai pola lainnya  dapat ditelusuri pola-pola reflextorik ini.

 

(Yul Iskandar 2006)

 

 

Disamping kegian reflektorik, manusia juga dapat mengikhtiarkan aktivitas mental yang tidak diketahui sifat-sifat reflektoriknya. Hal itu misalnya dapat kita jumpai apabila manusia dihadapkan untuk memastikan apresiasinya, terhadap suatu seni lukisan yang banyak sedikit mengandung ajakan abstrak (abstratc appeal)  atau terhadap aktivitas politik . Dalam hal yang demikian itu, maka yang terpacu dalam aktivitas mental manusia itu bukanlah “refleks atau reaksi pertama”. Yang terpacu dalam diri manusia itu justru yang sebaliknya, yaitu aktivitas yang “reflektif”. Aktivitas ini bermaksud untuk memacu individu agar ia menjalankan instropeksi dan pemikiran tentang makna, arti atau nilai-nilai (terutama yang abstrak) dari pada pelbagai pengalaman, kesan atau fakta yang dihadapinya. Ia akan mengolah dalam dirinya pelbagai pertanyaan yang bersifat intelektual, emosional dan mungkin juga yang bercorak spiritual dan existensial. Dan pada taraf kemudian dari pada itu, manusia yang mengerjakan aktivitas reflektif itu, akhirnya akan menjalankan ikhtiar integrasi. Dalam proses integrasi ini, dalam mana juga termasuk usaha-usaha organisasi, asosiasi dan koordinasi, manusia mencoba untuk mempersatukan segala pikiran dan perasaannya itu menjadi suatu fungsional, yang biasanya bertaraf lebih tinggi (biasanya disebut bertaraf lebih integratif) dari pada masing-masing unsur pikiran dan perasaan itu.

 

(Kusumanto  Setyonegoro 1966)

 

Orang-orang dalam posisi yang kuat dan enak  di bidang politik akan menggunakan segenap potensi  cognitif dan inteligensi mereka untuk mempertahankan posisi.  Mereka akan menjaga daya tarik mereka sendiri pada basis jangka pendek bahwa hal tersebut penting untuk menyelamatkan hidup mereka.  Orang-orang dalam posisi yang kuat dan enak  di bidang politik tidak akan mau melakukan inisiatif baru , karena hal itu adalah suatu resiko, dan harus dihindari kecuali bila tak ada jalan lain atau benar-benar menguntungkan dirinya. Dalam politik orang-orang dengan  tingkat  inteligensi  rata-rata  biasanya menggunakan inteligensi mereka untuk menyerang, mengkritik dan menyalahkan orang lain. Hal ini mudah  dikerjakan dan resikonya juga rendah.

 

Sebaliknya  banyak sekali orang dengan inteligensi tinggi, menjauhi bidang politik dan hanya bersikap  pasif.  Memberikan suara dan ikut pemilihan umum  adalah kontribusi yang  jauh  lebih dari cukup untuk  ukuran mereka. Protes,  tekanan dan ancaman  politik merupakan  kebiasaan politik  pada  pemain yang mempunyai inteligensi rata-rata atau rendah. Pada kenyataannya banyak sistem politik sangat statis walaupun banyak energi yang digunakan.  Hal itu disebabkan pada umumnya  para politisi hanya mencari perbedaan  bukan  mencari persamaan diantara mereka. Hal ini dapat di-analogkan sebagai  dua orang yang mempergunakan  kekuatannya untuk menarik  tali pada arah yang berlawanan.  Banyak  energi yang  digunakan.  Tetapi tiada hasil yang didapat. Banyak  dari sistem politik  membiarkan  hambatan – hambatan .  Hambatan utama  dari  perubahan kognitif adalah masih adanya orang orang lama  yang konservatif,  dalam sistem politik yang progresif  dan modern. Hal ini dapat dianalogkan   seperti  anda menghidupkan  mesin  mobil dan mencoba untuk menambah kecepatannya. Mobil tersebut akan bergerak tetapi sangat lambat. Lama  anda baru  sadar, bahwa anda membiarkan  rem-tangan anda  masih ‘on’.

 

Banyak yang berasumsi bila banyak mengeluarkan energi dan bekerja keras, efeknya pasti menghasilkan atau bermanfaat. Kenyataan tidak demikian, banyak yang  mengeluarkan energi dan bekerja keras, tapi hasilnya sia-sia saja.  Energi hanya akan menghasilkan suatu product yang bermanfaat  apabila dikoordinasikan dan diatur dalam tindakan yang terencana. Dari kekuatan politik besar, bisa  saja menjadi tidak berdaya bila tidak diatur dengan benar,  tetapi sebaliknya kekuatan politik yang kelihatan kecil dapat pula sebagai kekuatan  yang maha dahsyat.   Hal ini kita analogkan  dari suatu besi besar  kemudian pecah  menjadi serpihan besi  dan  ribuan magnet-magnet kecil. Semua magnet kecil ini mempunyai arah kutub yang sembarangan,  efek magnetnya  menjadi  nol, karena  magnet tersebut saling menarik lawannya. Jika semua serpihan besi kecil dapat diarahkan kutubnya didalam petunjuk yang sama  maka serpihan besi tersebut mendapatkan kekuatan  magnet yang luar biasa.

 

(Yul Iskandar 2006)

 

 

Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa aktivitas mental yang bersifat reflektif itu hanya sedikit sekali terikat pada biologi organismenya tetapi lebih cenderung untuk mencerminkan hakekat existensinya. Maka oleh sebab itu pula, tidak usah pencerminan existensial itu cocok atau pun sesuai dengan yang secara sensorik ditangkapnya, dan dengan apa yang secara statistik ditegakkan dalam lingkungannya, melainkan merupakan sesuatu yang bersifat fungsional dan individual.

(Kusumanto  Setyonegoro 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: