Prinsip-prinsip keluarga nuklear (nuclear family)

Prinsip-prinsip keluarga nuklear (nuclear family)

 

Dalam menelaah struktur intrafamilial keluarga nuklear nampak kecenderungan bahwa relasi-relasi di dalam keluarga itu tumbuh secara lebih kuat dan intensif. Hal ini khususnya nampak terutama antara anak (anak-anak) dan orangtuanya, selanjutnya di . . . . . .

http://dryuliskandar.wordpress.com/2009/04/07/prinsip-prinsip-keluarga-nuklear-nuclear-family/

 

 

 

 

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (21)

 

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

 

 

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

psikiater,

Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt

mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI                 

dan

 Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Direktur Institute for Cognitive Research.

 

Catatan.

Tulisan  adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan   pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu,  naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006.  Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006,  dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology,  Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan  dalam bentuk seperti ini, dan 

Tulisan ini  bisa diperbanyak tanpa izin asal  menyebut sumbernya.    

 

 

 

Prinsip-prinsip keluarga nuklear (nuclear family)

 

Dalam menelaah struktur intrafamilial keluarga nuklear nampak kecenderungan bahwa relasi-relasi di dalam keluarga itu tumbuh secara lebih kuat dan intensif. Hal ini khususnya nampak terutama antara anak (anak-anak) dan orangtuanya. Nampak benar bahwa antara anak dan orangtua terdapat suatu hubungan yang sangat “dekat”, baik dalam arti kata ukuran jarak fisik maupun dalam arti kata emosional.

(Kusumanto setyonegoro, Disertasi 1966)

 

Kusumanto Setyonegoro dilahirkan ditahun 1924, 40 tahun sebelum disertasi itu ditulis. Dia dilahirkan di Semarang dari keluarga priyayi Jawa, yang tentunya pengaruh kebudayaan Jawa sangat berpengaruh sekali pada  beliau. Dia tentu dibesarkan dari keluarga extended family (keluarga besar), yang pada saat itu masih berbahasa Jawa atau Belanda. Bahasa Melayu atau bahasa Indonesia belum dikenal benar. Sehingga Bahasa ibu bisa bahasa Jawa atau Bahasa Belanda.

 

 Di tahun 1920-an  bahasa resmi adalah bahasa Belanda, akan tetapi  yang dipakai di Batavia adalah adalah bahasa Melayu, sedangkan didaerah memakai bahasa daerah masing-masing,  karena  bercampur aduknya suku-suku bangsa di  Jakarta. Ada orang Madura, ada orang Jawa, Minang , Minahasa, dll. Batavia di tahun akhir 20-an telah dipenuhi oleh perantau-perantau dari seberang. Hal ini dapat dimaklumi karena tidak banyak orang Belanda terpelajar yang mau tinggal di Indonesia, kebanyakan orang Belanda adalah serdadu atau pedagang. Hal ini berbeda dengan orang Portugis di Timor Timur yang banyak datang dan mengawini bangsa pribumi, atau Bangsa Spanyol di Filipina. Indo-indo Belanda di Indonesia tidak banyak atau tidak mepunyai pengaruh banyak, malahan mereka banyak kehilangan indentitas diri.

 

Indo Belanda pada tahun dua puluhan, kebanyakan adalah ayah Belanda sebagai serdadu, atau para mandor, sedang ibunya adalah pembantu atau Nyai. Menjadi orang Indo pada tahun 20-an, bukan hal yang membanggakan. Punya kulit putih, diejek sebagai Bule, suatu penghinaan  dan ejekan bukan kebanggaaan. Menjadi orang kulit sawo matang adalah suatu kebanggaan. Orang – cina peranakan atau Indo-Belanda sering berjemur di matahari supaya kulitnya jadi sawo matang.

 

Lain halnya Indo-Spanyol  di Filipina, orang Indo-Spanyol  merupakan elite group yang sangat berpengaruh baik dari segi politik maupun dari segi ekonomi. Begitu juga indo-indo di Timor Timur (dengan orang Portugis), mereka sangat berpengaruh dan jadi panutan. Di Indonesia Indo-indo Belanda, tidak dipercaya oleh orang Belanda, dan dimusuhi oleh orang pribumi, sehingga hidupnya di-awang-awang. Banyak yang malu mengaku Belanda Indo. Mereka juga bukan orang-orang kaya, pengaruhnya pada politik dan ekonomi pribumi kalah oleh pangeran-pangeran dan raja-raja pribumi, orang-orang Arab, China dan India.

 

Para pemuda (asli pribumi) yang terdidik, karena politik Ratu Wihelmina di awal 1900-an, ketika tahun 1920-an menjadi sekelompok elite Group. Diantara yang muncul  adalah nama-nama Soekarno, Hatta,  Semaun, Cokroaminoto, Sutan Mohamad Zain, Sutan Takdir Alisyahbana,  Zainuddin Rasad, Yamin dll. Syahir dan Tan Malaka pada saat itu belum terkenal, dan agaknya tak pernah dikenal  oleh rakyat. Hanya orang tertentu  yang mengenal dia.

 

Perkataan Indonesia sebenarnya sudah dilemparkan oleh peneliti Inggris G.R. Logan, sekitar tahun 1850-an, yang mengemukakan (H)Indo(ia) – Nesia(os)  (Nesoss: artinya kepulauan), Walaupun telah  ada, istilah Indonesia, akan tetapi  kebanyakan orang menyebut, Hindia-Belanda, atau East –India. Istilah  Indonesia  mulai dipopulerkan  oleh anak-anak muda yang nasionalis, akan tetapi konsep Indonesia saat itu  masih mengambang. Satu hal yang mereka ketahui adalah yang berkuasa, yang dipertuan agung adalah orang Belanda yang tinggal di Batavia. (Diambil dari His Story of Sutan Iskandar  1900-1974)

 

Yul Iskandar, 2006.

 

Hal ini sangat menunjang terciptanya suatu situasi yang eksklusif, yang bermaksud menandakan bahwa tiada ada orang lain kecuali mereka itu saja yang diartikan dengan keluarga dan yang berada di sekitar lingkungan itu. Dengan sendirinya, maka sekali eksklusifitas itu sudah tercipta, maka akan semakin “dekat” dan semakin”intensif” pula hubungan-hubungan antara anak dan orangtuanya.

 

Walaupun seolah-olah yang tersebut diatas itu dikemukakan sebagai suatu dalil  ini tak berarti bahwa tiap-tiap keluarga nuklear  itu akan pasti memperlihatkan  keadaan serupa itu. Harus diakui, bahwa cukup banyak keluarga yang struktur fisiknya termasuk keluarga nuklear, akan tetapi dimana orang tuanya ‘ dingin  dan jauh’ serta bertindak ‘non-exclusif’ terhadap anak-anaknya dalam hubungannya dengan mereka.

 

Kondisi yang demikian itu merupakan suatu malapetaka bagi si anak oleh karena dalam keluarga nuclear itu biasanya  tidak ada  orang dewasa lainnya yang dapat mengadakan hubungan hangat dan dekat dengan anak itu , sebagaimana pada prinsipnya diharuskan.

 

Untunglah bahwa dalam kebanyakan keluarga nuklear ada terdapat situasi dimana orangtua benar-benar mengusahakan hubungan yang mesra hangat dan erat dengan anak-anak mereka. Setidak-tidaknya orang-orang tua itu cukup yakin bahwa hubungan yang mesra itu merupakan unsur yang penting dalam pembinaan harmoni keluarga. Akan tetapi juga harus ditandaskan bahwa justru hangat dan tidaknya dan erat tidaknya hubungan orangtua dengan anak menjadi inti utama dari pada kekuatan atau kelemahan keluarga nuklear itu.

 

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

 

 

Perubahan cepat yang terjadi di masyarakat modern sekarang ini menyebabkan semakin sulit untuk mengetahui bagaimana mempersiapkan anak menyongsong kehidupan masa depan mereka.  Masa depan seolah tidak dapat digambarkan.  Masa depan digambarkan sebagai sesuatu yang kabur, kualitatif, atau tidak sistematis.  Masa depan sebagai suatu lukisan abstrak yang kita sendiripun pelukisnya tidak tahu artinya.  Padahal manusia menuntut sesuatu yang pasti, jelas dan harus bagus. 

 

Arti pendidikan adalah mengubah tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik.  Dampak ketidaktahuan orangtua (nuclear)  akan arti pentingnya pendidikan adalah minimnya pemberian stimulus yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik anak.   Sebagian  beranggapan bahwa pendidikan sama dengan persekolahan, apabila anak-anak sudah rajin sekolah, berarti mereka telah meningkat pendidikannya.  Bagi anak-anak yang mampu secara ekonomi biasanya telah ditanamkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian mereka akan mampu berperilaku sesuai dengan tingkatan pendidikannya. Oleh karena itu ketika mereka dewasa kemungkinan besar mereka dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan norma-norma yang ditanamkan.

 

Tetapi barangkali tidak terjadi perubahan persepsi.  Artinya pada usia dewasa mungkin saja anak-anak dari golongan kurang mampu berubah secara realita, menjadi orang dewasa yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang bagus, tetapi persepsinya tentang pendidikan dan cara mendidik anak tidak berubah. Perilaku tersebut dilakukan bukan karena mereka tidak mau mengubah persepsi melainkan mereka tidak tahu karena tidak ada yang menanamkan norma-norma tersebut. …”(Disarikan dari Buku PAUD = Pendidikan Anak Usia Dini oleh Hj. Nurlaila NQM Tientje)

Yul Iskandar, 2006.

 

Dalam pada itu dapat pula kita bayangkan bahwa variasi tentang erat atau hangatnya hubungan orangtua-anak itu sangat banyak kemungkinan-kemungkinannya. Dapat diumpamakan adanya hubungan erat antara Ibu dengan seorang anak laki-laki, sedangkan hubungan Ayah dengan anak tadi itu sama sekali berlainan. Atau adanya hubungan antara orangtua dan anak yang bersifat ambivalent, indifferent atau malahan diliputi suasana kecurigaan ataupun permusuhan.

Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966.

 

Hubungan yang erat antara anak laki-laki dan ibunya  (yang dinamakan oedipus complex), banyak diceritakan dalam legenda  misalnya legenda Sangkuriang, legenda Oedipus Rex, Hamlet. Sedangkan hubungan yang erat antara ayah dan anak wanita dinamakan electra  complex. Masalah ini banyak dibicarakan dalam psikoanalisis baik Freud maupun Jung.

 

Yul iskandar 2006

 

 

Masing-masing situasi relasi orangtua dan anak itu semuanya dapat menimbulkan akibat-akibat potensial atau aktual yang beraneka warna pula. Juga ada akibat-akibatnya yang tersendiri apabila orangtua dan anak itu terlampau tandas atau terlampau sering mendengung-dengungkan atau menganjur-anjurkan kepada siapa pun yang ingin mendengarnya, bahwa “pastilah anak mereka itu akan dapat memenuhi segala tugas dan tanggung jawabnya seperti yang patut dan seharusnya diharapkan oleh orangtua dari pada seorang anaknya yang baik”.

 

Yang disebutkan terakhir itu merupakan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi dalam lingkungan keluarga nuklear dan yang bersifat agak negatif. Hal-hal yang demikian itu merupakan sasaran-sasaran yang penting bagi ikhtiar kesehatan jiwa terutama ditinjau dari sudut preventif.

 

Sebab dengan pengetahuan tentang kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi dalam masa datang , dapat diadakan tindakan-tindakan  tertentu  yang bersifat koreksi atau kompensasi yang sehat, sehingga sikap-sikap yang kurang optimal tadi itu dapat dirubah secara lambat-laun menjadi sikap-sikap yang lebih kreatif dan lebih optimistik.

 Kusumanto Setyonegoro, disertasi  1966

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: